Kemenkomdigi: Kombinasi Satelit dan Fiber Mampu Pangkas Blank Spot di Daerah 3T
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi) mempercepat penutupan wilayah blank spot melalui kombinasi teknologi fiber optik, base transceiver station (BTS), dan satelit untuk menjangkau daerah 3T dan wilayah nonkomersial.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), Nezar Patria menyebut, satelit orbit rendah atau low earth orbit (LEO) menjadi salah satu opsi strategis. Perangkat itu dinilai efektif memperluas konektivitas di wilayah terpencil dan daerah bencana yang sulit dijangkau infrastruktur telekomunikasi darat.
Baca Juga
Tantang Starlink, PSN Andalkan Satelit Lokal dan Antena Buatan Dalam Negeri
“LEO itu salah satu opsi. Jadi ada banyak pilihan, mulai dari fiber optik hingga BTS, tergantung kondisi lapangan di daerah 3T tersebut,” ujar Nezar dalam keterangannya, Senin (25/5/2026).
Menurutnya, pemerintah terus mengevaluasi teknologi konektivitas yang paling efektif untuk menutup kesenjangan akses digital di berbagai wilayah Indonesia. Namun, ia menegaskan teknologi LEO belum dirancang untuk menggantikan seluruh moda telekomunikasi yang sudah ada.
“LEO ini juga punya beberapa keterbatasan. Kalau ada gangguan atau terhalang awan, latensinya akan terpengaruh. Tapi dia efektif sekali di laut atau pegunungan,” jelasnya.
Nezar mengungkapkan pemerintah telah memanfaatkan layanan LEO secara terbatas untuk mendukung komunikasi di wilayah terdampak bencana dan daerah yang benar-benar terisolasi dari jaringan telekomunikasi konvensional.
“Kita sudah coba di wilayah bencana Aceh, Sumut, dan Sumbar waktu itu. Perangkat LEO dibagikan ke daerah-daerah terpencil yang tidak bisa dijangkau sama sekali dan komunikasinya bagus sekali. Kita bisa terhubung, bahkan bisa digunakan untuk video call,” jelasnya.
Baca Juga
LPDB Salurkan Dana Bergulir Rp47 Miliar untuk Proyek Fiber Optik Koperasi Indosat
Lebih lanjut, mantan jurnalis senior itu menjelaskan, pemerintah tetap mengedepankan pembangunan infrastruktur telekomunikasi nasional. Salah satunya lewat kombinasi berbagai moda konektivitas, termasuk fiber optik, BTS, dan satelit, dengan mempertimbangkan karakter geografis Indonesia yang terdiri atas ribuan pulau dan wilayah pegunungan.
Sebagai pengingat, Kemenkomdigi menyebut layanan mobile broadband telah menjangkau 99% wilayah Indonesia. Namun, masih terdapat sekitar 3.000 desa yang mengalami blank spot atau sinyal lemah.
Sementara itu, fixed broadband baru menjangkau 73% kecamatan. Pemerintah menargetkan cakupan meningkat menjadi 90% pada 2029 untuk menekan kesenjangan digital.

