Harga Emas Turun 1%, Minyak dan Dolar AS Jadi Penekan
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas dunia turun sekitar 1% pada Kamis (21/5/2026) setelah kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi global dan memperkuat spekulasi bahwa suku bunga Amerika Serikat (AS) akan tetap tinggi lebih lama. Kondisi itu mendorong penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi Pemerintah AS yang menekan daya tarik emas batangan.
Harga emas spot turun 1% menjadi US$ 4.500,07 per ons. Sehari sebelumnya, logam mulia itu sempat menguat lebih 1% selama perdagangan di Amerika Serikat setelah menyentuh level terendah sejak 30 Maret. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Juni turun 0,7% menjadi US$ 4.502,90 per ons.
Tekanan terhadap emas muncul setelah harga minyak dunia melonjak lebih 2%. Kenaikan terjadi seusai laporan Reuters menyebut pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei memerintahkan agar uranium dengan tingkat pengayaan mendekati senjata nuklir tidak dikirim keluar negeri.
Analis UBS Giovanni Staunovo mengatakan pasar masih fokus pada negosiasi antara Iran dan AS yang memunculkan ketidakpastian baru terkait peluang tercapainya kesepakatan.
“Pada dasarnya, semuanya masih tentang negosiasi antara Iran dan AS dan dalam konteks itu, kita telah melihat sedikit ketidakpastian apakah kesepakatan dapat tercapai atau tidak, dengan demikian, harga minyak semakin menekan harga emas,” kata Staunovo.
Baca Juga
Harga Emas Turun Tajam ke Level Terendah Sejak Maret, Pasar Tunggu Sinyal The Fed
Menurutnya, lonjakan harga energi memperbesar risiko inflasi sehingga pasar mulai memperkirakan bank sentral akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Perintah dari Ayatollah Khamenei dinilai berpotensi memperumit hubungan dengan Presiden AS Donald Trump dan memperbesar hambatan dalam pembicaraan untuk mengakhiri perang AS-Israel di Iran.
Sejak perang pecah pada akhir Februari, harga minyak mentah telah melonjak lebih 15%. Konflik tersebut mengganggu lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz yang menjadi jalur utama perdagangan energi dunia. Gangguan itu memicu kenaikan harga energi global dan memperbesar kekhawatiran inflasi.
Di sisi lain, dolar AS menguat sehingga harga emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun juga kembali naik, meningkatkan biaya peluang memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil bunga.
“Kenaikan harga minyak, yang mendorong inflasi lebih tinggi, memberi tekanan pada bank sentral untuk mempertahankan suku bunga tidak berubah atau bahkan berpotensi menaikkannya. Dengan demikian, hal ini tetap menjadi hambatan bagi emas dalam jangka pendek,” ujar Staunovo.
Baca Juga
Harga Emas Naik 1%, Harapan Damai Iran Redakan Tekanan Inflasi
Emas selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi. Namun, logam mulia cenderung kehilangan daya tarik ketika suku bunga tinggi karena investor lebih memilih instrumen yang memberikan imbal hasil tetap.
Berdasarkan FedWatch Tool milik CME, pelaku pasar kini memperkirakan peluang 58% untuk setidaknya satu kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin oleh Federal Reserve tahun ini. Angka itu meningkat dibandingkan proyeksi sehari sebelumnya yang berada di level 48%.

