Harga Emas Capai Rekor Tertinggi Sepekan, Pasar Sambut Damai AS-Iran
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas naik untuk sesi ketiga berturut-turut dan mencapai level tertinggi dalam lebih dari satu pekan setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran menyepakati kerangka perdamaian guna mengakhiri konflik di antara keduanya. Meredanya ketegangan geopolitik membuat dolar AS melemah dan ekspektasi kenaikan suku bunga menurun, sehingga meningkatkan daya tarik logam mulia bagi investor global.
Harga emas spot pada Senin (15/6/2026) naik 2,6% menjadi US$ 4.327,82 per ons. Kenaikan tersebut membawa emas ke posisi tertinggi sejak 5 Juni. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS ditutup 2,7% lebih tinggi di level US$ 4.351,6 per ons.
Baca Juga
Pegadaian dan KSEI Perkuat Ekosistem Emas Melalui Investasi ETF Emas
Indeks dolar AS turun 0,2%, membuat emas yang diperdagangkan dalam denominasi dolar menjadi lebih murah bagi investor yang menggunakan mata uang lain. Kondisi tersebut turut menopang permintaan terhadap aset lindung nilai tersebut.
Seorang pejabat AS mengatakan nota kesepahaman untuk mengakhiri perang telah ditandatangani oleh Presiden AS Donald Trump, Wakil Presiden JD Vance, serta ketua parlemen Iran. Laporan sebelumnya dari kedua belah pihak menunjukkan penandatanganan resmi dijadwalkan berlangsung dalam sebuah upacara di Jenewa pada Jumat (19/6/2026).
Kepala Ahli Strategi Pasar Blue Line Futures, Phillip Streible, mengatakan pasar emas mulai melihat melampaui konflik yang terjadi.
"Pasar emas bergerak melewati konflik dan mengabaikannya. Berita kesepakatan damai menurunkan imbal hasil obligasi pemerintah, dolar, dan minyak, dan itu adalah risiko inflasi dan risiko lintas aset terbesar," ujar Streible.
Sebelumnya, emas menghadapi tekanan sejak konflik Iran pecah. Lonjakan harga energi dan meningkatnya kekhawatiran inflasi sempat memperbesar peluang kenaikan suku bunga AS, yang umumnya menjadi sentimen negatif bagi emas karena aset ini tidak memberikan imbal hasil.
Namun, setelah muncul kesepakatan kerangka perdamaian, pelaku pasar memangkas proyeksi kenaikan suku bunga Amerika Serikat pada Desember. Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga turun menjadi 58% dari hampir 70% pada pekan sebelumnya.
Perhatian investor kini tertuju pada pertemuan kebijakan Federal Reserve (The Fed) pada Selasa-Rabu (16-17/6/2026). Pertemuan tersebut menjadi yang pertama dipimpin Ketua Federal Reserve Kevin Warsh sehingga dinilai akan memberikan arah baru terhadap kebijakan moneter AS.
Menurut Streible, pergerakan emas berikutnya akan sangat dipengaruhi oleh pesan yang disampaikan Warsh kepada pasar. "Pergerakan harga emas selanjutnya sepenuhnya bergantung pada Warsh, nada bicaranya, dan apa yang akan dia katakan tentang arah suku bunga," katanya.
Baca Juga
Serangan Iran ke Basis Militer AS Guncang Harga Emas Jatuh ke Level Terendah Sejak November 2025
Singapura Perkuat Infrastruktur Emas
Di tengah meningkatnya perhatian terhadap logam mulia, Singapura juga mengambil langkah strategis untuk memperkuat posisinya sebagai pusat perdagangan emas regional.
Wakil Perdana Menteri Singapura mengatakan pemerintah akan membangun sistem kliring emas over-the-counter atau transaksi bilateral di luar bursa. Selain itu, negara tersebut akan memperkenalkan layanan penyimpanan emas bank sentral.
Langkah tersebut dipandang dapat meningkatkan efisiensi perdagangan emas, memperkuat infrastruktur pasar logam mulia, serta memperluas pilihan layanan bagi pelaku industri dan investor institusi.
