Mendag Siapkan Strategi agar Neraca Perdagangan Tetap Surplus
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Menteri Perdagangan (Mendag), Budi Santoso optimistis neraca perdagangan Indonesia akan tetap surplus meski dihantui ketegangan geopolitik global. Kementerian Perdagangan (Kemendag) telah menyiapkan sejumlah strategi agar neraca perdagangan tetap positif.
Berdasarkan laporan kinerja perdagangan periode Januari hingga Februari 2026, ekspor nasional tercatat tetap tumbuh positif sebesar 2,7% (yoy). Hal ini menjadi modal penting bagi stabilitas ekonomi nasional di tengah tekanan eksternal.
Mendag mengungkapkan, neraca perdagangan nonmigas Indonesia mencatatkan surplus US$ 641 juta pada Februari 2026. Capaian ini diharapkan terus berlanjut pada Maret dan seterusnya seiring penguatan strategi ekspor.
Baca Juga
Neraca Perdagangan RI Februari 2026: Surplus Berlanjut US$ 1,27 Miliar, Tapi Turun Signifikan
"Kondisi sekarang kita tetap berupaya agar ekspor terus tumbuh. Januari-Februari kita masih surplus di angka US$ 641 juta, ini modal positif," kata pria yang akrab disapa Busan itu saat ditemui di sela-sela acara Festival Burung Berkicau di kantor Kemendag, Jakarta, Minggu (5/3/2026).
Terkait fluktuasi nilai tukar rupiah, ia menekankan pentingnya menjaga volume ekspor agar perolehan devisa tetap stabil. Salah satu strategi utamanya adalah tidak bergantung pada satu atau dua kawasan pasar tradisional saja. Pemerintah terus melakukan diversifikasi dari pasar ekspor tradisional ke nontradisonal.
Mendag memberikan contoh bagaimana konflik di Timur Tengah memaksa Indonesia lebih lincah dalam mencari pasar alternatif. Pasar Amerika dan Asia menjadi target utama untuk mengompensasi potensi penurunan permintaan dari wilayah yang sedang dilanda konflik.
Baca Juga
Ekspor Februari Naik Tembus US$ 22,17 Miliar, Industri Pengolahan Jadi Penopang
"Kita tetap mencari pasar yang baru, diversifikasi pasar ekspor. Meskipun tantangannya tidak mudah, tapi pengalaman menunjukkan bahwa dalam setiap krisis selalu ada peluang pasar yang bisa kita masuki," tegas dia.
Selain faktor pasar internasional, Busan menyoroti potensi ekonomi domestik yang besar sebagai penopang ekonomi kerakyatan. Sektor kreatif seperti industri burung berkicau yang memiliki nilai ekonomi hingga Rp 2 triliun menjadi bukti kuatnya perputaran uang di masyarakat.
“Kalau kita lihat nilai ekonomi di balik kicau mania (burung kicau) itu sekitar Rp 1,7 triliun sampai Rp 2 triliun. Dan kita tahun lalu sudah ekspor burung hias senilai Rp 12,5 miliar rupiah,” kata Busan.

