Bagikan

Prajogo: Saya Ingin Melihat Indonesia Sejahtera

Oleh: Primus Dorimulu

JAKARTA, investortrust.id — Namanya dikenal luas sebagai pengusaha Indonesia terkaya. Tapi, ia sendiri sangat jarang bicara di publik. Ia memilih bekerja dalam diam, membangun perusahaan dari nol hingga menjadi salah satu grup usaha terbesar di Indonesia yang bergerak di berbagai sektor, khususnya sektor usaha yang sesuai tuntutan global. Dialah Prajogo Pangestu, pengusaha nasional yang pada 13 Mei 2026 genap berusia 82 tahun.

Hingga usia 82 tahun, ia masih masuk kantor. Badannya masih tegap dengan rambut yang masih utuh. Ingatannya tetap tajam dan ia menyampaikan pandangan secara runtut. Ia mengikuti dengan seksama berbagai persoalan yang terjadi di Tanah Air dan memberikan pandangan yang konstruktif.

“Saya ingin melihat Indonesia maju dan sejahtera,” kata Prajogo Pangestu. “Saya lahir, besar, hidup, dan berusaha di Indonesia. Ke mana lagi saya harus pergi kalau bukan tetap di sini, di negeri tercinta ini, untuk ikut membangun bangsa dan negara bersama pemerintah,” ujarnya kepada Investortrust pada akhir pekan lalu.

Pendiri dan pemilik Barito Group, Prajogo Pangestu. (Investortrust/Primus Dorimulu)

Bagi Prajogo, membangun kerajaan bisnis tidak hanya ditopang keberanian mengambil risiko dan ketekunan, tetapi juga kemampuan membaca arah perubahan zaman. Ketika dunia mulai bergerak menuju ekonomi hijau dan transisi energi, Grup Barito milik Prajogo justru memperkuat bisnis di sektor yang relevan dengan kebutuhan masa depan, yakni petrokimia modern dan energi panas bumi (geothermal). Melalui Chandra Asri Pacific dan Barito Renewables Energy, Prajogo menempatkan perusahaannya pada sektor strategis yang tidak hanya penting bagi industri nasional, tetapi juga sejalan dengan tuntutan global terhadap bisnis yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Petrokimia tetap menjadi tulang punggung berbagai industri modern, mulai dari otomotif, kemasan, elektronik, hingga kesehatan. Namun, di saat yang sama, dunia juga menuntut industri petrokimia menjadi lebih efisien dan rendah emisi. Sementara sektor geothermal dinilai sebagai salah satu sumber energi bersih paling potensial bagi Indonesia yang memiliki cadangan panas bumi terbesar di dunia. Karena itu, langkah Prajogo masuk lebih dalam ke energi baru terbarukan dipandang sebagai strategi bisnis jangka panjang yang visioner. Di tengah tekanan global terhadap energi fosil dan meningkatnya tuntutan ESG (Environmental, Social, and Governance), bisnis yang menggabungkan pertumbuhan ekonomi dengan keberlanjutan lingkungan dinilai akan menjadi salah satu sektor paling penting dalam ekonomi masa depan.

Tidak Tiba-Tiba

Pendiri Barito Group, Prajogo Pangestu bersama Presiden Prabowo dan pengusaha papan atas lainnya. (Foto: Ist)

Salah satu keunggulan utama para pengusaha sukses adalah resiliensi, yakni kemampuan bertahan menghadapi tekanan, serta ketekunan luar biasa atau persisten. Mereka tidak lahir dari kenyamanan, melainkan dari kegagalan, tekanan, dan perjuangan panjang yang berulang. Mereka jatuh berkali-kali, tetapi terus bangkit, belajar, dan melangkah maju ketika banyak orang lain memilih menyerah. Ketangguhan mental inilah yang sering membedakan pengusaha besar dari sekadar orang pintar atau bermodal besar dalam membangun dan menjalankan usaha.

Kisah Prajogo Pangestu menjadi salah satu contoh nyata. Berasal dari keluarga sederhana dan pernah menjadi sopir angkot, ia membangun bisnis dari bawah hingga menjadi salah satu konglomerat terbesar Indonesia. Perjalanan seperti itu tidak mungkin terjadi tanpa daya tahan menghadapi krisis, keberanian mengambil risiko, dan ketekunan bekerja dalam jangka panjang. Dalam dunia bisnis global, resilience dan persistence bahkan sering dianggap lebih penting daripada bakat, karena keberhasilan besar hampir selalu lahir dari kemampuan bertahan lebih lama dibanding tantangan yang dihadapi.

Sebagian publik melihat pengusaha hanya pada periode tertentu, yakni ketika mereka sudah berada di puncak. Mereka tidak melihat proses panjang yang dilewati pengusaha dalam membangun usaha dari nol. Begitu banyak onak dan duri yang mereka lewati. Tidak ada pengusaha yang instan, yang tiba-tiba menjadi pengusaha sukses.

Di semua negara maju, pengusaha besar diperlakukan sebagai aset strategis negara karena berperan menciptakan lapangan kerja, membayar pajak, membangun industri, membawa teknologi, serta memperkuat daya saing nasional. Amerika Serikat (AS), misalnya, membangun kekuatan ekonominya bersama perusahaan-perusahaan raksasa seperti Apple, Microsoft, dan Tesla yang menjadi motor inovasi teknologi dunia.

Dalam lawatan kenegaraannya ke China pada 13-15 Mei 2026, Presiden Donald Trump membawa sejumlah pengusaha dan CEO papan atas AS. Langkah itu menunjukkan bahwa pertemuan Trump dengan Presiden China Xi Jinping bukan hanya agenda diplomatik dan geopolitik, tetapi juga misi bisnis, teknologi, energi, dan investasi berskala besar. Reuters melaporkan beberapa tokoh bisnis besar yang ikut dalam rombongan Trump antara lain CEO Nvidia Jensen Huang, Elon Musk dari Tesla dan SpaceX, serta CEO Apple Tim Cook. Selain itu hadir pula CEO BlackRock Larry Fink, CEO Citigroup Jane Fraser, serta eksekutif dari Boeing, Goldman Sachs, Mastercard, Visa, Meta Platforms, hingga Qualcomm.

Hal serupa terjadi di Jepang dan Korea Selatan. Jepang membesarkan perusahaan seperti Toyota dan Sony melalui dukungan industri, teknologi, dan ekspor sejak pasca-Perang Dunia II. Korea Selatan melakukan hal yang sama terhadap Samsung dan Hyundai Motor Company hingga menjadi pemain global. Negara-negara maju umumnya tidak memusuhi pengusaha besar, melainkan menjadikan mereka mitra strategis pembangunan nasional, sambil tetap menjaga transparansi, persaingan sehat, dan kepastian hukum agar kekuatan ekonomi tidak berubah menjadi oligarki yang merusak negara.

Pemerintah AS, Korea Selatan, dan Jepang mengawasi mereka melalui aturan antimonopoli dan pajak, tetapi tetap memberi perlindungan hukum, insentif riset, dan kontrak strategis karena sadar sektor swasta adalah mesin utama pertumbuhan ekonomi dan penentu kemajuan teknologi. Mereka diawasi dengan aturan main yang jelas, tetapi juga didukung. Sebab, korporasi inilah yang membuka lapangan kerja, memberikan jaminan yang layak kepada karyawan, membayar pajak, menjaga stabilitas nilai tukar, dan berperan dalam mendorong laju pertumbuhan ekonomi.

Pengusaha Visioner

Prajogo Pangestu dikenal sebagai salah satu konglomerat terbesar dan orang terkaya di Indonesia dengan perjalanan hidup yang sangat inspiratif. Lahir di Bengkayang, Kalimantan Barat, pada 13 Mei 1944, Prajogo berasal dari keluarga sederhana dan hanya mengenyam pendidikan hingga tingkat sekolah menengah. Sebelum menjadi taipan bisnis, ia pernah bekerja serabutan hingga menjadi sopir angkutan umum. Titik balik hidupnya terjadi ketika bergabung dengan PT Jayanti Group milik pengusaha kayu Malaysia, Burhan Uray, pada akhir 1960-an. Berkat kerja keras dan kemampuan bisnisnya, Prajogo kemudian mendirikan perusahaan sendiri yang berkembang menjadi Barito Pacific dan melantai di bursa saham pada 1993.

Kesuksesan Prajogo semakin besar setelah melakukan ekspansi ke sektor petrokimia dan energi melalui pengambilalihan Chandra Asri Pacific serta pengembangan bisnis energi baru terbarukan lewat Barito Renewables Energy. Lonjakan nilai saham perusahaan-perusahaan Grup Barito seperti BREN, BRPT, dan CUAN membuat Prajogo secara konsisten masuk daftar orang terkaya Indonesia versi Forbes. Perjalanan hidupnya dari sopir angkot menjadi pemimpin kelompok usaha besar nasional kerap disebut sebagai salah satu kisah transformasi bisnis paling fenomenal di Indonesia.

Daftar orang terkaya dunia menurut Forbes 2026 menempatkan Prajogo pada peringkat ke-84 dengan kekayaan US$ 28,6 miliar. Di Indonesia, ia menempati peringkat pertama, di atas Low Tuck Kwong, R. Budi Hartono, Michael Hartono, dan Anthoni Salim.

Dalam mendukung pasar modal Indonesia, enam perusahaan Barito Group sudah menjadi perusahaan terbuka dan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan total kapitalisasi pasar (market cap) Rp 1.431 triliun pada awal Mei 2026. Nilai kapitalisasi pasar tersebut setara dengan 11,6% dari total market cap BEI yang mencapai Rp 12.284 triliun. Enam emiten Barito Group terdiri atas PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA), dan PT Petrosea Tbk (PTRO).

Dua dari enam perusahaan tersebut masuk dalam jajaran 10 besar market cap di BEI. BREN dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp 488,14 triliun menjadi yang terbesar kedua, sedangkan TPIA bernilai Rp 436,88 triliun atau terbesar keenam. Empat emiten lainnya juga memiliki kapitalisasi besar, yakni BRPT sebesar Rp 213,74 triliun, CUAN Rp 106,23 triliun, CDIA Rp 132,31 triliun, dan PTRO Rp 54,21 triliun.

Dari sisi kinerja keuangan, BRPT tercatat sebagai emiten dengan pertumbuhan paling besar setelah pendapatan melesat menjadi US$ 2,57 miliar pada kuartal I-2026, dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sebesar US$ 774 juta. Laba bersih setelah pajak juga melambung dari US$ 30 juta menjadi US$ 271 juta.

Selanjutnya, TPIA mencatat total pendapatan mencapai US$ 2,40 miliar pada kuartal I-2026, dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar US$ 622,09 juta. Laba periode berjalan juga melonjak menjadi US$ 230,50 juta pada kuartal I-2026, dibandingkan rugi periode berjalan sebesar US$ 23,58 juta pada periode sama tahun sebelumnya.

BREN tercatat sebagai emiten dengan valuasi terbesar dengan pendapatan mencapai US$ 165,16 juta pada kuartal I-2026, dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar US$ 150,47 juta. Laba periode berjalan juga naik dari US$ 42,40 juta menjadi US$ 52,57 juta.

CUAN juga mencatatkan kinerja keuangan gemilang pada kuartal I-2026 dengan pendapatan meningkat menjadi US$ 371,33 juta, dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sebesar US$ 213,93 juta. Laba periode berjalan mencapai US$ 5,44 juta, dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar US$ 2,74 juta.

PTRO juga mencatatkan lompatan pendapatan menjadi US$ 284,13 juta pada kuartal I-2026, dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sebesar US$ 154,21 juta. Laba bersih periode berjalan naik tipis dari US$ 1,02 juta menjadi US$ 1,08 juta.

Prajogo Pangestu masih tercatat sebagai orang terkaya meskipun harga saham enam emiten yang dikendalikannya mengalami penurunan signifikan sepanjang year to date (ytd) 2026. Berdasarkan data TradingView, penurunan paling dalam dicatatkan saham BREN sebesar 62,27%.

Penurunan tersebut dipicu oleh peluang saham BREN dikeluarkan dari daftar saham MSCI setelah emiten itu masuk dalam kategori high shareholding concentration (HSC), karena 97,31% sahamnya dikuasai sejumlah pemegang saham tertentu.

Penurunan berikutnya dicatatkan saham CUAN yang turun lebih dari 57% sepanjang ytd. Saham PTRO telah anjlok lebih dari 52%, saham CDIA melemah hampir 40%, saham BRPT turun 31%, dan TPIA melemah 28% sepanjang ytd.

Naik-turunnya harga saham merupakan hal lumrah di pasar modal, terlebih saat ini MSCI sedang melakukan rebalancing terhadap saham-saham di BEI. Para analis pasar modal meyakini, ke depan, setelah fase rebalancing selesai, saham-saham Indonesia yang memiliki fundamental dan prospek cerah — termasuk enam saham Barito Group — berpeluang kembali menguat.

Prajogo dipandang sebagai pengusaha visioner karena mampu membaca arah perubahan ekonomi global jauh sebelum tren energi hijau, hilirisasi industri, dan bisnis berkelanjutan menjadi fokus dunia. Berawal dari sektor kayu, Barito kemudian bertransformasi dengan membangun dan mengembangkan industri petrokimia serta energi baru terbarukan melalui Barito Pacific, Chandra Asri Pacific, dan Barito Renewables Energy.

Langkah strategis tersebut membuat Grup Barito kini menjadi salah satu kekuatan terbesar di pasar modal Indonesia dengan enam emiten berkapitalisasi total sekitar Rp 1.431 triliun atau setara 11,6% kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia pada awal Mei 2026. Forbes 2026 menempatkannya sebagai orang terkaya nomor satu di Indonesia dan peringkat ke-84 dunia dengan kekayaan sekitar US$ 28,6 miliar. Banyak pelaku pasar menilai keberhasilan terbesar Prajogo bukan hanya soal besarnya kekayaan, tetapi juga kemampuannya mentransformasi bisnis ke sektor yang sesuai dengan tuntutan masa depan: energi bersih, industri hilir, dan ekonomi berkelanjutan. ***

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024