Permintaan Etanol Global Diproyeksi Naik 40%, Indonesia Berpotensi Jadi Pusat Bioetanol Asia
JAKARTA, investortrust.id – Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi pemain utama industri bioetanol di Asia, seiring proyeksi lonjakan permintaan etanol global hingga 40% dalam 20 tahun mendatang.
Managing Director Global Centre for Green Fuels (GCGF) Clarence Woo mengatakan, permintaan etanol dunia saat ini mencapai sekitar 100 juta ton dan diperkirakan bertambah sedikitnya 40 juta ton dalam dua dekade ke depan. Kenaikan permintaan tersebut didorong oleh kebutuhan sektor transportasi darat, industri penerbangan melalui Sustainable Aviation Fuel (SAF), serta sektor pelayaran.
“Pasar ini akan tumbuh luar biasa. Dalam 20 tahun ke depan, permintaan etanol global diproyeksikan meningkat sekitar 40 persen. Ini merupakan peluang pertumbuhan yang sangat besar bagi Indonesia,” kata Clarence Woo dalam diskusi yang digelar Kadin Indonesia di Menara Kadin, Jakarta, Rabu (17/6/2026).
Baca Juga
Kadin Indonesia Nilai Industri Bioetanol Berpotensi Jadi Sumber Pertumbuhan Ekonomi Baru
Menurut Clarence, perubahan kebijakan energi di berbagai negara turut membuka peluang ekspor baru bagi produsen bioetanol. Salah satu pasar yang dinilai menjanjikan adalah Jepang yang menargetkan kebutuhan bioetanol sebesar 5 juta ton pada 2030 dan meningkat menjadi 10 juta ton pada 2040. Kebutuhan tersebut diperkirakan akan dipenuhi melalui impor.
Dengan kondisi tersebut, Indonesia dinilai memiliki posisi strategis untuk memanfaatkan pertumbuhan pasar bioetanol, baik untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun sebagai pemasok bagi negara-negara Asia yang mengalami defisit pasokan.
“Akan ada peluang besar bagi Indonesia untuk berpartisipasi dalam pasar ini, baik sebagai pengguna domestik maupun diharapkan di masa depan sebagai pengekspor etanol,” ujarnya.
Baca Juga
Kadin Buka-Bukaan Hasil Nyata Kunjungan Berulang Prabowo dan Pengusaha RI ke Prancis
Selain Jepang, Clarence menyoroti perkembangan penggunaan campuran etanol di India. Menurut dia, India telah berhasil menerapkan campuran etanol E20 dan mulai bergerak menuju E30. Bahkan, negara tersebut telah mengoperasikan puluhan stasiun pengisian bahan bakar E85.
“Jadi India, selama lebih dari 20 tahun, tidak ada yang menyangka bahwa mereka benar-benar mampu mencapai tahap E20 seperti sekarang, namun sekarang mereka sudah mendaki menuju E30,” jelasnya.
Perkembangan di Jepang dan India tersebut menunjukkan bahwa permintaan bioetanol di Asia terus meningkat, membuka peluang yang semakin besar bagi Indonesia untuk mengambil peran dalam rantai pasok energi terbarukan di kawasan.
