Bagikan

Harga Avtur Naik 16,16% pada Mei 2026, Tiket Pesawat Berpotensi Terkerek

Poin Penting

Harga avtur domestik naik 16,16% dan internasional 21% pada Mei 2026. ​
Pengamat Alvin Lie sebut lonjakan harga avtur picu potensi kenaikan tiket pesawat. ​
Konflik AS-Iran yang buntu picu ketidakpastian pasar energi dan minyak dunia.

JAKARTA, investortrust.id — Kenaikan harga avtur hingga 16,16% pada Mei 2026 berpotensi menaikkan tarif tiket pesawat, seiring lonjakan biaya bahan bakar penerbangan domestik maupun internasional.

Pengamat penerbangan Alvin Lie menyatakan, harga avtur yang disediakan PT Pertamina (Persero) kembali mengalami kenaikan. Berdasarkan data yang dikutip dari akun Instagram resminya @alvinlie21 pada Sabtu (2/5/2026), harga avtur untuk penerbangan domestik di Bandara Soekarno-Hatta (CGK) pada periode 1–30 April 2026 tercatat sebesar Rp 23.551 per liter.

Adapun pada periode 1–30 Mei 2026, harga tersebut naik menjadi Rp 27.358 per liter atau meningkat Rp 3.807 setara 16,16%. Sementara itu, harga avtur untuk rute internasional tercatat mengalami kenaikan sebesar 21%.

“Harga avtur Pertamina naik lagi, harga tiket pesawat berpotensi naik lagi,” ujar Alvin Lie.

Diberitakan, upaya diplomasi untuk mengakhiri perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali menemui jalan buntu. Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak puas dengan proposal damai terbaru yang diajukan Teheran, memunculkan keraguan baru atas peluang tercapainya kesepakatan penghentian konflik.

Dalam laporan langsung Al Jazeera yang ditulis Stephen Quillen dan Mariamne Everett serta dipublikasikan Jumat (1/5/2026), Trump menegaskan bahwa ia “tidak yakin kita akan mencapai kesepakatan” untuk mengakhiri perang. Pernyataan itu disampaikan setelah Iran mengirimkan proposal baru melalui mediator Pakistan guna memecah kebuntuan negosiasi yang telah berlangsung beberapa pekan.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa Teheran tetap membuka ruang diplomasi. Namun, Iran mensyaratkan perubahan sikap Washington, khususnya penghentian pendekatan yang dinilai “ekspansionis” dan retorika yang bersifat ancaman.

Situasi keamanan di kawasan juga belum menunjukkan perbaikan signifikan. Dalam hari yang sama, dua serangan Israel di kota Haboush, Lebanon selatan, dilaporkan menewaskan enam orang, termasuk perempuan dan anak-anak, menurut kantor berita nasional Lebanon. Militer Israel juga mengeluarkan perintah evakuasi paksa di wilayah lain, meski secara formal gencatan senjata yang didukung AS masih berlaku sejak awal April 2026.

Perkembangan ini sejalan dengan laporan CNBC yang dipublikasikan 30 April 2026 waktu AS, yang menyebut Iran telah mengirim proposal damai terbaru kepada mediator di Pakistan. Proposal tersebut kemudian diteruskan ke Washington, memicu kembali harapan akan kemungkinan penyelesaian konflik.

Namun, pasar merespons secara hati-hati. Harga minyak dunia justru mengalami penurunan di tengah harapan baru tersebut. Minyak mentah AS tercatat turun hampir 5% ke level sekitar US$100 per barel, sementara Brent melemah hampir 3% ke kisaran US$107 per barel. Penurunan ini mencerminkan ekspektasi pasar bahwa pasokan energi global dapat kembali stabil jika negosiasi berhasil, meski risiko geopolitik tetap tinggi.

Baca Juga

Harga Avtur Melonjak, Cathay Pacific Pangkas Jadwal Penerbangan hingga Juni 2026

Di tengah dinamika tersebut, pemerintahan Trump juga menghadapi tekanan domestik. Berdasarkan laporan CNBC, Gedung Putih berada di bawah tenggat 60 hari sesuai War Powers Resolution terkait operasi militer di Iran. Namun, pemerintah berargumen bahwa gencatan senjata yang dicapai pada 7 April 2026 telah “mengakhiri permusuhan”, sehingga tidak lagi memerlukan persetujuan Kongres.

Argumen ini sebelumnya juga disampaikan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dalam sidang di Kongres, yang menyebut gencatan senjata efektif menghentikan konflik aktif, meskipun ketegangan di lapangan masih terus terjadi.

Sejumlah laporan media internasional lain seperti BBC dan Reuters juga menyoroti bahwa negosiasi AS–Iran masih berada dalam kondisi rapuh. Kedua pihak tetap mempertahankan posisi keras, sementara eskalasi di Lebanon dan kawasan sekitar menjadi pengingat bahwa konflik belum benar-benar mereda.

Dengan sikap Trump yang belum puas terhadap proposal terbaru Iran, prospek perdamaian jangka pendek kembali dipertanyakan. Gencatan senjata yang ada saat ini semakin terlihat sebagai jeda taktis, bukan solusi permanen, sementara pasar energi global dan stabilitas kawasan tetap berada dalam bayang-bayang ketidakpastian.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024