Harga Emas Cetak Kenaikan 3 Hari Beruntun, Pasar Tunggu Sinyal The Fed
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortust.id - Harga emas dunia Kamis (8/5/2026) melanjutkan penguatan untuk sesi ketiga berturut-turut seiring meningkatnya optimisme pasar terhadap peluang tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Sentimen ini meredakan kekhawatiran inflasi global sekaligus membuka ruang bagi pelonggaran kebijakan moneter oleh bank sentral AS.
Harga emas spot naik 1,1% menjadi US$ 4.740,42 per ons setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam dua pekan. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS menguat 1,2% ke level US$ 4.749,20 per ons.
Penguatan harga logam mulia terjadi di tengah ekspektasi meredanya konflik geopolitik di Timur Tengah yang selama beberapa pekan menjadi pemicu utama lonjakan harga energi dan kekhawatiran inflasi global.
Senior Market Strategist RJO Futures Bob Haberkorn mengatakan keberlanjutan gencatan senjata akan menjadi faktor penentu pergerakan emas dalam jangka pendek.
“Jika gencatan senjata bertahan, dan kita dapat mengakhiri perang ini, serta kembali berbisnis dengan Selat yang terbuka, saya memperkirakan harga emas akan melonjak hingga US$ 5.000 per ons,” kata Haberkorn dikutip CNBC.
Baca Juga
Harga Emas Antam (ANTM) Turun ke Rp 2,795 Juta, Pasar Cermati Inflasi AS
Menurut dia, pelaku pasar kini memusatkan perhatian pada perkembangan geopolitik Timur Tengah dan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sebelumnya memproyeksikan konflik dengan Iran dapat segera berakhir setelah Teheran mempertimbangkan proposal perdamaian dari Washington. Proposal tersebut disebut akan mengakhiri konflik secara formal, meski masih menyisakan tuntutan utama AS agar Iran menghentikan program nuklirnya serta membuka kembali akses pelayaran di Selat Hormuz.
Meredanya ketegangan turut menekan harga minyak global. Minyak mentah Brent tercatat diperdagangkan di bawah US$ 100 per barel. Penurunan harga energi dapat meredakan tekanan inflasi yang selama ini menjadi pertimbangan utama Federal Reserve dalam menentukan suku bunga acuan. Dalam kondisi inflasi yang lebih terkendali, bank sentral memiliki ruang lebih besar memangkas suku bunga.
Prospek suku bunga lebih rendah menjadi katalis positif buat emas. Logam mulia cenderung lebih menarik saat suku bunga turun karena tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi atau instrumen pendapatan tetap lainnya.
Analis TD Securities dalam riset terbarunya menyebut harga emas berpeluang menembus US$ 5.200 per ons jika tekanan akibat konflik geopolitik dan lonjakan inflasi berbasis energi mereda. Lembaga tersebut menilai kombinasi perubahan kebijakan Federal Reserve yang lebih fokus pada mandat lapangan kerja maksimum, penurunan imbal hasil obligasi, serta pelemahan dolar AS dapat kembali menghidupkan tren bullish emas.
Selain itu, permintaan kuat dari investor institusi dan bank sentral global dinilai tetap menjadi fondasi penguatan harga.
Baca Juga
Harga Emas Anjlok 2% Tertekan Konflik AS-Iran dan Penguatan Dolar Perkasa
Laporan Ketenagakerjaan AS
Fokus pasar kini tertuju pada laporan ketenagakerjaan bulanan Amerika Serikat yang dijadwalkan rilis Jumat (8/5/2026). Data tersebut akan menjadi petunjuk penting bagi investor untuk membaca arah kebijakan moneter The Fed sepanjang tahun ini.
Dukungan tambahan datang dari China. Data terbaru menunjukkan bank sentral negara tersebut kembali menambah cadangan emas untuk bulan ke-18 secara berturut-turut pada April. Hal ini menegaskan tren diversifikasi aset cadangan devisa dari dolar AS ke emas.
Di pasar logam mulia lainnya, harga perak melonjak 5% menjadi US$ 81,19 per ons, level tertinggi sejak 17 April. Platinum naik 1,2% ke US$ 2.085,75 per ons, sedangkan paladium menguat tipis 0,1% menjadi US$ 1.539,01 per ons.

