BTS Sulit Jangkau Wilayah 3T, Kemenkomdigi Dorong Satelit LEO Jadi Solusi Daerah 'Blank Spot'
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi) mendorong pemanfaatan satelit Non-Geostationary Satellite Orbit (NGSO), khususnya Low Earth Orbit (LEO), untuk memperluas akses internet. Teknologi ini dinilai melengkapi pembangunan BTS dan jaringan serat optik.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), Nezar Patria mengatakan, kondisi geografis Indonesia membuat pembangunan jaringan darat tidak selalu memungkinkan. Karena itu, satelit menjadi salah satu solusi konektivitas nasional.
"Teknologi satelit Non-Geostationary Orbit, khususnya satelit Low Earth Orbit menawarkan solusi dengan manfaat yang sesuai dengan yang kita inginkan," ujar Nezar dalam keterangan resmi, Kamis (4/6/2026).
Menurut Nezar, masih banyak wilayah yang sulit dijangkau infrastruktur telekomunikasi konvensional. Kendala topografi membuat pembangunan BTS tidak selalu bisa dilakukan.
Baca Juga
Wamenkomdigi Nezar Patria Sebut Adopsi AI Tingkatkan Produktivitas Keuangan Hingga 82 Persen
“Tidak semua tempat bisa dibangun BTS karena topografinya tidak memungkinkan untuk dibangun BTS. Jadi coba diterobos dengan cara lain, misalnya pakai kabel serat optik, atau LEO saya kira menjadi salah satu solusi,” jelasnya.
Lebih lanjut, satelit LEO dinilai mampu menghadirkan internet di wilayah yang belum terlayani. Konektivitas tersebut penting untuk mendukung pendidikan, kesehatan, layanan publik, dan ekonomi digital.
Nezar menilai NGSO dapat mempercepat transformasi digital di daerah. Teknologi ini juga berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata.
“Kita tahu dengan adanya LEO atau NGSO yang bisa menghubungkan banyak titik-titik yang tidak terjangkau, transformasi digital di daerah itu bisa kita dorong lebih kuat dan digital commerce itu juga bisa bertumbuh,” ujarnya.
Selain itu, satelit LEO berperan penting saat terjadi bencana. Teknologi ini dapat menjaga komunikasi ketika jaringan terestrial terganggu.
“Saya kira LEO sangat spesifik dan krusial perannya. Hal itu terbukti saat bencana kemarin bagaimana ketika komunikasi terputus di wilayah Aceh, Sumut, dan Sumbar. Konektivitas yang memungkinkan di daerah-daerah itu hanya dengan LEO,” tutup Nezar.

