Emas Lagi 'Enggak' Bersinar, Ternyata Gara-gara The Fed
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas dunia turun pada Kamis (18/6/2026) setelah sinyal kebijakan moneter yang lebih ketat dari Federal Reserve (The Fed) mendorong penguatan dolar Amerika Serikat (AS). Pada saat yang sama, kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran meredakan kekhawatiran inflasi yang sebelumnya menopang permintaan aset aman, seperti emas.
Harga emas spot turun 0,6% menjadi US$ 4.232,01 per ons. Penurunan tersebut memperpanjang tren pelemahan logam mulia setelah pekan lalu menyentuh level terendah sejak November 2025. Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat ditutup melemah 3,1% ke level US$ 4.245,90 per ons.
Baca Juga
Tekanan terhadap emas terutama datang dari perubahan ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter bank sentral AS. Dalam pertemuan terbarunya, The Fed mempertahankan suku bunga acuannya, tetapi memberikan sinyal bahwa kenaikan suku bunga masih mungkin terjadi dalam beberapa bulan mendatang.
Wakil Presiden dan Ahli Strategi Logam Senior Zaner Metals, Peter Grant, mengatakan pasar merespons pernyataan The Fed dengan memperkuat posisi dolar AS.
“Hal yang paling signifikan adalah kecenderungan kebijakan moneter yang lebih ketat dari The Fed kemarin. Itu membuat dolar mencapai level tertinggi baru tahun ini, yang membuat harga emas tetap berada di bawah tekanan,” kata Grant dilansir Reuters.
The Fed sebelumnya mempertahankan suku bunga pada Rabu (17/6/2026). Namun, sembilan dari 19 pejabat pembuat kebijakan menilai masih diperlukan kenaikan suku bunga pada periode mendatang.
Dolar AS kemudian menguat ke level tertinggi dalam satu tahun terakhir. Kondisi tersebut membuat emas yang diperdagangkan dalam denominasi dolar menjadi lebih mahal bagi pembeli di luar Amerika Serikat, sehingga berpotensi menekan permintaan global.
Data CME FedWatch Tool menunjukkan pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga AS pada Desember mencapai 88%. Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan estimasi sebelum pengumuman kebijakan The Fed yang hanya berada di kisaran 61%.
Kenaikan ekspektasi suku bunga biasanya menjadi sentimen negatif bagi emas. Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil atau yield, emas cenderung kehilangan daya tarik ketika suku bunga naik karena investor dapat memperoleh pengembalian lebih tinggi dari instrumen keuangan lain seperti obligasi.
Selain faktor moneter, pasar emas juga dipengaruhi perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Dalam beberapa pekan terakhir, konflik kawasan sempat mendorong harga energi dan meningkatkan kekhawatiran inflasi global.
Namun, situasi mulai berubah setelah Amerika Serikat dan Iran merilis teks perjanjian sementara yang ditandatangani oleh kedua kepala negara untuk mengakhiri konflik yang berlangsung sebelumnya.
Meski demikian, Presiden Amerika Serikat Donald Trump tetap mengingatkan bahwa Washington dapat kembali melancarkan serangan apabila Iran tidak memenuhi komitmen yang telah disepakati dalam perjanjian tersebut.
Baca Juga
Meredanya ketegangan geopolitik turut menekan harga minyak dunia. Investor menilai risiko gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah mulai berkurang setelah munculnya kesepakatan tersebut.
Harga minyak mentah Brent turun ke level terendah sejak 2 Maret 2026, yakni hari perdagangan pertama setelah serangan awal Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga bergerak turun hingga mencapai level terendah sejak 4 Maret 2026.
Penurunan harga minyak membantu meredakan tekanan inflasi global. Kondisi ini secara tidak langsung mengurangi kebutuhan investor untuk berlindung pada aset lindung nilai, seperti emas.
