Hilirisasi dari Bumi Indonesia Menuju Panggung Global
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Di tengah perubahan lanskap ekonomi global, Indonesia tampak sedang menulis ulang arah pertumbuhannya. Hilirisasi tidak lagi sekadar agenda kebijakan, tetapi mulai menjelma menjadi arus utama, dari sumber daya mentah menuju nilai tambah yang lebih tinggi.
Pemerintah, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, diproyeksikan akan terus mendorong hilirisasi sebagai fondasi baru ekonomi nasional. Dalam fase awal tahun ini saja, sinyal percepatan itu sudah terlihat. Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani mencatat, realisasi investasi hilirisasi pada triwulan I 2026 mencapai Rp147,5 triliun—tumbuh 8,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Angka itu bukan sekadar statistik, melainkan penanda arah. Hampir sepertiga investasi nasional kini mengalir ke sektor hilirisasi. “Kenapa ini kami angkat? Karena kontribusi dari investasi yang berhubungan dengan hilirisasi itu cukup signifikan mencapai 29,6% di triwulan pertama ini,” ungkap Rosan.
Dari dalam bumi, sektor mineral masih menjadi jangkar utama. Nikel tetap memimpin, diikuti tembaga, besi baja, hingga bauksit—membentuk rantai nilai baru yang semakin panjang. “Nomor satu masih nikel dengan Rp 41,5 triliun, kemudian tembaga, besi baja, bauksit, timah, dan lainnya,” papar Rosan. Namun ke depan, hilirisasi tidak akan berhenti di kedalaman tambang.
Baca Juga
Presiden Prabowo Targetkan Groundbreaking 21 Proyek Hilirisasi dan 29 PSEL pada April 2026
Ia akan meluas—menyentuh perkebunan, kehutanan, hingga energi. Investasi di sektor kelapa sawit, kayu, dan karet mulai membentuk pola baru, sementara minyak dan gas tetap memberi kontribusi penting. Semua ini bergerak dalam satu tarikan napas: memperkuat fondasi ekonomi berbasis nilai tambah.
Menariknya, denyut hilirisasi justru terasa lebih kuat di luar Jawa. Kawasan seperti Sulawesi dan Maluku Utara diproyeksikan akan menjadi episentrum pertumbuhan baru, seiring kedekatannya dengan sumber bahan baku. “Memang kalau dilihat ya tentunya investasi di bidang hilirisasi ini di luar Jawanya jauh lebih signifikan daripada Jawa,” ujar Rosan.
Ia menambahkan, kondisi ini selaras dengan realitas geografis karena raw material atau bahan dasarnya yang banyak berada di kedua daerah tersebut. Ke depan, cakrawala hilirisasi akan semakin luas. Laut dan pesisir akan menjadi frontier berikutnya. Pemerintah melihat potensi besar dari sektor perikanan dan kelautan—dari rumput laut hingga garam, bahkan budidaya ikan.
“Saya mendapatkan informasi bahwa akan investasi di bidang garam dan juga di bidang rumput laut. Dan ikan tilapia ini sudah mulai akan berjalan pada semester depan,” kata Rosan, membuka horizon baru hilirisasi yang lebih inklusif.
Arah ini kian dipertegas dalam pertemuan di Hambalang. Presiden Prabowo Subianto menerima laporan perkembangan hilirisasi yang akan segera diperluas ke berbagai wilayah. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyampaikan bahwa tahap berikutnya akan menjangkau lebih banyak titik di Indonesia. “Perkembangan program hilirisasi yang berikutnya akan dibangun segera pada 13 lokasi di Indonesia,” ujarnya.
Tidak hanya itu, arus investasi juga diproyeksikan akan semakin beragam. Dari waste to energy hingga industri agrikultural dan manufaktur padat karya, minat investor terus mengalir mengikuti arah kebijakan. “Beberapa investor yang akan berinvestasi di Indonesia terutama dalam bidang waste to energy, sumber daya mineral serta industri agrikultural, padat karya dan garmen,” jelas Teddy.
Baca Juga
Tiga Tahun MIND ID, Perkuat Hilirisasi dan Perluas Peran Global
Lebih jauh, Presiden menginginkan hilirisasi tidak berjalan dalam ruang sempit. Ia akan diperluas, diperdalam, dan ditanamkan di lebih banyak sektor kehidupan ekonomi. “Presiden Prabowo menginginkan bahwa hilirisasi tidak hanya di bidang energi dan mineral tetapi juga harus diperluas di bidang pertanian dan perikanan,” ujar Teddy.
Di sanalah masa depan mulai tergambar. Hilirisasi bukan lagi soal sektor, tetapi tentang ekosistem. Dari tambang ke pabrik, dari kebun ke industri, dari laut ke rantai pasok global—semuanya terhubung dalam satu visi besar.
Dengan investasi yang terus mengalir dan arah kebijakan yang semakin tegas, hilirisasi diproyeksikan akan menjadi motor utama transformasi ekonomi Indonesia. Ia membawa harapan baru: lapangan kerja yang lebih luas, daya saing yang lebih kuat, dan kedaulatan ekonomi yang tidak lagi bergantung pada ekspor bahan mentah.
Indonesia, perlahan namun pasti, sedang bergerak dari sekadar pemilik sumber daya menjadi penguasa nilai tambah. Babak baru menuju panggung global dengan fondasi yang lebih kokoh dan masa depan yang lebih berdaulat.

