CNG Disebut Lebih Irit dari LPG, tapi Kenapa Belum Dipakai?
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - ReforMiner Institute menilai rencana kebijakan konversi liquefied petroleum gas (LPG) menjadi compressed natural gas (CNG) berpotensi memperkuat ketahanan energi nasional, mengurangi ketergantungan impor energi, sekaligus menekan beban subsidi energi dalam jangka panjang. Namun, implementasi kebijakan tersebut masih menghadapi tantangan besar dari sisi infrastruktur, regulasi, keselamatan, hingga kemampuan fiskal negara dan masyarakat.
Hal tersebut mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema “Peluang dan Tantangan Rencana Kebijakan Konversi Penggunaan LPG dengan Menggunakan CNG” di Jakarta, Selasa (26/5/2026). Diskusi menghadirkan Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Muhammad Kholid Syeirazi, Head of Center of Food, Energy, and Sustainable Development Indef Abra Talattov, serta Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro.
Anggota DEN Muhammad Kholid Syeirazi mengatakan konsumsi LPG nasional terus meningkat signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2025 kebutuhan LPG nasional mencapai sekitar 9,27 juta metrik ton, sementara produksi domestik hanya sekitar 1,91 juta metrik ton. "Akibatnya, impor LPG Indonesia mencapai sekitar 7,47 juta metrik ton per tahun," kata dia.
Menurut Kholid, tingginya ketergantungan impor LPG membuat Indonesia semakin rentan terhadap dinamika geopolitik dan volatilitas harga energi global. Saat ini sekitar 70% impor LPG Indonesia berasal dari Amerika Serikat, disusul Uni Emirat Arab (UEA) sebesar 11,88% dan Qatar sebesar 11,84%. “Ketika struktur energi rumah tangga terlalu bergantung pada impor, maka gejolak global akan langsung berdampak pada APBN dan stabilitas ekonomi nasional,” ujar Kholid.
Baca Juga
RI 'Oversupply' Gas, Bahlil 'Pede' CNG Bisa Penuhi Kebutuhan Masyarakat
Ia menyoroti tekanan subsidi dan kompensasi energi nasional yang terus meningkat dalam satu dekade terakhir. Berdasarkan data DEN, total subsidi dan kompensasi energi naik dari sekitar Rp 119,1 triliun pada 2015 menjadi Rp 313,9 triliun pada 2025. Bahkan pada 2022 nilainya sempat melonjak hingga Rp 551 triliun akibat lonjakan harga energi global pasca konflik Rusia-Ukraina.
Menurut Kholid, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah mulai mendorong diversifikasi energi rumah tangga dan pemanfaatan gas domestik. Sejak 2012 pemanfaatan gas bumi domestik telah melampaui volume ekspor gas nasional. Pada 2025, pemanfaatan domestik gas mencapai sekitar 3.882 BBTUD, sementara ekspor turun menjadi sekitar 1.718 BBTUD.
“Indonesia sebenarnya memiliki potensi gas domestik yang cukup besar. Tantangannya adalah bagaimana mengubah potensi tersebut menjadi energi yang dapat diakses masyarakat secara aman, efisien, dan ekonomis,” jelasnya.
Dalam FGD tersebut, DEN juga memaparkan sejumlah keunggulan CNG dibanding LPG. Dari sisi harga energi, gas alam memiliki biaya sekitar Rp 38,5 per megajoule (MJ), jauh lebih rendah dibanding LPG nonsubsidi yang mencapai Rp 285 per MJ.
Selain itu, CNG memiliki potensi besar untuk digunakan pada sektor rumah tangga, transportasi, dan industri. Pada sektor transportasi, penggunaan CNG mampu menekan biaya operasional sekaligus menghasilkan emisi lebih rendah dibanding bahan bakar minyak konvensional. Sementara di sektor industri, penggunaan gas bumi dianggap lebih efisien dan stabil dibanding batu bara maupun BBM.
Tantangan CNG
Meski demikian, Kholid menegaskan implementasi CNG rumah tangga masih menghadapi tantangan teknis dan keselamatan yang cukup besar. Salah satu isu utama adalah belum adanya standar internasional khusus untuk tabung CNG rumah tangga, termasuk katup, selang, dan instalasinya.
Ia menjelaskan tekanan tabung CNG dapat mencapai 150–200 bar, jauh lebih tinggi dibanding tabung LPG rumah tangga yang hanya sekitar 8 bar. Kondisi tersebut membuat kebutuhan material tabung menjadi lebih kompleks dan mahal.
“Isu keselamatan menjadi aspek yang sangat krusial karena karakteristik CNG berbeda dengan LPG. Pemerintah perlu memastikan standardisasi dan sistem monitoring sebelum implementasi dilakukan secara luas,” tegasnya.
Selain itu, DEN juga menyoroti keterbatasan infrastruktur stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) nasional. Saat ini jumlah SPBG aktif masih sangat terbatas dan belum tersebar merata di seluruh wilayah Indonesia sehingga distribusi dan aksesibilitas CNG masih menjadi kendala utama.
Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro menilai kebijakan konversi LPG ke CNG perlu diposisikan sebagai bagian dari strategi jangka panjang penguatan ketahanan energi nasional dan pengurangan tekanan devisa.
Menurut Komaidi, substitusi LPG impor menggunakan gas domestik secara teoritis dapat memberikan manfaat ekonomi cukup besar. Berdasarkan kajian awal ReforMiner, substitusi LPG impor berpotensi menghemat devisa sekitar US$ 820 juta hingga US$ 6 miliar tergantung skenario implementasi.
Namun demikian, ia mengingatkan implementasi kebijakan tersebut membutuhkan kesiapan pasokan gas, infrastruktur distribusi, serta dukungan fiskal yang besar. Untuk menggantikan seluruh impor LPG Indonesia, dibutuhkan sekitar 352,5 BSCF gas per tahun atau setara sekitar 965 MMSCFD, yakni sekitar 10–15% produksi gas nasional saat ini.
“Kebijakan konversi LPG ke CNG tidak dapat dilakukan secara instan. Pemerintah perlu memastikan keekonomian proyek, kesiapan infrastruktur, dan penerimaan masyarakat agar implementasinya realistis,” ujar Komaidi.
Ia juga menilai pemerintah perlu membandingkan berbagai opsi transisi energi rumah tangga secara rasional, termasuk pengembangan jaringan gas kota, elektrifikasi, hingga alternatif fuel switching lainnya.
Kesiapan Fiskal
Sementara itu, Abra Talattov mengatakan keberhasilan program konversi LPG ke CNG sangat bergantung pada kesiapan roadmap fiskal dan reformasi subsidi energi nasional.
Menurut Abra, tingginya ketergantungan impor LPG membuat struktur subsidi energi Indonesia sangat sensitif terhadap perubahan harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah. Dalam RAPBN 2026, subsidi LPG 3 kilogram ditetapkan sebesar Rp 80,3 triliun dengan asumsi Indonesian Crude Price sebesar US$ 70 per barel dan kurs Rp 16.500 per dolar AS.
“Konversi LPG ke CNG tidak cukup hanya berbasis narasi ketahanan energi. Pemerintah juga harus memastikan keberlanjutan fiskal dan kemampuan masyarakat untuk beradaptasi,” ujar Abra.
Baca Juga
Pemerintah Siapkan Skema CNG 3 Kg, Masyarakat Tak Perlu Beli Tabung
Ia menjelaskan tantangan terbesar implementasi CNG rumah tangga adalah tingginya biaya awal konversi. Berdasarkan data FGD, rumah tangga diperkirakan membutuhkan investasi sekitar Rp 7 juta hingga Rp 10 juta untuk mengganti tabung, regulator, nozzle, dan melakukan penyesuaian kompor.
Menurut Abra, pemerintah perlu menyiapkan roadmap pengembangan CNG yang mencakup reformasi subsidi energi, dukungan fiskal dan insentif investasi, skema pembiayaan konversi, serta pengembangan infrastruktur distribusi.
Abra juga menekankan bahwa transisi energi rumah tangga harus dilakukan secara bertahap dan mempertimbangkan kesiapan sosial masyarakat. Selain tantangan ekonomi dan infrastruktur, FGD juga menyoroti rendahnya pemahaman masyarakat terhadap penggunaan CNG, kekhawatiran terhadap keamanan tabung bertekanan tinggi, serta masih kuatnya ketergantungan masyarakat terhadap LPG subsidi.

