Rupiah Tertekan, Harga Properti Terancam Naik
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Pelemahan nilai tukar rupiah ke kisaran Rp 17.391 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Rabu (6/5/2026) per pukul 14.57 WIB dinilai berpotensi mendorong kenaikan harga jual properti, terutama akibat peningkatan biaya material konstruksi yang memiliki komponen impor.
Head of Research & Consulting CBRE Indonesia, Anton Sitorus menyatakan, pelemahan rupiah akan berdampak langsung terhadap biaya pembangunan yang kemudian diteruskan ke harga jual oleh pengembang.
“Dampaknya pasti ke harga karena kalau rupiah melemah, biaya material naik segala macam, pengembang pasti akan balikin ke harga,” ungkap Anton saat ditemui seusai media briefing di Mid Plaza 1, Jakarta, Rabu (6/5/2026).
Baca Juga
Kunjungan Menteri PKP ke Hunian Warisan Bangsa Purwakarta, Dorong Hunian Terjangkau untuk MBR
Ia menjelaskan, dampak tersebut tidak merata pada seluruh segmen properti. Untuk segmen high-end, khususnya rumah tapak (landed house), kenaikan harga dinilai tetap dapat terjadi meskipun daya beli relatif tidak sensitif terhadap perubahan harga.
“Pengalaman pengembang kelas atas, jualan high-end tetap laku walaupun dalam kondisi krisis. Sensitivitasnya rendah karena pembelinya tidak sensitif terhadap harga,” ucap Anton.
Menurutnya, kenaikan harga pada properti high-end cenderung terjadi secara bertahap. “Kalau landed property (rumah tapak), harga pasti naik. Yang kemarin dijual Rp 40 miliar, mungkin akan naik sedikit-sedikit,” papar Anton.
Namun demikian, Anton menilai kondisi berbeda terjadi pada apartemen high-end yang lebih berorientasi investasi. Ia menyebut harga pada segmen tersebut cenderung stagnan. “Kalau apartemen high-end untuk investasi tidak naik karena memang harganya tidak bergerak,” tuturnya.
Sementara itu, segmen menengah hingga menengah bawah dinilai lebih rentan terhadap dampak pelemahan rupiah. Hal ini disebabkan tingginya ketergantungan terhadap material konstruksi seperti baja dan semen yang memiliki komponen impor. “Yang middle sama middle-low ini yang mungkin terpengaruh, terutama harga baja dan semen karena komponen exchange rate-nya cukup besar,” imbuh Anton.
Dikatakan Anton, material lokal, seperti pasir dan batu bata dinilai tidak terlalu terdampak fluktuasi nilai tukar karena diproduksi di dalam negeri.
Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 09.06 WIB, mata uang Garuda menguat 0,22% ke posisi Rp 17.385 per dolar AS. Penguatan rupiah sejalan dengan pergerakan mayoritas mata uang Asia yang juga terapresiasi terhadap dolar AS.
Baca Juga
Pemerintah Siapkan 10 Kota Baru untuk Program Perumahan Rakyat, Ini Lokasinya
Yen Jepang naik 0,13%, ringgit Malaysia menguat 0,25%, peso Filipina bertambah 0,31%, baht Thailand naik 0,19%, dan dolar Singapura menguat 0,16%. Sementara itu, yuan China juga terapresiasi 0,14%.
Kepala Ekonom PT Bank Mandiri Tbk, Andry Asmoro menyebut, sentimen positif dipicu penurunan imbal hasil obligasi Pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun sebesar 1,41 basis poin menjadi 4,42%. Penurunan tersebut terjadi seiring meningkatnya optimisme pasar bahwa kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran berpotensi tercapai.
“Ini setelah Washington menyatakan penghentian operasi ofensif terhadap Iran, menegaskan kembali gencatan senjata, serta menghentikan upaya membantu kapal-kapal yang terjebak keluar dari Selat Hormuz,” ujar Andry.

