Trump Ancam Iran, Harga Minyak Naik Tajam
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga minyak melonjak tajam pada Jumat (15/5/2026) setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump meningkatkan tekanan terhadap Iran dan memicu kekhawatiran baru atas inflasi global. Eskalasi geopolitik di Timur Tengah mendorong reli harga energi sekaligus menekan daya tarik logam mulia di tengah ekspektasi suku bunga tinggi.
Minyak mentah Brent, patokan internasional, naik lebih dari 3% dan ditutup di US$ 109,26 per barel. Sementara kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Juni melonjak lebih dari 4% ke US$ 105,42 per barel.
Baca Juga
Emas Turun 1% Saat Harga Minyak Naik dan Tekan Prospek Suku Bunga
Lonjakan tersebut dipicu sinyal keras dari Trump setelah meninggalkan pertemuan puncak dengan Presiden China Xi Jinping tanpa kemajuan berarti terkait penyelesaian konflik Iran.
Dalam wawancara dengan Fox News yang ditayangkan Kamis (14/5/2206) malam, Trump menegaskan kesabarannya terhadap Teheran mulai habis. “Saya tidak akan lebih sabar lagi. Mereka harus membuat kesepakatan,” kata Trump.
Trump menyebut Xi ingin Selat Hormuz dibuka kembali. Jalur pelayaran strategis tersebut merupakan salah satu urat nadi perdagangan energi global. Menurut Trump, Presiden China tidak menyukai keputusan Iran mengenakan biaya tol terhadap kapal-kapal yang melintasi kawasan tersebut.
Ia juga mengklaim Xi telah sepakat untuk tidak memberikan peralatan militer kepada Iran.
Pernyataan itu diperkuat Menteri Keuangan AS Scott Bessent yang mengatakan China akan bekerja di belakang layar untuk membantu membuka kembali Selat Hormuz. “Sangat menguntungkan bagi mereka untuk membuka kembali selat tersebut,” kata Bessent dalam wawancara dengan CNBC.
Namun, Beijing tidak secara eksplisit menyinggung Selat Hormuz dalam pernyataan resmi setelah pertemuan puncak tersebut. Kementerian Luar Negeri China pada Jumat (16/5/2026) menegaskan bahwa penggunaan kekerasan bukan solusi. “Tidak ada gunanya melanjutkan konflik ini, yang seharusnya tidak terjadi sejak awal,” kata juru bicara kementerian.
Pemerintah China menilai negosiasi tetap menjadi jalur terbaik demi stabilitas kawasan dan ekonomi global.
Baca Juga
Harga Melonjak Usai Xi Jinping Sepakat Membeli Minyak dari AS
Trump juga mengklaim China telah menyetujui pembelian minyak dalam jumlah lebih besar dari Amerika Serikat. “Mereka telah setuju ingin membeli minyak dari Amerika Serikat, mereka akan pergi ke Texas, kita akan mulai mengirim kapal-kapal Tiongkok ke Texas, Louisiana, dan Alaska,” ujar Trump kepada Fox News.
Harga minyak telah naik lebih dari 40% sejak perang AS-Israel meluas ke wilayah Iran. Kenaikan tersebut meningkatkan tekanan inflasi global dan mendorong spekulasi bahwa bank sentral akan mempertahankan kebijakan moneter ketat.
Data FedWatch Tool dari CME menunjukkan pelaku pasar masih memperkirakan penurunan suku bunga AS tahun ini. Namun, probabilitas kenaikan suku bunga mulai meningkat seiring memburuknya ekspektasi inflasi.

