AI Diprediksi Jadi Mesin Pertumbuhan 'Data Center' Indonesia
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) diperkirakan masih menjadi mesin utama pertumbuhan industri data center Indonesia dalam beberapa tahun mendatang. Meningkatnya kebutuhan komputasi untuk melatih model AI hingga ekspansi layanan cloud akan terus menarik investasi baru ke sektor pusat data nasional.
Sales Director PT Vertiv Indonesia, Mario Leonardo Tjandra mengatakan tren tersebut diperkirakan akan terus berlanjut setidaknya selama 4-5 tahun ke depan. Perkembangan industri data center tidak lagi hanya ditopang kebutuhan penyimpanan data konvensional, tetapi semakin bergeser ke komputasi berkapasitas tinggi untuk AI.
Baca Juga
PLN Pasok Listrik Terbesar untuk 'Data Center' Digital Edge di Cikarang, Capai 2x725 MVA
"Perkembangan data center di Indonesia tetap akan di-drive oleh AI," kata Mario dalam office visit Vertiv Indonesia, perusahaan teknologi infrastruktur digital global asal Amerika Serikat (AS) yang dihadiri Investortrust di Jakarta, Selasa (14/7/2026).
Ia menjelaskan, fase pertama pertumbuhan tersebut berasal dari kebutuhan membangun large language model (LLM), yaitu model bahasa berukuran besar yang menjadi fondasi berbagai aplikasi AI generatif. Pada tahap ini, kebutuhan terhadap graphics processing unit (GPU) dan daya listrik sangat tinggi karena sistem harus memproses data dalam jumlah besar untuk pelatihan atau AI training.
Setelah proses pelatihan selesai, industri diperkirakan memasuki fase berikutnya, yakni AI factory. Pada tahap ini perusahaan mulai mengomersialkan model AI yang telah dikembangkan, termasuk menjual kapasitas komputasi maupun token AI kepada pelanggan.
Menurut Mario, setelah AI factory berkembang, permintaan akan bergeser ke tahap monetisasi melalui berbagai aplikasi AI yang dikembangkan oleh perusahaan dari berbagai sektor industri. "Jadi itu akan terus men-drive data center," ujarnya.
Mario menilai penggunaan AI tidak berhenti pada perusahaan teknologi. Berbagai sektor industri akan menjadi pengguna layanan AI sehingga kebutuhan terhadap infrastruktur digital juga ikut meningkat.
Perusahaan memiliki dua pilihan untuk mengembangkan AI, yakni membangun data center sendiri atau memanfaatkan layanan cloud. Kedua model tersebut sama-sama menciptakan peluang bagi industri data center.
Apabila perusahaan memilih membangun infrastruktur sendiri, permintaan terhadap enterprise data center akan meningkat. Sebaliknya, jika menggunakan layanan cloud, penyedia cloud tetap membutuhkan fasilitas colocation yang berada di Indonesia. "AI benar-benar nge-drive," katanya.
Baca Juga
Gandeng Arm Asal Inggris, Pemerintah Akan Perkuat Ekosistem AI untuk Tarik Investasi Data Center
Perusahaan Tambang dan Migas
Selain perusahaan teknologi, Vertiv juga mulai melihat peningkatan permintaan dari perusahaan pertambangan dan minyak serta gas bumi yang membutuhkan fasilitas komputasi di lokasi operasional.
Menurut Mario, sektor tersebut membutuhkan pemrosesan data sedekat mungkin dengan area produksi karena keterbatasan infrastruktur telekomunikasi di lokasi tambang maupun lapangan migas. "Customer kita yang dari mining lumayan banyak, oil and gas juga lumayan banyak," ujarnya.
