Pengguna Bertambah, Pendapatan MRT Jakarta Melesat Jadi Rp 1,5 Triliun
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT MRT Jakarta (Perseroda) membukukan pendapatan sebesar Rp 1,5 triliun sepanjang 2025 atau meningkat sekitar 7% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp 1,4 triliun.
Direktur Keuangan dan Manajemen MRT Jakarta, Risa Olivia menyatakan, pertumbuhan pendapatan didorong oleh peningkatan jumlah pengguna serta kontribusi bisnis non-tiket.
"Pendapatan tiket atau farebox terus menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan tahunan yang signifikan sejak 2021," kata Risa dalam forum jurnalis di kantor MRT Jakarta, Jakarta Pusat, Rabu (3/6/2026).
Secara keseluruhan, pendapatan MRT Jakarta tumbuh dengan compound annual growth rate (CAGR) sebesar 2,3% pada periode 2021-2025. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh diversifikasi sumber pendapatan perusahaan yang berasal dari tiket, subsidi pemerintah, serta pendapatan non-farebox.
Baca Juga
'Extended Concourse' MRT Bundaran HI Bakal Diresmikan Juni 2027 Saat HUT ke-500 Jakarta
Selain itu, kontribusi pendapatan farebox mencatat CAGR positif sebesar 50,4% selama periode tersebut. "Semakin banyak yang menggunakan MRT, nantinya pendapatan tiket bisa semakin meningkat," ujar Risa.
Di sisi lain, dukungan pemerintah melalui skema subsidi masih menjadi salah satu komponen penting dalam menjaga kinerja perusahaan sekaligus memastikan layanan transportasi publik tetap berjalan dengan standar tinggi dan tarif terjangkau bagi masyarakat.
Risa menambahkan, kemampuan perusahaan menjaga kinerja operasional tercermin dari indikator earnings before interest, taxes, depreciation, and amortization (EBITDA) margin yang berada pada kisaran 35%-51% dalam beberapa tahun terakhir. "Kinerja operasional perusahaan relatif terjaga dan cukup stabil dalam jangka panjang," tuturnya.
Hingga 2025, total aset MRT Jakarta telah mencapai sekitar Rp 32 triliun yang sebagian besar berasal dari pembangunan infrastruktur transportasi, seperti jalur dan stasiun MRT.
Menurut Risa, arah pertumbuhan jangka panjang perusahaan masih terjaga, terlihat dari tren pendapatan yang terus meningkat serta kemampuan MRT Jakarta mempertahankan margin EBITDA di atas 35% meski menghadapi berbagai tantangan eksternal.
Baca Juga
Stasiun MRT Fatmawati Bakal Diperluas Layaknya 'Extended Concourse' Bundaran HI
Sementara itu, Direktur Pengembangan Bisnis MRT Jakarta, Farchad Mahfud menyebutkan, perusahaan terus memperkuat sumber pendapatan non-farebox melalui pengembangan kawasan transit. Salah satunya dilakukan melalui pengelolaan kawasan Blok M Hub Gojek yang saat ini menampung sekitar 375 tenant. "Kami terus mengoptimalkan area komersial dan pengembangan kawasan transit untuk memperkuat pendapatan non-tiket," kata Farchad.
Perseroda berharap diversifikasi pendapatan tersebut dapat mengurangi ketergantungan perusahaan terhadap subsidi sekaligus mendukung keberlanjutan operasional jangka panjang.

