Bagikan

Namma Yatri Tawarkan Model 'Ride-Hailing' atau Ojek Online Tanpa Berbagi Komisi dengan Driver

Poin Penting

Namma Yatri jadi penyedia teknologi mobilitas terbuka bagi mitra lokal Indonesia.
Model bisnis tanpa komisi prioritaskan pendapatan maksimal bagi pengemudi ojek.
Nama aplikasi dan data sepenuhnya milik entitas lokal, bukan perusahaan India.

JAKARTA, Investortrust.id - Peta persaingan layanan transportasi daring di Indonesia bisa jadi berpotensi mengalami perubahan besar jika masuk pendekatan atau model bisnis ride hailing baru dari India. Adalah Namma Yatri, sebuah aplikasi layanan transportasi (ride-hailing) asal India yang sangat unik karena mengusung konsep tanpa komisi dan berbasis protokol terbuka, disebut-sebut tengah membidik Indonesia untuk bisa menerapkan model bisnis ride hailing yang sejauh ini sukses diterapkan di India.

“Kami sangat terbuka untuk mendukung ekosistem (transportasi online di Indonesia) dan ikut mengembangkannya. Ini bukan hanya soal teknologi. Kami punya pengalaman 6 tahun terakhir bekerja di ruang ini dan sekitar 10 tahun di infrastruktur publik digital,” kata Co-Founder Namma Yatri, Shan MS.

Disampaikan Shan, pihaknya telah mengikuti semacam diskusi dengan sejumlah pelaku bisnis yang tergabung dalam Indonesia Open Network, dan menurutnya ada ketertarikan pelaku usaha lokal dengan model bisnis yang dijalankan oleh Namma Yatri untuk bsia diterapkan di Indonesia.

Namun demikian Shan menyebut pihaknya tidak bisa menjabarkan lebih rinci ke arah mana diskusi tadi berujung. “Saya yakin pihak ION (pihak penyelenggara/mitra) akan berada di posisi yang tepat untuk membicarakannya,” tutur Shan saat bincang-bincang dengan Investortrust.id pada Selasa (12/5/2026),

Chief Operating Officer Namma Yatri, Shan M S, Namma Yatri merupakan perusahaan transportasi digital berbasis jaringan terbuka di India. Foto: Investortrust/Dicki Antariksa.
Source: Investortrust

Namma Yatri memang menawarkan model bisnis yang benar-benar berbeda dibandingkan para pemain yang sudah lebih dulu ada, seperti Gojek, Grab maupun Maxim dan lainnya. Ketika para pemain lama menggunakan sistem profit sharing dengan para pengemudi yang menjadi mitranya, Namma Yatri jutsru tidak menerapkan sistem berbagi komisi tersebut. "Namma Yatri tidak memotong komisi driver sama sekali, zero commission. Mereka bisa memanfaatkan infrastruktur open protocol yang kami sediakan secara harian atau daily flat fee, weekly flat fee. Sementara driver bisa bertransaksi dengan konsumen atau pelanggan secara unlimited di periode tersebut," ujar Shan.

Menurut Shan, model operasional Namma Yatri membawa paradigma baru yang disebut sebagai Mobilitas 3.0, sebuah konsep yang mendesentralisasikan layanan transportasi daring agar lebih adil bagi para penggerak di lapangan.

Berbeda dengan platform ride-hailing konvensional seperti Grab dan Gojek yang bertindak sebagai perantara terpusat, Namma Yatri memposisikan dirinya sebagai infrastruktur publik digital. Inti dari model ini adalah penggunaan protokol terbuka yang memungkinkan berbagai entitas dan aplikasi saling terhubung secara transparan, mirip dengan cara kerja internet atau email yang tidak dikuasai oleh satu perusahaan tunggal.

Baca Juga

RI-India Perkuat Kerja Sama Digital, AI, dan Semikonduktor

Perbedaan paling mencolok terletak pada skema monetisasi di mana Namma Yatri sepenuhnya meniadakan sistem komisi persentase yang biasanya memotong pendapatan pengemudi. Sebagai gantinya, mereka menerapkan model langganan dengan biaya tetap harian yang sangat rendah guna menutupi biaya operasional teknologi semata.

“Jadi pengemudi yang ingin menggunakan platform Namma Yatri, mereka tinggal membayar 25 Rupee sehari (setara dengan Rp4.586), berikutnya mereka masuk dalam ekosistem yang akan mempertemukan mereka dengan para pelanggan. Layanan yang mereka berikan murni adalah layanan pribadi sehingga mereka pasti akan memberikan yang terbaik untuk pelanggan mereka,” kata Shan.

Chief Operating Officer Namma Yatri, Shan M S dalam sesi wawancara bersama Investortrust di Gedung Smesco, Jakarta, Selasa (12/5/2026). Foto: Investortrust/Dicki Antariksa.
Source: Investortrust

Shan juga memastikan bahwa hampir seluruh nilai transaksi yang dibayarkan oleh penumpang langsung masuk ke kantong pengemudi, sehingga memberikan insentif kesejahteraan yang jauh lebih besar dibandingkan model bagi hasil yang diterapkan oleh platform lainnya.

Secara filosofis, ujar Shan, Namma Yatri mengembalikan hak kendali atau agensi kepada para pengemudi. Jika pada sistem ride hailing yang sudah eksis posisi pengemudi cenderung menjadi pekerja yang dikendalikan oleh algoritma platform, maka Namma Yatri memperlakukan mereka sebagai pengusaha mandiri yang memiliki basis pelanggannya sendiri. Pendekatan ini didorong oleh prinsip kepemilikan komunitas, di mana para pengemudi memiliki rasa bangga dan tanggung jawab lebih untuk memberikan layanan terbaik karena mereka merasa memiliki platform tersebut secara kolektif.

Karena pengemudi di ekosistem Namma Yatri bertindak sebagai pemilik, mereka secara alami menjadi duta merek yang mempromosikan layanan kepada masyarakat, sehingga biaya pemasaran bisa ditekan hingga ke level minimal tanpa perlu melakukan praktik bakar uang.

Shan juga menegaskan, jika Namma Yatri berkesempatan bisa menularkan model bisnis ride hailing-nya, maka Namma Yatri tidak akan menjadi "pemain baru” yang akan mendominasi pasar lewat satu platform. Sebaliknya, Namma Yatri memposisikan diri sebagai penyedia teknologi dan infrastruktur digital yang akan menyerahkan kontrol sepenuhnya kepada entitas lokal, baik itu pemerintah daerah, koperasi pengemudi, maupun pengusaha lokal.

Shan menjelaskan bahwa model bisnis yang ditawarkan Namma Yatri akan bersifat sangat terdesentralisasi. Bahkan nama aplikasi, kepemilikan data, hingga operasional harian akan dikendalikan sepenuhnya oleh mitra, bukan oleh perusahaan pusat Namma Yatri di India.

Chief Operating Officer Namma Yatri, Shan M S dalam sesi wawancara bersama Investortrust di Gedung Smesco, Jakarta, Selasa (12/5/2026). Foto: Investortrust/Dicki Antariksa.
Source: Investortrust

Pasalnya, kata Shan, tujuan utama inisiatif ini adalah memberdayakan komunitas lokal agar mampu menjalankan layanan mobilitas mereka sendiri secara mandiri dan efisien.

“Ide kami bukan berarti harus mengganti atau menggeser. (Tetapi) menyediakan alternatif bagi pengemudi yang sifatnya lebih memberdayakan mereka. Memberikan lebih banyak pilihan kepada pengemudi dan pelanggan. Dan pada dasarnya mempertahankan pertumbuhan ekonomi dan prospek di dalam negeri,” ujar Shan.

Bicara berkembang pesatnya Namma Yatri di India, menurut Shan inspirasi datang dari kesuksesan protokol Beckn dan UPI di India yang telah mendisrupsi sistem pembayaran dan identitas digital di India.

Di India, Namma Yatri telah membuktikan bahwa bisnis ini tetap berkelanjutan meski hanya mengenakan biaya langganan harian yang sangat rendah, sekitar 25 rupee atau setara US$ 3 sen, tanpa mengambil komisi dari setiap transaksi.

Baca Juga

Segera Rampung, Dubes India Sebut Integrasi QRIS-UPI Bakal Segera Diluncurkan

Shan mengeklaim bahwa inovasi teknologi pada sisi infrastruktur dan penggunaan perangkat lunak open-source memungkinkan biaya operasional ditekan serendah mungkin. Hal ini sangat kontras dengan model bisnis duopoli saat ini yang cenderung menarik pengguna dengan insentif di awal namun kemudian membebani pengemudi dan pelanggan dengan komisi tinggi di belakang hari.

Chief Operating Officer Namma Yatri, Shan M S dalam sesi wawancara bersama Investortrust di Gedung Smesco, Jakarta, Selasa (12/5/2026). Foto: Investortrust/Dicki Antariksa.
Source: Investortrust

Ketertarikan Namma Yatri terhadap Indonesia didasari oleh kesamaan kultur dan tantangan geografis yang ada. Shan pun mengaku telah berbicara langsung dengan para pengemudi ojek di Jakarta dan merasakan adanya keresahan serupa mengenai penghasilan yang terus tergerus komisi.

Ia pun mengapresiasi langkah pemerintah Indonesia yang mulai membatasi komisi platform di angka 8%, namun ia optimistis bahwa teknologinya mampu membawa angka tersebut jauh lebih rendah lagi, bahkan di bawah 4%, sehingga kesejahteraan pengemudi dapat meningkat secara signifikan.

Lebih lanjut, Shan menekankan bahwa model ini akan menciptakan efek pengganda bagi ekonomi lokal. Dengan meniadakan komisi yang biasanya mengalir ke luar negeri sebagai dividen korporat, perputaran uang akan tetap berada di dalam ekosistem lokal. Namma Yatri juga tidak membatasi diri pada layanan taksi atau ojek saja, melainkan siap mengintegrasikan seluruh transportasi publik, mulai dari parkir hingga tiket masuk, ke dalam satu protokol terbuka yang interoperabel.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024