Kadin Aceh Dorong Lompatan Agroindustri Pangan
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Kadin Aceh mendorong percepatan investasi peternakan ayam terpadu dan pengembangan agroindustri jagung terintegrasi sebagai strategi besar memperkuat ketahanan pangan, menjaga stabilitas harga ayam dan telur, mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG), sekaligus membuka jalan menjadikan Aceh sebagai basis baru industri pangan halal dan pusat ekspor kawasan barat Indonesia.
Ketua Umum Kadin Aceh Ir. H. Muhammad Iqbal menegaskan, persoalan utama Aceh saat ini bukan kelebihan produksi pangan, melainkan justru keterbatasan kapasitas produksi lokal, terutama untuk komoditas protein unggas dan industri pakan. “Masalah Aceh hari ini bukan kelebihan produksi, tetapi kekurangan kapasitas produksi,” kata Iqbal dalam wawancara khusus dengan Investortrust di Gedung Menara Kadin, Jakarta, Senin (11/05/2026).
Menurut Iqbal, selama ini harga ayam dan telur di Aceh relatif lebih tinggi dibandingkan banyak provinsi lain di Sumatera maupun rata-rata nasional. Kondisi tersebut dipicu terbatasnya kapasitas produksi lokal, tingginya ketergantungan terhadap pasokan luar daerah, belum terbentuknya industri unggas terintegrasi, serta mahalnya biaya logistik dan pakan.
Akibat kondisi tersebut, harga pasar menjadi tidak stabil, beban masyarakat meningkat, risiko pasokan pangan untuk mendukung program MBG ikut membesar, sementara peluang ekonomi daerah belum berkembang optimal. Bahkan, Aceh hingga kini belum memiliki komoditas ekspor jagung maupun industri pakan yang kuat.
Iqbal menjelaskan, secara nasional Indonesia memang mencatat surplus produksi ayam dan telur. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi daging ayam nasional pada 2025 mencapai sekitar 4,28 juta ton dengan kebutuhan sekitar 3,92 juta ton. Produksi telur ayam nasional mencapai sekitar 6,5 juta ton dengan kebutuhan sekitar 6,3 juta ton.
Namun, menurut dia, surplus nasional tersebut tidak otomatis menciptakan ketahanan pangan merata di seluruh daerah karena distribusi industri unggas masih terkonsentrasi di Pulau Jawa dan sebagian Sumatera Utara. “Aceh belum menjadi basis industri unggas nasional. Ketahanan pasokan Aceh masih lemah dan harga tinggi karena supply lokal terbatas. Jika produksi lokal kuat, harga akan lebih stabil,” ujarnya.
Karena itu, KADIN Aceh mendorong lahirnya investasi besar yang tidak sekadar membangun kandang ayam, melainkan membangun ekosistem industri pangan modern berbasis peternakan dan agroindustri pakan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Konsep industri terpadu tersebut mencakup breeding dan pembibitan, peternakan ayam pedaging (broiler) dan petelur (layer), industri pakan ternak, pengembangan kawasan jagung pakan, rumah potong unggas modern, cold storage dan logistik distribusi, pengolahan produk hilir pangan, hingga orientasi ekspor regional ke India, Timur Tengah, Asia Selatan, dan sebagian Afrika.
Baca Juga
Kadin Aceh Dorong Pembangunan Ekosistem Peternakan Terpadu demi Kemandirian Pangan
“Yang dibangun bukan sekadar kandang ayam. Yang dibangun adalah ekosistem industri pangan modern,” kata Iqbal. Dalam konsep tersebut, jagung ditempatkan sebagai sektor paling strategis karena menjadi bahan utama industri pakan ternak. Sementara itu, biaya pakan merupakan komponen terbesar dalam industri peternakan unggas modern.
Selama ini, kebutuhan jagung pakan Aceh masih sangat bergantung pada pasokan luar daerah sehingga menyebabkan biaya produksi unggas tinggi, harga ayam dan telur tidak stabil, dan industri lokal sulit berkembang. “Tanpa industri jagung, industri ayam tidak akan efisien,” ujarnya.
Karena itu, investasi tersebut juga diarahkan untuk membangun budidaya jagung skala industri berbasis kemitraan dengan petani lokal, pembangunan fasilitas dryer dan storage jagung, penguatan industri pakan ternak, serta integrasi langsung dengan industri peternakan ayam modern.
Menurut Iqbal, pendekatan tersebut akan menciptakan dampak ekonomi yang jauh lebih luas karena petani memperoleh kepastian pasar, harga jagung menjadi lebih kompetitif, industri pakan Aceh tumbuh, dan biaya produksi unggas dapat ditekan.
Ia menilai Aceh memiliki keunggulan geoekonomi yang sangat strategis untuk pengembangan agroindustri pangan dan pakan. Aceh berada di pintu barat Indonesia, dekat dengan jalur perdagangan internasional Selat Malaka dan Samudera Hindia.
Posisi tersebut membuka peluang logistik yang lebih efisien menuju pasar Timur Tengah, India, Asia Selatan, hingga sebagian kawasan Afrika. “Jagung Aceh tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga menjadi komoditas ekspor unggulan Aceh ke depan,” katanya.
Iqbal menjelaskan, kajian investasi, studi pasar, kesiapan perizinan, potensi serapan pasar lokal dan regional, hingga peluang ekspor telah dipersiapkan secara serius. Potensi kebutuhan pasar diperkirakan terus meningkat dari sektor rumah tangga, hotel-restoran-katering, industri makanan, kebutuhan MBG, hingga pasar regional dan internasional.
Dalam konteks tersebut, Kadin Aceh mulai menjajaki kemitraan investasi luar negeri, termasuk dengan mitra dari China. Menurut dia, langkah tersebut dilakukan bukan untuk mengabaikan pelaku usaha lokal, tetapi karena pembangunan industri peternakan ayam terpadu membutuhkan modal sangat besar, teknologi modern, sistem biosecurity tinggi, dan integrasi rantai pasok yang selama ini belum optimal diwujudkan di Aceh.
Karena itu, Iqbal menilai narasi yang menyebut investasi ini akan “mematikan usaha peternak lokal” perlu dilihat secara objektif dan berbasis data. Faktanya, kata dia, Aceh masih kekurangan pasokan ayam dan telur, produksi lokal belum mencukupi kebutuhan pasar, dan pasar masih sangat terbuka.
Baca Juga
BP BUMN Dorong Pengembangan Peternakan Ayam untuk Perkuat Ketahanan Pangan Nasional
Menurut Iqbal, industri modern justru dapat hidup berdampingan dengan peternak rakyat melalui pola kemitraan plasma, kontrak produksi, penyediaan DOC dan pakan, transfer teknologi, hingga pendampingan manajemen produksi modern. “Bukan menggusur, tetapi memperbesar kapasitas ekonomi Aceh,” tegasnya.
Ia menjelaskan, investasi peternakan ayam terpadu tersebut diproyeksikan menciptakan multiplier effect ekonomi yang besar bagi Aceh. Dampaknya antara lain meningkatkan stabilitas harga ayam dan telur, memperkuat ketahanan pasokan pangan, membuka lapangan kerja baru mulai dari tenaga kandang, logistik, distribusi, teknisi, dokter hewan, hingga UMKM pendukung.
Selain itu, industri pakan lokal diperkirakan tumbuh lebih kuat, pendapatan petani jagung meningkat, industri hilir seperti frozen food, pupuk organik, dan pengolahan pangan berkembang, sekaligus memperkuat kesiapan Aceh mendukung program MBG nasional secara berkelanjutan.
Kadin Aceh juga melihat peluang besar menjadikan Aceh sebagai basis protein unggas, basis industri pakan, basis agroindustri jagung, hub pangan halal regional, serta pusat ekspor kawasan barat Indonesia. “Investasi bukan ancaman bagi Aceh. Yang menjadi ancaman justru ketergantungan pasokan, tingginya harga pangan, lemahnya industri lokal, dan hilangnya peluang ekonomi masa depan,” ujar Iqbal.
Karena itu, lanjut dia, Aceh membutuhkan investasi yang mampu memperbesar kapasitas produksi, memperkuat petani lokal, menurunkan harga pangan, membuka lapangan kerja, dan mendorong kemandirian ekonomi daerah secara berkelanjutan. “Jika modal lokal belum siap, Aceh tidak boleh kehilangan momentum pertumbuhan,” katanya.

