Biaya Energi hingga Bahan Baku Masih Jadi Tantangan Industri Makanan dan Minuman
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S. Lukman mengatakan, di tengah ketidakpastian ekonomi global dan dinamika geopolitik, industri mamin menghadapi berbagai macam tantangan yang berpotensi menekan daya saing usaha.
Adhi menjelaskan, kendala yang masih dihadapi oleh industri makanan dan minuman hingga saat ini di antaranya adalah mulai dari tingginya biaya energi dan logistik hingga regulasi pengadaan bahan baku yang dinilai belum kondusif.
"Sekarang kita juga masih mengalami masalah energi. Masalah logistik juga karena BBM dan lain sebagainya ini juga masih tinggi," ucap Adhi saat ditemui di Jakarta, Kamis (2/7/2026).
Menurut dia, Gapmmi terus menyampaikan berbagai masukan kepada pemerintah agar segera melakukan perbaikan regulasi yang dapat memperkuat daya saing industri nasional.
Selain biaya energi dan logistik, regulasi terkait bahan baku juga dinilai menjadi tantangan yang perlu segera dibenahi. Adhi mengatakan industri membutuhkan fleksibilitas yang lebih besar dalam memperoleh bahan baku sehingga dapat mencari sumber dengan harga yang lebih kompetitif.
Baca Juga
Menuju Industri Pangan Lebih Sehat, Fi Asia Indonesia 2026 Angkat Isu Standar Mutu
"Bahan baku juga menjadi penting karena regulasi terkait bahan baku harus lebih kondusif supaya industri lebih leluasa mencari sumber-sumber yang lebih murah. Inilah sumber pertumbuhan industri makanan dan minuman," terangnya.
Meski masih menghadapi berbagai kendala, Gapmmi mengapresiasi sejumlah kebijakan pemerintah yang dinilai telah membantu meringankan beban industri. Di antaranya penurunan harga gas bagi industri dan kebijakan pembebasan sementara bea masuk bahan baku plastik yang diharapkan dapat menekan biaya produksi.
"Jadi saya kira ini kita terima kasih kepada pemerintah atalah memberikan respon yang baik. Kemudian masalah plastik ya. Itu juga pemerintah juga sudah mengeluarkan peraturan untuk membebaskan bea masuk sementara untuk plastik supaya menurunkan biaya-biaya produksi kita," ungkap Adhi.
