Garuda Tak Lagi Mengejar Market Share, Ini yang Dikejarnya Sekarang!
JAKARTA, investortrust.id – Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, Irfan Setiaputra menegaskan, Garuda kini tak lagi mengejar pangsa pasar (market share). Yang dikejar maskapai penerbangan pelat merah itu sekarang adalah keuntungan dan layanan penerbangan berkualitas.
“Kami ingin Garuda tetap menjadi perusahaan kebanggaan nasional.Tapi bukan karena terbang ke mana-mana, melainkan karena mampu menghasilkan keuntungan dan tidak menjadi beban publik lagi,” tegas Irfan kepada investortrust.id di Jakarta, baru-baru ini.
Baca Juga
Irfan mengakui, setelah masuk program penyehatan, jumlah armada Garuda menciut dari 140 pesawat menjadi hanya sekitar 60 pesawat saja. Alhasil, pangsa pasarnya pun ikut menurun.
“Market share Garuda, termasuk Citilink, sekarang sekitar 30%. Tetapi nggak apa-apa. Kami tidak semata mengejar market share, tetapi bagaimana memastikan Garuda membukukan keuntungansetiap kali terbang,” tandas dia.
Menurut Irfan Setiaputra, bisa saja Garuda jorjoran menambah jumlah armada demi melayani penerbangan jika tujuannya semata menguasai pangsa pasar. Namun, hal itu tidak dilakukan karena yang menjadi pertimbangan utama Garuda sekarang adalah bagaimana agar setiap rute yang dilayaninya menghasilkan keuntungan.
Baca Juga
Soal Restrukturisasi Utang, Ini Janji Manajemen Garuda kepada Pemerintah
“Bisa saja kami mengeklaim bahwa kami pemimpin pangsa pasar. Semua orang naik pesawat Garuda, tingkat keterisian kursi (seat load factor/SLF) penuh, kemudian tambah terus pesawat. Bukan sombong, kalau kami turunkan harga, semua orang akan naik Garuda. Tapi apa artinya kalau begitu sampai tujuan kami merugi? Sekali lagi, kami sekarang fokus untuk memastikan Garuda menjadi perusahaan yang menguntungkan,” papar Irfan.
Restrukturisasi Utang dan Perusahaan
Penyehatan Garuda, kata Irfan, berdampak sangat besar terhadap operasional masakapai penerbangan yang kerap menyabet predikat maskapai dengan layanan terbaik itu. Soalnya, Garuda merestrukturisasi utang sekaligus merestrukturisasi perusahaan pada saat bersamaan. Karena frekuensi penerbangan Garuda berkurang, praktis jumlah penumpangnya pun menurun.
Baca Juga
“Akibat restrukturisasi utang, jumlah pesawat kami menjadi setengahnya dibandingkan sebelumnya, yaitu dari sekitar 140 pesawat menjadi sekitar 60 pesawat. Beberapa masih dalam proses perbaikan. Akibatnya tentu saja jumlah penerbangan kami berkurang, sehingga market share juga turun,” tutur dia.
Laporan keuangan Garuda menunjukkan, emiten yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan sandi saham GIAA itu memiliki utang jangka pendek dan jangka panjang masing-masing sebesar Rp 24 triliun dan Rp 96,5 triliun. Hingga kuartal III-2023, Garuda masih merugi Rp 1,1 triliun.

