Pelemahan Rupiah Bayangi Industri, Kemenperin Pastikan Mitigasi Berjalan
Poin Penting
|
TANGERANG, investortrust.id - Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza menyebutkan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) akan berpengaruh terhadap industri manufaktur, khususnya bagi sektor yang masih bergantung pada bahan baku impor.
Pasalnya diketahui nilai tukar rupiah pada perdagangan Kamis (4/6) telah menyentuh level Rp18.000 per dolar AS. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 0,27% ke posisi Rp18.014 per dolar AS pada pukul 09.10 WIB.
"Ya kalau pengaruhnya semua terpengaruh kalau bahan baku. Tapi kita sudah mitigasi supaya tidak banyak apa terdampak oleh kenaikan atau turunnya nilai tukar rupiah," ucap Wamenperin Faisol saat ditemui di NICE PIK 2, Tangerang, Banten, Kamis (4/6/2026).
Baca Juga
Rupiah Melemah ke Rp 18.041 per Dolar AS, BI Optimistis Fundamental Tetap Kuat
Meski demikian, Wamenperin Faisol memastikan pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah mitigasi untuk menekan dampaknya terhadap sektor manufaktur. Bahkan, menurutnya, pelaku industri telah diajak berkoordinasi untuk mencari jalan keluar dari pelemahan rupiah hingga gejolak geopolitik global.
"Ya beberapa sudah didiskusikan dan beberapa sedang mencari jalan keluar, terutama yang berkaitan dengan transaksi bahan baku dari negara-negara yang selama ini menggunakan US Dollar sebagai base pembayarannya," terangnya.
Lebih lanjut, Faisol menjelaskan, diversifikasi penggunaan mata uang dalam perdagangan internasional juga menjadi salah satu faktor yang membantu mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS. Ia mencontohkan sebagian transaksi perdagangan Indonesia telah menggunakan renminbi (RMB), sehingga dampak fluktuasi dolar dapat diantisipasi.
"Kalau sekarang kan industri dalam negeri kan pasti belanjanya rupiah jadi enggak terlalu masalah. Paling ada beberapa bahan baku yang tentu transaksinya menggunakan apa US Dollar. Tapi saya lihat kalau trade balance kita sepertiganya itu menggunakan renminbi misalnya, itu pengaruh US Dollar-nya juga bisa diantisipasi," papar Faisol.

