Bagikan

Sentuh Level Terendah dalam 4 Pekan, Harga Emas Ambles 2%

Poin Penting

Harga emas spot turun 2,4% dan menyentuh level terendah sejak awal April.
Lonjakan harga minyak memperbesar kekhawatiran inflasi global menjelang rapat The Fed.
Investor menanti arah kebijakan suku bunga serta pernyataan terakhir Jerome Powell.

JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas turun tajam ke level terendah dalam hampir 4 pekan pada Selasa (28/4/2026), tertekan meningkatnya kekhawatiran inflasi global setelah memanasnya kembali ketegangan di Timur Tengah serta sikap keras Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap proposal terbaru Iran untuk mengakhiri perang. Pelemahan ini terjadi saat investor menunggu hasil rapat kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve pekan ini.

Harga emas spot turun 2,4% menjadi US$ 4.570,34 per ons, level terendah sejak 2 April. Sementara kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Juni melemah 2,3% ke US$ 4.584,70 per ons. Tekanan terhadap logam mulia muncul di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik yang memicu gejolak harga energi global.

Baca Juga

Harga Emas Melemah, Pasar Tunggu Sinyal The Fed

Wakil Presiden sekaligus Ahli Strategi Logam Senior Zaner Metals Peter Grant mengatakan penolakan Pemerintah AS terhadap proposal terbaru Iran memperburuk prospek perdamaian di kawasan. Situasi itu kembali menghidupkan pesimisme terhadap proses negosiasi damai di Timur Tengah. "Pemerintahan Trump menolak tawaran terbaru Iran sehingga jalur strategis perdagangan energi di kawasan masih terganggu," kata dia dikutip CNBC.

Ia menegaskan kondisi tersebut mendorong harga minyak melonjak dan memicu kembali kekhawatiran inflasi menjelang pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal atau Federal Open Market Committee (FOMC) pekan ini, yang pada akhirnya menekan harga emas ke posisi terendah dalam 4 minggu.

Seorang pejabat AS menyebut Trump tidak puas terhadap proposal terbaru Iran terkait penyelesaian konflik. Sikap itu meredam harapan pasar atas deeskalasi perang yang selama ini telah mengganggu pasokan energi global, mendorong inflasi, dan menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar.

Lonjakan Harga Minyak Tambah Beban Inflasi

Pada saat yang sama, harga minyak melonjak lebih 3% setelah upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik Iran mengalami kebuntuan. Penutupan sebagian Selat Hormuz mempersempit distribusi pasokan energi dari Timur Tengah.

Sentimen pasar semakin tertekan setelah Uni Emirat Arab mengumumkan rencana keluar dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya atau OPEC+, kelompok produsen minyak utama dunia yang selama ini mengatur pasokan global.

Kenaikan harga minyak mentah memperbesar tekanan inflasi, sehingga meningkatkan kemungkinan kebijakan moneter ketat berlangsung lebih lama. Meski emas selama ini dipandang sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga justru mengurangi daya tariknya karena emas tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi atau instrumen berbunga lainnya.

Investor kini memusatkan perhatian pada hasil rapat Federal Reserve yang berlangsung selama 2 hari dan dijadwalkan berakhir Rabu (29/4/2026). Pelaku pasar memperkirakan bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50% hingga 3,75%.

Namun perhatian utama tertuju pada konferensi pers Ketua Federal Reserve Jerome Powell. Pernyataan ini menjadi sorotan karena disebut sebagai konferensi pers terakhir Powell sebelum menyerahkan kepemimpinan bank sentral kepada calon penggantinya, Kevin Warsh.

Selain The Fed, investor juga mencermati keputusan kebijakan moneter dari Bank Sentral Eropa, Bank of England, serta Bank of Canada yang dijadwalkan berlangsung dalam pekan yang sama.

Baca Juga

BI Perketat Moneter untuk Jaga Rupiah

Di Asia, data perdagangan menunjukkan permintaan emas fisik masih cukup kuat. Departemen Sensus dan Statistik Hong Kong melaporkan impor bersih emas China dari wilayah tersebut pada Maret mencapai 47.866 metrik ton, naik dari 46.249 metrik ton pada Februari. China merupakan konsumen emas terbesar dunia, sehingga peningkatan impor biasanya menjadi indikator penting bagi arah permintaan global.

Sementara itu, pelemahan juga terjadi pada logam mulia lainnya. Harga perak spot turun 3,6% menjadi US$ 72,78 per ons. Platinum kehilangan 1,9% ke US$ 1.945,28 per ons, sedangkan paladium melemah 1,2% menjadi US$ 1.459,78 per ons.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024