AHY "Semprot" Pejabat PU di Tengah Arahan Normalisasi Kali Ciliwung
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menegur langsung seorang pejabat Kementerian Pekerjaan Umum (PU) yang meninggalkan lokasi saat pengarahan berlangsung dalam kegiatan terkait peninjauan dan penanganan banjir di Jakarta.
Teguran kepada Plt Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Ciliwung Cisadane Ahmad Victor Samodra itu terjadi di tengah penyampaian materi teknis yang dinilai krusial, khususnya menyangkut kapasitas Kali Ciliwung dan kebutuhan normalisasi.
Baca Juga
AHY Peringatkan Kerugian Rp 6.396 Triliun Jika 'Giant Sea Wall' Tak Dibangun
“Pak, saya bicara untuk bapak lho. Mau ke mana? Anda dengarkan saya dulu di sini, bagaimana mau mendengarkan arahan kalau bapak ketika saya panggil tidak ada gitu lho,” kata AHY dengan nada tegas dalam arahannya di Inlet Sodetan Kali Ciliwung, Jatinegara, Jakarta Timur, seperti dikutip YouTube Kemenko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Senin (11/5/2026).
Ia bahkan sempat memanggil dua kali sebelum meminta yang bersangkutan kembali dan duduk mengikuti arahan hingga selesai.
Peristiwa itu terjadi saat AHY menjelaskan pentingnya penanganan banjir secara menyeluruh, dari hulu hingga hilir pada Kamis (7/5/2026) pelan lalu Ia menekankan bahwa persoalan banjir di Jakarta tidak bisa ditangani secara parsial, melainkan membutuhkan pendekatan terpadu lintas wilayah, mulai dari kawasan hulu di Bogor, wilayah tengah, seperti Depok, hingga hilir di Jakarta.
Dalam paparannya, AHY mengungkapkan, Sungai Ciliwung memiliki panjang sekitar 109 km dengan daerah aliran sungai (DAS) mencapai 521 kilometer persegi (km2) yang membentang dari kawasan hulu hingga hilir.
Menurut AHY, masih terdapat sejumlah titik rawan banjir yang memerlukan percepatan penanganan, termasuk pembangunan tanggul setinggi hingga 5 meter. “Ini harus kita segera lakukan normalisasi pembangunan tanggul kurang lebih tingginya 4 hingga 5 meter,” ujarnya.
AHY menyampaikan, salah satu tantangan utama normalisasi sungai adalah persoalan pembebasan lahan dan keberadaan bangunan-bangunan di sempadan sungai yang menyebabkan penyempitan aliran air.
“Tadi lebarnya kurang lebih itu 15-25 meter, padahal itu hanya menampung kurang lebih 200 meter kubik per detik. Ini kalau 35-50 meter lebarnya bisa menampung 570 meter kubik per detik, (harus) kita lebarkan,” jelas AHY.
Ia menekankan pentingnya pengerukan rutin untuk mencegah pendangkalan atau sedimentasi sungai yang terjadi setiap tahun.
Baca Juga
Menko AHY: Pantura Jawa Hadapi Tekanan Ganda Penurunan Muka Tanah dan Kenaikan Air Laut
“Karena kalau Jakarta tadi penjelasannya setiap tahun itu harus terus dilakukan normalisasi, menghindari pendangkalan 20 cm, pendangkalan 50 cm -- itu harus dilakukan terus pengerukan,” ungkap AHY.
Selain pembangunan fisik, AHY meminta masyarakat ikut menjaga kebersihan sungai dan tidak membuang sampah sembarangan agar aliran air tidak tersumbat saat debit meningkat. “Kalau asal buang sampah sudah pasti akan terjadi kebuntuan. Mau dibuat sodetan-sodetan sebanyak apa pun, kita sulit untuk mengalirkan air yang deras,” tutur AHY.

