Bahlil Ungkap Rencana ASEAN Power Grid di Tengah Geopolitik Global
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan negara-negara ASEAN tengah memperkuat kerja sama energi kawasan melalui pengembangan jaringan listrik regional atau ASEAN power grid di tengah meningkatnya tekanan geopolitik global.
Bahlil mengatakan, isu penguatan kerja sama energi menjadi salah satu fokus utama dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN di Filipina yang dihadirinya bersama Presiden Prabowo Subianto.
Baca Juga
Produksi Listrik PGE (PGEO) Melejit 15%, Lumut Balai Jadi Motor Pertumbuhan Baru
“Saya kebetulan baru pulang dari KTT ASEAN mendampingi Pak Presiden Prabowo di Filipina. Di dalam KTT, kita menyepakati beberapa hal penting dalam pandangan dari Bapak Presiden Prabowo, mengajak ASEAN melakukan kerja sama kawasan yang saling menguntungkan, khususnya di sektor energi,” ujar Bahlil saat ditemui di Sekretariat Kementerian ESDM Jakarta, Senin (11/5/2026).
Menurut dia, kondisi geopolitik global saat ini membuat hampir seluruh negara mulai fokus mengamankan kepentingan energi domestik dan kawasan masing-masing. Untuk itu, ASEAN dinilai perlu memperkuat kolaborasi untuk menjaga ketahanan energi regional.
Dalam forum tersebut, Indonesia mendorong optimalisasi energi baru terbarukan (EBT) sebagai strategi menjaga keberlanjutan pasokan energi di masa depan. Bahlil menyebut Presiden Prabowo memaparkan sejumlah program prioritas Indonesia di sektor energi hijau, mulai implementasi biodiesel B50 hingga rencana pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt (GW).
“Kemudian kita melakukan kerja sama juga dengan Malaysia untuk pembangkit listrik tenaga air (PLTA) power grid. Itu juga kita kemarin bahas,” sebut mantan Menteri Investasi tersebut.
Lebih lanjut, Bahlil mengungkapkan komunikasi intensif antarnegara ASEAN kini terus dilakukan untuk memperluas konektivitas jaringan listrik kawasan. Saat ini, interkoneksi listrik antara Indonesia dan Malaysia telah berjalan dan ke depan akan diperluas hingga Filipina. “Sekarang kita sudah bangun jaringan antara Malaysia-Indonesia. Sebentar lagi akan masuk Filipina,” ucapnya.
Di sisi lain, Singapura juga disebut tertarik memperluas impor listrik dari Indonesia. Namun, pemerintah menegaskan kerja sama tersebut harus dilakukan berdasarkan prinsip saling menguntungkan. “Singapura minta. Ini sebenarnya ide yang bagus selama saling menguntungkan,” ujar Bahlil.
Baca Juga
ESDM Genjot SPKLU Tembus 62.000 Unit pada 2030 untuk Percepat Era Kendaraan Listrik
Menurut dia, Indonesia saat ini juga mengimpor listrik dari Malaysia melalui jaringan PLTA di Kalimantan dengan skema harga yang dinilai wajar. “Untuk Singapura kita juga akan ekspor, tapi harganya juga harus cenli (wajar/adil). Selama itu belum bicara win-win, maka penting dilakukan kajian lebih mendalam,” tutur Bahlil.
Langkah ini dinilai menjadi bagian dari strategi Indonesia memperkuat posisi sebagai pemain utama energi hijau di Asia Tenggara sekaligus membuka peluang ekspor listrik berbasis energi bersih di masa mendatang.

