Perbankan Global Terancam Pelemahan Pasar Properti
MADRID, investortrust.id – Ketahanan perbankan global dalam kondisi terancam. Salah satu faktor yang menekan perbankan adalah pelemahan pasar properti komersial (commercial real estate).
Ancaman terhadap ketahanan perbankan tersebut dibahas dalam pertemuan Basel Committee on Banking Supervision (BCBS) pada 28 – 29 Februari 2024 di Madrid, Spanyol.
Menurut Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Dian Ediana Rae yang hadir dalam pertemuan tersebut, perbankan global saat ini menghadapi dua risiko besar. Risiko pertama adalah pasar properti komersial.
BCBS menilai, pelemahan pasar properti komersial khususnya di Amerika Serikat dan Kanada dipicu oleh tren bekerja secara hybrid yang berlanjut pasca-pandemi. Kondisi tersebut mengakibatkan tingkat kekosongan (vacancy rate) perkantoran yang tinggi. “Kondisi demikian berpotensi meningkatkan risiko kredit perbankan,” kata Dian dalam keterangan tertulis, Kamis (7/3/2024).
Risiko utama kedua yang perlu diwaspadai oleh perbankan adalah keterkaitan bank dengan lembaga jasa keuangan nonbank. Keterkaitan dan konglomerasi sektor keuangan ini bisa menyeret perbankan jika lembaga keuangan nonbank menghadapi masalah serius.
Jika AS dan Kanada menghadapi masalah properti, perbankan Eropa khususnya di Inggris terbentur biaya dana (cost of fund) yang meningkat akibat peningkatan suku bunga acuan. Kondisi ini diprediksi bakal menghambat pertumbuhan perusahaan private equity dan private credit.
“Perbankan global yang mempunyai eksposur terhadap kedua lembaga keuangan non-bank tersebut diminta untuk meningkatkan kehati-hatiannya agar dampaknya tidak memberi efek rembetan kepada sektor perbankan,” kata Dian.
Dian menyebut bahwa kedua risiko besar tersebut berpotensi mengganggu ketahanan sistem perbankan global, khususnya di berbagai negara maju dan besar.
Namun, Dian memastikan bahwa kondisi perbankan Indonesia sangat solid. Selain rasio kecukupan modal (CAR) yang tinggi, sebesar 27,54%, rasio modal inti terhadap CAR sangat aman, sebesar 94,41%. Kondisi itu jauh lebih tinggi dibanding perbankan Amerika Serikat dan Eropa, yang masing-masing mencapai 14,41% dan 17,03%. Indikator-indikator lain seperti Liquidity Coverage Ratio (LCR) masih sebesar 231,14%.
OJK juga akan terus mengantisipasi berbagai dinamika kebijakan ekonomi dan perbankan global. Tensi geopolitik global dan volatilitas kondisi pasar masih akan terus terjadi dengan berbagai dinamikanya. “Sepanjang prinsip kehati-hatian dan praktik-praktik perbankan yang sehat terus dijaga, perbankan Indonesia akan tetap tangguh dan akan terus bertumbuh dengan sehat sebagaimana kondisi saat ini,” kata Dian.
Baca Juga

