Jangan Ulangi, Membuat Bandara Internasional Kertajati Mati Suri
JAKARTA, investor.id - Niat baik pemerintah untuk membangkitkan kembali Bandar Udara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati memang sudah seharusnya. Namun, kalau sekadar menetapkan sebagai pengganti Bandara Husein Sastranegara Bandung dalam melayani penerbangan niaga mulai 29 Oktober 2023, mungkin tak sampai menunggu beberapa bulan berganti akan kembali mati suri.
Pasalnya, meski sudah lima tahun berlalu sejak diresmikan Presiden Joko Widodo, tak nampak upaya serius pemda Majalengka dan sekitarnya maupun Pemprov Jawa Barat untuk mempromosikannya bandara yang merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN) tersebut. Di sisi lain, pemda juga tak terlihat memberdayakan keberadaan bandara terluas kedua di Indonesia ini untuk mengangkat ekonomi daerahnya.
Selain acap terjadi proyek nasional diabaikan oleh pemerintah daerah setempat, juga terkesan kurang koordinasi dan harmonisasi di tingkat pemerintah pusat sendiri. Hal ini mengingat Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) yang juga merupakan PSN justru semakin memudahkan akses orang Bandung ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta, menjauhkan dari cinta Bandara Kertajati.
Bandara internasional di Kabupaten Majalengka itu menghabiskan uang negara Rp 2,6 triliun – sekitar 98% dari APBN dan sisanya APBD –, yang dibangun pada 2015 hingga 2017. Alasan proyek diadakan antara lain untuk mengantisipasi overcapacity Bandara Internasional Husein Sastranegara di Bandung.
Sebagai pengganti Bandara Husein Sastranegara, BIJB Kertajati memiliki kapasitas jauh lebih besar. Dibangun di atas lahan seluas 1.800 ha, BIJB Kertajati bisa melayani 5,6 juta-12 juta penumpang per tahun (32.877 penumpang per hari), di tahap pertama. Kapasitasnya pun semula direncanakan akan dinaikkan secara bertahap, hingga menjadi 29,3 juta lalu lintas penumpang, dengan perluasan terminal.
Bandara anyar itu diresmikan langsung oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan mulai beroperasi pada 24 Mei 2018. Namun tak lama berselang, satu demi satu maskapai penerbangan berjadwal reguler menutup rutenya, termasuk BUMN PT Garuda Indonesia Tbk dan anak usaha. Alasannya masuk akal, karena sepi, load factor terus turun dan merugi, alhasil bandara sempat mati suri.
Baca Juga
Dibuka Hari Ini, Begini Cara Daftar Naik Kereta Cepat Gratis
Belakangan seiring animo umroh yang tumbuh luar biasa pasca-Covid-19, bandara berkode KJT ini mulai digunakan untuk penerbangan umroh, selain melayani penerbangan khusus haji dan saat musim Lebaran. Selain itu, dibuka kembali penerbangan langsung ke Kuala Lumpur, Malaysia.
Kementerian Perhubungan pun mengumumkan mulai memindahkan layanan penerbangan niaga dari Bandara Husein Sastranegara Bandung (BOD) ke Bandara Kertajati Majalengka per 29 Oktober 2023, menyusul selesainya Tol Cileunyi–Sumedang–Dawuan (Cisumdawu) sepanjang 61,6 km Juli lalu. Waktu tempuh dari Bandung ke Kertajati yang semula 2-3 jam dipangkas tinggal 1 jam. Nantinya, tahun 2024, semua penerbangan dari/ke BOD akan dipindah ke KJT.
“Untuk penerbangan berjadwal dari dan ke Bandara Husein Sastranegara menggunakan pesawat jet, akan berakhir tanggal 28 Oktober 2023. Bandara Kertajati yang akan melayani penerbangan berjadwal dalam dan luar negeri dengan pesawat jet, serta penerbangan tidak berjadwal dalam dan luar negeri,” ucap Direktur Angkutan Udara Putu Eka Cahyadi di Jakarta, pada 15 September lalu.
Sedangkan Husein Sastranegara akan digunakan untuk melayani penerbangan berjadwal intra-Pulau Jawa dengan pesawat propeller. Selain itu, penerbangan tidak berjadwal dalam negeri.
Insentif hingga 6 Bulan
Kementerian Perhubungan bersama PT BIJB dan pemangku kepentingan terkait seperti Angkasa Pura II, Airnav Indonesia, dan maskapai sudah melakukan koordinasi untuk penyiapan pemindahan. “Kami dari sisi teknis siap melayani pemindahan tersebut. Kami juga memberikan insentif menarik kepada maskapai maupun penumpang hingga 6 bulan,” kata Direktur Operasi PT AP II Wendo Asrul Rose dalam diskusi di Jakarta, Jumat (22/09/2023).
Rute penerbangan dalam negeri yang dialihkan dari BDO ke KJT adalah rute yang kini dilayani dengan pesawat jet oleh maskapai PT Citilink Indonesia – anak usaha Garuda Indonesia –, PT Indonesia AirAsia, dan PT Super Air Jet. Rinciannya, rute dari/ke Balikpapan, Banjarmasin, Batam, Denpasar, Makassar, Medan, dan Palembang. Kapasitas tempat duduk diperkirakan total 32.760 penumpang per minggu atau 4.680 pax/hari (datang dan berangkat). Sedangkan rute penerbangan niaga berjadwal domestik yang masih dilayani BDO adalah layanan dengan pesawat propeller dari/ke Bandara Adisutjipto Yogyakarta oleh Wings Air (dengan pesawat ATR 72-600).
Banyak Pilihan Lebih Nyaman
Namun demikian, jika sekadar pemindahan paksa dari BOD ke KJT, tidak akan menyelesaikan masalah. Karena hidupnya bandara dilandasi oleh terciptanya bisnis yang sehat, trafik yang cukup besar untuk menghidupi bisnis penerbangan hingga kebandarudaraan.
Maskapai hanya bisa hidup jika load factor minimal mencapai 70%. Bila keterisian di bawah 30% misalnya, tak perlu menunggu ganti bulan, rute bakal ditutup dengan sendirinya.
Baca Juga
Kekhawatiran ini beralasan, lantaran penumpang dari Bandung yang memiliki daya beli tinggi masih punya pilihan lain yang lebih nyaman, kendati layanan penerbangan berjadwal regular di bandara Bandung ditutup. Meski dengan beroperasi sepenuhnya Tol Cisumdawu hanya butuh waktu 1-1,5 jam ke Bandara Kertajati, banyak penumpang dari Bandung yang hendak bepergian ke luar negeri dan luar Jawa lebih suka langsung ke Bandara Soekarno-Hatta. Mereka sudah terbiasa ke Bandara Cengkareng yang lebih banyak pilihan rute penerbangan, maskapai, dan juga murah tiketnya. Belum lagi sekalian membereskan urusan lain di Ibukota Jakarta.
Traveloka mencatat, harga tiket pesawat ekonomi dari Bandara Cengkareng (CKG)-Kuala Lumpur (KUL) untuk Minggu tanggal 22 Oktober 2023 sebesar Rp 658.000/pax, menggunakan AirAsia. Sedangkan tiket dari maskapai yang sama dengan keberangkatan dari Bandara Kertajati di Majalengka dibanderol Rp 785.700/pax, lebih mahal sekitar 20%. Belum lagi pilihan penerbangan reguler ke luar negeri di KJT baru ke Kuala Lumpur, dan itu pun frekuensinya hanya seminggu dua kali.
Penumpang dari Bandung ini juga sejak lama sudah dilayani bus perusahaan pemerintah Damri yang murah, langsung dari/ke Bandung-Bandara Cengkareng. Akses bahkan kini makin gampang dengan beroperasinya Kereta Cepat Jakarta-Bandung yang mampu melesat 350 km/jam. Kedua kota bisa ditempuh dalam 45 menit, kemudian disambung dengan kereta bandara ke Cengkareng 60 menit, alias total kurang dari 2 jam.
Ketua Asosiasi Pengguna Jasa Penerbangan Indonesia (APJAPI) Alvin Lie pun mengingatkan, tidak gampang pula mengubah kebiasaan masyarakat Bandung. Sementara masyarakat di sekitar Bandara Kertajati – di Majalengka hingga Cirebon, Jawa Barat, dan sebagian Provinsi Jawa Tengah –, secara umum tidak banyak yang memiliki kebiasaan atau kebutuhan bepergian naik pesawat.
Apalagi untuk rute dalam pulau ke Semarang misalnya, orang Bandung harus berangkat dulu ke Bandara Kertajati yang masih butuh waktu 1,5 jam dan sampai ke Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani (SRG) 1,5 jam kemudian. Selain jauh lebih mahal naik pesawat dan tidak praktis untuk rute pendek, dari sisi waktu juga tidak menarik dan tidak fleksibel, dibanding naik mobil sudah sampai Semarang dalam 5 jam menyusul beroperasi sepenuhnya Tol Cisumdawu.
“Jadi, yang dipertanyakan bukanlah dari aspek teknisnya, tapi dari sisi kelayakan bisnisnya. Kalau load factor penumpang rendah, maskapai akan tutup, tak peduli subsidi apa pun yang disediakan oleh Angkasa Pura II (BUMN operator bandara). Apalagi, nanti sahamnya juga tidak semuanya dipegang AP II, karena juga ditawarkan ke investor,” kata Alvin Lie dalam diskusi di Jakarta, Jumat (22/09/2023).
Tumbuhkan Pariwisata hingga FO
Artinya, penyelamatan Bandara Kertajati harus dibarengi langkah-langkah yang komprehensif yang melibatkan kolaborasi harmonis dengan banyak pihak, untuk setidaknya memperkuat empat faktor kunci dalam menumbuhkan trafik penumpang udara yang kuat. Pertama, bisnis pariwisata di sekitar Kertajati harus diperkuat untuk menarik banyak turis asing masuk.
Kedua, sisi perdagangannya juga harus kuat, terutama tersedianya factory outlet (FO) yang selama ini menjadi salah satu daya tarik bagi banyak warga Malaysia untuk berwisata ke Bandung, ketimbang ke Singapura yang serba mahal. Ketiga, pemda kabupaten sekitar dan Pemprov Jawa Barat harus aktif mempromosikan pemanfaatan bandara. Keempat, ekonomi daerah sekitar juga harus ditumbuhmekarkan guna menciptakan trafik yang ramai.
Hal ini tentu saja sangat dimungkinkan bila secepatnya dilakukan koordinasi yang intensif dan sinergi kuat antara pemerintah pusat dan daerah, antara Angkasa Pura II dengan BUMN yang lain, antara Kementerian BUMN dengan kementerian lain, antara tangan negara dan swasta. Ini misalnya, pemerintah memperbanyak event internasional dan ditunjuk Majalengka sebagai tempat penyelenggaraannya, agar anggaran negara sekaligus dapat membangun infrastruktur pariwisatanya yang berstandar dunia. Demikian pula pameran serta rapat-rapat koordinasi kementerian maupun BUMN diselenggarakan di wilayah ini, untuk menghidupkan industri pariwisatanya hingga terkenal dan bisa mandiri. Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk mendukung layanan pengunjung mancanegara juga dijadikan binaan berbagai BUMN dan korporasi besar.
Di sisi lain, pemda harus terus proaktif menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, seperti dengan maskapai untuk menambah rute penerbangan langsung dari negara-negara asal wisatawan asing (wisman). Hal semacam ini pernah dilakukan mantan Walikota Solo Jokowi saat membangun pariwisata daerahnya, berkoordinasi dengan pihak Garuda Indonesia untuk membuka rute penerbangan langsung dari dan ke Malaysia. Pariwisata Solo yang merupakan kota budaya melesat cepat, hotel-hotel baru dibangun asri, pusat-pusat kuliner berkembang, dan juga menghidupkan kembali pusat industri batik dan tekstilnya.
Tak boleh lupa, pemda juga harus 'mencolek' Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk segera aktif membangun sektor pariwisata, kuliner, hingga pusat-pusat produk kerajinan bernilai tinggi dan berkualitas. Pemda juga perlu berkolaborasi dengan BUMN maupun swasta untuk mendirikan factory outlet (FO) yang sekaligus menjadi etalase aneka produk baru dan unggulan nasional, dengan menawarkan berbagai diskon dan promosi menarik.
Langkah strategis ini sudah lama dilakukan Hong Kong yang membangun FO dekat bandara dengan menyediakan produk-produk fesyen yang bertabur diskon, guna memuaskan dahaga belanja para turis. Hong Kong juga mewajibkan biro perjalanan untuk membawa wisman mengunjungi industri bernilai tambah tinggi, misalnya pusat pembuatan perhiasan emas dan permata kendati mereka tidak punya tambangnya. Indonesia yang kaya tambang emas dan permata semestinya bisa lebih maju dalam hal ini.

