Harga Emas Anjlok 2% Tertekan Konflik AS-Iran dan Penguatan Dolar Perkasa
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas global melemah tajam pada perdagangan Senin (4/5/2026) setelah eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memicu penguatan dolar AS sekaligus memperbesar kekhawatiran inflasi. Kondisi ini memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama.
Harga emas spot turun 2,6% menjadi US$ 4.524,40 per ons pada penutupan perdagangan. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Juni ditutup melemah 2,4% ke level US$ 4.533,30.
Iran dilaporkan menyerang sejumlah kapal di Selat Hormuz dan membakar fasilitas pelabuhan minyak di Uni Emirat Arab, memicu eskalasi terbesar sejak gencatan senjata diumumkan 4 pekan lalu. Situasi tersebut berkembang setelah upaya Presiden Amerika Serikat Donald Trump menggunakan Angkatan Laut AS untuk membuka kembali jalur pelayaran strategis di kawasan tersebut.
Kondisi ini langsung mengguncang pasar energi global. Harga minyak mentah Brent melonjak lebih dari 5%, sementara dolar AS menguat signifikan terhadap mayoritas mata uang utama dunia.
Penguatan mata uang AS membuat emas yang diperdagangkan dalam denominasi dolar menjadi lebih mahal bagi investor yang memegang mata uang lain, sehingga menekan permintaan.
Baca Juga
Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities Bart Melek mengatakan perkembangan terbaru meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap inflasi dan arah kebijakan moneter bank sentral. “Berita terbaru jelas tidak memberikan kepercayaan kepada pasar bahwa semuanya akan baik-baik saja dan sekali lagi memunculkan momok masalah inflasi, bersamaan dengan sinyal yang cukup agresif kepada pasar mengenai suku bunga,” kata Melek dilansir CNBC.
Lonjakan harga energi dinilai memperbesar risiko inflasi global. Dalam situasi seperti ini, pelaku pasar semakin memperkirakan bank sentral utama dunia, khususnya Federal Reserve AS (The Fed), akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama untuk meredam tekanan harga.
Pandangan itu semakin menguat setelah Barclays bergabung dengan sejumlah perusahaan pialang besar yang memperkirakan The Fed tidak akan memangkas suku bunga sepanjang tahun ini.
Federal Reserve pekan lalu mempertahankan suku bunga acuan dalam keputusan yang disebut sebagai yang paling terbelah sejak 1992. Sikap hati-hati bank sentral AS muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran bahwa lonjakan harga energi dapat mengganggu stabilitas ekonomi.
Fokus investor kini tertuju pada serangkaian data ekonomi penting Amerika Serikat yang akan dirilis pekan ini, termasuk data lowongan pekerjaan, laporan ketenagakerjaan ADP, serta data nonfarm payrolls April. Data-data tersebut akan menjadi petunjuk utama arah kebijakan moneter The Fed dalam beberapa bulan mendatang.
Meski emas selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi dan gejolak geopolitik, logam mulia cenderung kehilangan daya tarik ketika suku bunga tinggi bertahan karena tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen pendapatan tetap.
Baca Juga
AADI hingga EMAS Melonjak, Saham Boy Thohir Kuasai Top Gainer BEI Sepanjang Ytd
Melek menilai tekanan jangka pendek masih mungkin berlanjut, meski prospek jangka menengah tetap didukung ketidakpastian global. “Saya melihat level dukungan yang kuat di sekitar US$ 4.200 untuk emas. Ada isu-isu yang lebih luas pada akhir tahun yang dapat mendukung harga. Namun, ketidakpastian dan kemungkinan kenaikan suku bunga dapat mendorong beberapa pedagang keluar dari posisi mereka dalam waktu dekat,” ujarnya.
Tak hanya emas, logam mulia lainnya juga mencatat pelemahan. Harga perak spot turun 3,5% menjadi US$ 72,67 per ons, platinum melemah 2,2% ke US$ 1.946,15, sementara paladium turun 3% menjadi US$ 1.478,74 per ons.

