Harga Emas Turun di Tengah Kekhawatiran Inflasi dan Ketegangan AS-Iran
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas global melemah pada perdagangan Senin (4/5/2026) seiring meningkatnya kekhawatiran inflasi di Amerika Serikat (AS) dan ketidakpastian perkembangan negosiasi perdamaian antara Washington dan Teheran. Tekanan ini muncul saat pelaku pasar menilai prospek suku bunga tinggi yang berpotensi bertahan lebih lama, sehingga mengurangi daya tarik logam mulia sebagai aset lindung nilai.
Harga emas spot turun 0,3% menjadi US$ 4.599 per ons pada pukul 01.14 GMT. Sementara kontrak emas berjangka pengiriman Juni melemah 0,7% ke level US$ 4.611 per ons.
Dilansir Economic Times, penurunan ini terjadi di tengah meningkatnya fokus investor terhadap perkembangan geopolitik di Timur Tengah, terutama terkait upaya diplomasi terbaru antara Amerika Serikat dan Iran.
Baca Juga
Presiden AS Donald Trump mengatakan Washington akan memulai langkah untuk membebaskan kapal-kapal yang terdampar di Selat Hormuz sebagai “isyarat kemanusiaan” guna membantu negara-negara netral yang terdampak perang antara AS-Israel dan Iran. Pernyataan itu muncul setelah media pemerintah Iran melaporkan bahwa Washington telah menyampaikan respons terhadap proposal 14 poin dari Teheran melalui Pakistan. Pemerintah Iran saat ini disebut sedang menelaah proposal balasan tersebut.
Meski kabar diplomatik memberi secercah harapan, pasar masih menilai situasi belum cukup jelas untuk meredakan ketegangan secara penuh. Harga minyak memang turun tipis, tetapi masih bertahan di atas US$ 100 per barel. Level tinggi tersebut memicu kekhawatiran baru bahwa tekanan harga energi dapat memperburuk inflasi global.
Kondisi ini menjadi perhatian utama karena kenaikan harga minyak berpotensi mendorong bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Dalam situasi seperti ini, emas biasanya kehilangan sebagian daya tariknya karena investor cenderung beralih ke aset berbunga seperti obligasi pemerintah.
Inflasi Jadi Sorotan Utama
Tekanan tambahan datang dari kebijakan moneter Amerika Serikat. Pekan lalu, Federal Reserve (The Fed) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan dan menyampaikan pandangan yang lebih hawkish, atau cenderung ketat, sehingga memudarkan harapan pasar terhadap pemangkasan suku bunga tahun ini.
Presiden Federal Reserve Bank of Minneapolis Neel Kashkari mengatakan semakin lama konflik Iran berlangsung, semakin besar risiko lonjakan inflasi dan pelemahan ekonomi global. Kondisi tersebut membatasi ruang bank sentral untuk memberikan panduan yang terlalu agresif terkait pelonggaran kebijakan moneter.
Senada dengan itu, Presiden Federal Reserve Bank of Chicago Austan Goolsbee menyebut data inflasi terbaru merupakan “kabar buruk” bagi bank sentral. Ia mengatakan The Fed harus berhati-hati dalam menurunkan suku bunga hingga tekanan inflasi benar-benar mereda.
Data ekonomi terbaru menunjukkan inflasi AS pada Maret meningkat tajam. Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi atau Personal Consumption Expenditures, indikator inflasi favorit The Fed, melonjak 0,7%. Angka ini menjadi kenaikan bulanan terbesar sejak Juni 2022. Lonjakan inflasi sebagian besar dipicu kenaikan harga bensin akibat konflik Iran yang mengganggu stabilitas pasokan energi global.
Baca Juga
Harga Emas Antam di Pegadaian Naik Rp 31.000, Tembus Rp 2,88 Juta per Gram
Meski harga emas terkoreksi, minat spekulatif investor terhadap logam mulia masih menunjukkan penguatan. Data Commodity Futures Trading Commission menunjukkan spekulan meningkatkan posisi beli bersih emas sebesar 3.924 kontrak menjadi 91.574 kontrak pada pekan yang berakhir 28 April. Peningkatan ini menunjukkan sebagian pelaku pasar masih melihat emas sebagai aset perlindungan terhadap risiko geopolitik dan ketidakpastian ekonomi jangka menengah.
Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot naik tipis 0,1% menjadi US$ 75,38 per ons. Platinum menguat 0,2% ke US$ 1.991,85 per ons. Sementara itu, paladium turun 0,3% menjadi US$ 1.519,66 per ons.

