Pelemahan Rupiah dan Aksi Jual Asing Bayangi Saham Bank, Masih Layak Dipertahankan?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Tekanan pelemahan Rupiah dan aksi jual investor asing masih membayangi sektor perbankan di pasar saham domestik. Meski sejumlah saham bank besar dinilai sudah berada di area murah atau oversold, investor dinilai tetap perlu berhati-hati karena tekanan sentimen diperkirakan belum mereda dalam waktu dekat.
Head of Equity Research Samuel Sekuritas Indonesia Prasetya Gunadi mengatakan pihaknya saat ini memberikan peringkat netral hingga underweight terhadap saham-saham perbankan di Indonesia.
“Sekarang mungkin rating saham bank di Indonesia lebih ke netral atau underweight, dulu karena risiko-risikonya masih cukup besar,” ujar Prasetya dalam Samuel Sekuritas Indonesia Media Connect 2026, beberapa waktu lalu.
Baca Juga
Saham Bank Papan Atas Topang Kenaikan IHSG 0,18% Pekan Ini, Ada BBRI hingga BBCA
Menurut dia, tekanan utama saham sektor ini datang dari pelemahan Rupiah terhadap dolar AS. Dalam skenario dasar atau base case, Samuel Sekuritas memperkirakan kurs Rupiah berada di kisaran Rp 17.500 per dolar AS. Sementara dalam skenario bearish IHSG, pelemahan Rupiah berpotensi menembus Rp 18.000 per dolar AS.
“Kalau US$-IDR sudah lebih dari Rp18.000, yang pasti consumer staples akan terpengaruh dan bank juga akan terdampak terutama dari sisi asset quality dan provisi,” sambungnya.
Prasetya menjelaskan pelemahan kualitas aset berpotensi meningkatkan pencadangan atau provisi bank dalam beberapa tahun mendatang. Selain itu, tekanan terhadap net interest margin (NIM) juga masih membayangi industri perbankan.
Ia menilai tekanan harga saham bank kini lebih banyak dipengaruhi sentimen asing dibanding penurunan fundamental perusahaan. Menurutnya, aksi jual investor asing kemungkinan masih berlanjut dalam beberapa bulan ke depan selama Rupiah belum stabil dan kekhawatiran terhadap kondisi makroekonomi Indonesia belum mereda.
Baca Juga
Saham BBCA Rebound 5,56% Sepekan, Sentimen Ini Jadi Penopang
“Kalau foreign net sell masih berlanjut, harga saham bank akan susah balik ke tren naik. Asing kelihatannya masih akan keluar dari saham bank,” katanya.
Karena itu, Samuel Sekuritas saat ini lebih menyarankan investor mengurangi porsi kepemilikan saham bank dan beralih sementara ke saham berbasis komoditas maupun emiten yang memiliki pendapatan dolar AS.
“Lebih baik turunkan dulu posisi di bank dan shift sementara ke commodity related sama USD earners, karena pelemahan Rupiah justru menguntungkan mereka,” ujar Prasetya.
Ia menambahkan ketidakpastian pasar juga dipengaruhi faktor eksternal, termasuk penilaian lembaga global terhadap Indonesia. Investor asing dinilai kini lebih sensitif terhadap isu makroekonomi domestik dibanding beberapa tahun lalu.
Saham BBCA
Sebagai contoh, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) disebut mulai terpengaruh pelemahan Rupiah dan prospek perlambatan ekonomi, padahal sebelumnya cenderung lebih tahan terhadap gejolak makro.
Menurut Prasetya, kondisi tersebut menunjukkan kepercayaan investor asing terhadap Indonesia belum sepenuhnya pulih. Investor domestik juga dinilai masih sulit menopang pasar sendirian ketika arus dana asing terus keluar.
Baca Juga
Saham MORA, ASPR, hingga MEDS Pimpin Top Gainers Pekan Ini, Lompatan di Atas 51%
“Market kita masih sangat membutuhkan foreign investor. Kalau asing terus jual, investor domestik cukup berat untuk menyerap semuanya karena dari sisi AUM juga tidak meningkat signifikan,” ungkapnya.
Meski tekanan jangka pendek masih besar, Prasetya menilai saham bank masih layak disimpan untuk jangka panjang, terutama bank swasta dengan fundamental kuat. “Kalau longer term sebenarnya masih fine karena fundamentalnya masih bagus. Kalau saya top picks bank masih BBCA,” katanya.
Menurut dia, risiko pada bank-bank swasta relatif lebih kecil dibanding bank BUMN yang menghadapi tekanan kebijakan pemerintah, termasuk dorongan penurunan bunga Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang dapat menekan margin keuntungan.

