Bagikan

Bahlil Pastikan Biodiesel B50 Siap Berlaku 1 Juli 2026

Poin Penting

Pemerintah menargetkan implementasi biodiesel B50 mulai 1 Juli 2026 jika seluruh uji coba berjalan lancar.
Pengujian dilakukan pada kapal, kereta api, alat berat, dan kendaraan dengan progres sudah mencapai 70 persen.
Program B50 diposisikan sebagai strategi jangka panjang mengurangi ketergantungan impor solar global.

JAKARTA, investortrust.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan kabar terkini terkait rencana implementasi biodiesel B50 yang ditargetkan berjalan mulai 1 Juli 2026 mendatang. Menurutnya, sejauh ini segala persiapan masih on the track.

Bahlil menyampaikan bahwa pemerintah terus mematangkan persiapan, salah satunya dengan melakukan berbagai uji coba. Pengujian dilakukan di berbagai sektor, mulai alat berat, kereta api, kapal, hingga kendaraan bermotor.

“B50, 1 Juli sudah mulai penerapan dan sudah melakukan tes-tes terus. Dalam schedule kita 1 Juli di penerapan, doain dalam tes-tes, sekarang kan tes di kapal, di beberapa alat berat dan kereta, mudah-mudahan enggak ada soal,” kata Bahlil saat ditemui di Sekretariat Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (11/5/2026).

Baca Juga

Penerapan B50 Diharap Fleksibel, Ini Sebabnya

Kendati demikian, Bahlil tidak memungkiri bahwa terdapat faktor yang bisa menggagalkan implementasi B50 pada bulan Juli mendatang. Menurut dia, jika terdapat permasalahan saat uji coba, maka bisa saja implementasi B50 diundur.

“Kalau dia sesuai schedule, enggak ada soal, 1 Juli penerapannya. Namun, katakanlah dalam uji coba itu ada mesinnya, ada mungkin yang enggak pas, kita akan melakukan penyesuaian,” ucap dia.

Sebelum ini, Bahlil menyampaikan bahwa uji coba B50 saat ini telah menunjukkan progres signifikan dan ditargetkan rampung dalam waktu dekat. Dia menyebut, uji coba terhadap B50 sekarang sudah ke arah 60–70%.

Bahlil menegaskan, implementasi B50 merupakan bagian dari kebijakan strategis pemerintah dalam menghadapi dinamika energi global. Menurutnya, langkah ini tidak semata didorong oleh faktor harga minyak dunia, melainkan sebagai upaya jangka panjang untuk memperkuat ketahanan energi nasional.

Baca Juga

Fleksibilitas Implementasi B50 dan Masalah Kepastian Hukum Industri Sawit

“Ini sudah menjadi kebijakan negara, ini survival mode. Supaya kita tidak tergantung pada global terhadap BBM kita, khususnya untuk solar,” tutur Bahlil.

Terkait kesiapan industri, termasuk kapasitas pabrik yang dinilai belum sepenuhnya memadai untuk mendukung implementasi B50, Bahlil menyebut pemerintah terus melakukan penyesuaian. Dia optimistis solusi atas tantangan tersebut telah disiapkan.

“Terkait dengan pabrik, kita terus melakukan penyesuaian. Tapi insyaallah sudah ada solusi,” kata mantan Menteri Investasi tersebut.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024