Produktivitas Jagung Melonjak, Program Edukasi Petani Berbasis CEC Percepat Kemandirian Pangan
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Program edukasi pertanian berbasis Corn Edu Center (CEC) sepanjang Januari hingga April 2026 menunjukkan hasil signifikan dalam meningkatkan produktivitas jagung nasional, sekaligus memperkuat kapasitas petani melalui pelatihan agronomi, teknologi, dan praktik pertanian berkelanjutan. Rangkaian kegiatan ini melibatkan ratusan petani, pemerintah daerah, serta mitra swasta, termasuk PT Syngenta Indonesia.
Di CEC Manggarai, Nusa Tenggara Timur, demikian data yang diperoleh Investortrust dari Edu Center, Triputra Group, Senin (27/04/2026), pelatihan product knowledge, agronomi, hingga teknik panen yang berlangsung pada 13–17 April 2026 menghasilkan capaian panen yang menonjol. Berdasarkan data ubinan panen raya, produktivitas mencapai 17.600 kg per hektare untuk panen tongkol, 14.700 kg per hektare untuk pipil basah dengan kadar air 28%, dan 12.200 kg per hektare untuk pipil kering dengan kadar air 14%.
Kegiatan ini diikuti oleh 199 petani, dengan dukungan berbagai pemangku kepentingan, antara lain PT SEP, PT SMJ sebagai pengelola CEC jagung, perusahaan agribisnis, serta pemerintah kabupaten setempat. Ke depan, program ini akan diperluas melalui pengembangan lahan demonstration plot (demoplot) hingga 1.500 hektare di Manggarai.
Sementara itu, di wilayah Sumba Barat Daya, program CEC yang berlangsung sepanjang Maret 2026 juga menunjukkan dampak positif. Pelatihan Good Agricultural Practices (GAP) dan pembentukan New Farmer Champions (N-FC) berhasil menjaring 165 peserta, dengan hasil panen demoplot mencapai 7,5 ton per hektare dalam kondisi kering. Program ini juga melahirkan 50 petani unggulan baru yang diharapkan menjadi agen perubahan di tingkat lokal.
Baca Juga
Prabowo Tegaskan Perangi Korupsi, Indonesia Harus Swasembada Pangan dan Energi
Sebagai bagian dari pendekatan pertanian berkelanjutan, CEC turut mengembangkan infrastruktur pendukung, termasuk pemasangan dua unit panel surya dan pembangunan dua sumur bor pada pertengahan Maret 2026. Langkah ini bertujuan meningkatkan efisiensi irigasi dan kemandirian energi di kawasan pertanian.
Di Manggarai Timur, pelatihan GAP yang digelar pada 10–11 Maret 2026 diikuti 92 peserta selama dua hari. Kegiatan ini dilengkapi dengan pertemuan rutin Farmer Champions yang melibatkan 16 peserta, serta pemantauan lapangan terhadap demoplot yang memasuki usia tanam 80 hari setelah tanam (HST). Hasil pemantauan menunjukkan pertumbuhan tanaman yang optimal dengan kondisi lahan yang terawat baik.
Penguatan kapasitas petani juga dilakukan di Ponorogo, Jawa Timur, melalui pelatihan GAP dan pembentukan calon Farmer Champions pada 22 Januari 2026 di Kecamatan Pudak. Program ini melibatkan 30 peserta dan dilanjutkan dengan pengembangan 21 demoplot yang tersebar di lima desa hingga Februari 2026.
Baca Juga
Sebagai bagian dari kesinambungan program, pelatihan sebelumnya pada Agustus 2025 di Sumba Barat Daya turut menjadi fondasi penting. Kegiatan tersebut mencakup pelatihan penggunaan mesin pemipil jagung roda empat bagi 15 petani, distribusi tiga unit alat corn sheller, serta Farm Field Day yang melibatkan 200 petani dalam pelatihan GAP dan penggunaan drone untuk pemupukan.
Rangkaian program CEC ini menegaskan bahwa pendekatan kolaboratif antara petani, swasta, dan pemerintah mampu mendorong peningkatan produktivitas sekaligus mempercepat adopsi teknologi pertanian modern. Dengan ekspansi demoplot dan penguatan Farmer Champions, model ini dinilai berpotensi menjadi pilar penting dalam mewujudkan kemandirian pangan nasional di tengah tantangan perubahan iklim dan volatilitas harga komoditas global.

