Minyak Brent Tembus US$ 108, Pasar Cemas Pasokan Ketat
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga minyak dunia menguat pada awal pekan setelah upaya negosiasi damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali gagal, memicu kekhawatiran pasokan energi global semakin ketat dan berpotensi mendorong inflasi lebih tinggi.
Harga minyak Brent yang menjadi acuan global pengiriman Juni ditutup naik hampir 3% ke US$ 108,23 per barel, sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) AS menguat sekitar 2% ke US$ 96,37 per barel.
Analis menyatakan kegagalan diplomasi antara Washington dan Teheran telah menghapus harapan pemulihan cepat aliran energi melalui Selat Hormuz, jalur vital yang biasanya mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Kepala Strategi Komoditas ING Warren Patterson mengatakan pasar minyak kini semakin ketat akibat minimnya kemajuan negosiasi. “Harga minyak menguat pagi ini setelah upaya untuk mengembalikan perundingan perdamaian AS-Iran ke jalur yang benar gagal, menghapus harapan untuk dimulainya kembali aliran energi melalui Selat Hormuz dalam waktu dekat,” ujarnya dalam catatan riset dikutip CNBC.
Baca Juga
Rusia Bersedia Menjadi Juru Damai, Harga Minyak Menembus US$ 107
Ia menambahkan kondisi tersebut membuat tekanan harga semakin kuat. “Kurangnya kemajuan berarti pasar semakin ketat setiap hari, sehingga harga minyak harus dinaikkan ke level yang lebih tinggi,” tambahnya.
Bank investasi global Goldman Sachs turut merevisi proyeksi harga minyaknya lebih tinggi. Dalam laporan terbarunya, Goldman menilai pemulihan ekspor melalui Selat Hormuz dan produksi di kawasan Teluk akan membutuhkan waktu lebih lama dari perkiraan sebelumnya.
Goldman Sachs kini memperkirakan harga Brent rata-rata mencapai US$ 90 per barel pada kuartal keempat, naik dari proyeksi sebelumnya US$ 80. Sementara itu, harga WTI diperkirakan berada di level US$ 83 per barel, lebih tinggi dibandingkan estimasi sebelumnya US$ 75.
Di sisi lain, analis Citi melihat potensi lonjakan harga yang lebih ekstrem. Mereka memperkirakan Brent dapat menyentuh US$ 150 per barel jika gangguan pasokan berlanjut hingga akhir Juni.
Diplomasi Masih Buntu
Meski ketegangan masih tinggi, laporan menyebut Iran telah mengajukan proposal baru kepada Amerika Serikat untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri konflik. Namun, pembicaraan resmi antara kedua negara belum menunjukkan kemajuan signifikan.
Situasi semakin kompleks setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump membatalkan rencana pengiriman utusan ke Pakistan untuk melanjutkan negosiasi dengan Iran. Dalam pernyataannya di media sosial, Trump menilai proses diplomasi tidak efektif dan menyebut kepemimpinan Iran berada dalam kondisi tidak jelas.
Baca Juga
Negosiasi Damai Iran-AS Kembali Mandek, Harga Minyak Global Melonjak
“Tidak ada yang tahu siapa yang berkuasa, termasuk mereka,” ujar Trump.
Ia menegaskan bahwa jika Iran ingin berdialog, mereka cukup menghubungi pihak AS secara langsung.
Di sisi lain, Pemerintah Iran menegaskan belum ada rencana pertemuan resmi dengan Amerika Serikat. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei menyatakan bahwa tidak ada agenda pembicaraan bilateral yang dijadwalkan dalam waktu dekat.

