Mendag Ingin Genjot Ekspor di Tengah Pelemahan Rupiah
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santodo menegaskan pemerintah terus mendorong peningkatan ekspor nasional di tengah tekanan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang sudah menyentuh angka Rp 17.500 per US$.
Menurut Mendag Budi, penguatan ekspor menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga pertumbuhan ekonomi agar tidak melambat akibat gejolak global dan fluktuasi kurs.
“Makanya kita dorong terus, jangan sampai nanti pertumbuhannya lebih kecil,” ujar Mendag Budi Santoso kepada awak media di kawasan Jakarta Pusat, Rabu (13/5/2026).
Untuk dapat menggenjot kinerja ekspor Indonesia, Mantan Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag tersebut mengatakan berbagai upaya terus dilakukan pemerintah untuk memperluas pasar dan meningkatkan kinerja ekspor nasional.
Baca Juga
Cadangan Devisa Turun, Rupiah Tertekan, Surplus Perdagangan Terancam Menyusut
“Salah satu caranya adalah seperti ini yang kita lakukan. Kita mendorong teman-teman untuk terus meningkatkan ekspor,” katanya.
Lebih lanjut, Mendag Budi pun optimistis tren ekspor Indonesia masih akan terus tumbuh pada April 2026 mendatang seiring meningkatnya aktivitas perdagangan dan pembukaan pasar baru. “Mudah-mudahan nanti April (2026) tetap naik terus ekspornya,” imbuh Mendag Budi.
Adapun pada Maret 2026, kinerja ekspor Indonesia tercatat sebesar US$ 22,53 miliar atau tumbuh 1,62% dibandingkan Februari 2026 (MtM), meskipun secara tahunan masih terkontraksi 3,10% (YoY). Peningkatan ekspor secara bulanan didorong lonjakan ekspor migas sebesar 18,60%, sementara ekspor nonmigas tumbuh terbatas sebesar 0,75%.
Kenaikan ekspor nonmigas ditopang peningkatan signifikan pada sejumlah komoditas utama, di antaranya bijih logam, terak dan abu (HS 26) yang melonjak 8.055,36%, aluminium (HS 76) 112,99%, serta logam mulia dan perhiasan (HS 71) 98,89%.

