Bagikan

Pemerintah Stop Ekspor Minyak Mentah, Prioritaskan Pasokan Kilang Dalam Negeri

Poin Penting

Pemerintah menyetop ekspor minyak mentah demi menjamin ketahanan energi nasional di tengah tekanan pasokan global.
SKK Migas sedang menghitung volume produksi minyak untuk dialihkan sepenuhnya guna mengoptimalkan kapasitas kilang domestik.
Kebijakan ini merupakan langkah antisipatif pemerintah merespons penutupan Selat Hormuz akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

JAKARTA, investortrust.id – Pemerintah akan menghentikan alias menstop ekspor minyak mentah (crude oil) guna memastikan kebutuhan energi nasional tetap terpenuhi di tengah tekanan pasokan global. Langkah ini dilakukan dengan memprioritaskan penyaluran minyak mentah kilang dalam negeri dibandingkan pasar ekspor.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung mengatakan, saat ini SKK Migas tengah menghitung total volume produksi yang akan dialihkan dari ekspor ke pasar domestik.

"SKK Migas sedang menghitung totalnya kira-kira berapa yang akan ditangguhkan untuk ekspor, dan digunakan untuk kebutuhan kilang di dalam negeri," kata Yuliot saat ditemui di Sekretariat Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (24/4/2026).

Baca Juga

RI Impor 150 Juta Barel Minyak dari Rusia, Skema Pembelian Disiapkan Bertahap

Menurut Yuliot, pemerintah telah berkoordinasi dengan para kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) guna memastikan implementasi kebijakan tersebut berjalan efektif tanpa mengganggu stabilitas produksi nasional.

Selain itu, kata dia, koordinasi dilakukan dengan Pertamina agar minyak mentah domestik dapat terserap secara optimal oleh kilang-kilang yang beroperasi di dalam negeri.

"Kami sudah membicarakan hal ini dengan KKKS dan Pertamina untuk menyesuaikan kebutuhan minyak mentah di dalam negeri dengan kapasitas kilang yang ada. Semoga proses ini berjalan tanpa kendala," ujar Yuliot.

Yuliot Tanjung mengungkapkan, kebijakan penangguhan ekspor minyak mentah merupakan bagian strategi pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi nasional, khususnya di tengah ketidakpastian geopolitik global yang memengaruhi rantai pasok energi.

Pemerintah meminta seluruh kontraktor migas mengutamakan pasokan domestik, sehingga kebutuhan kilang nasional tetap terjaga dan risiko gangguan pasokan bahan bakar dapat diminimalkan.

Baca Juga

Ekspor Minyak Mentah Capai 70.000 BOPD pada 2024, Ini yang Masih Jadi PR

Yuliot menambahkan, langkah tersebut diambil sebagai respons atas meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang berujung pada penutupan Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia.

Dia mengakui, penutupan Selat Hormuz memberikan tekanan signifikan terhadap distribusi minyak global karena jalur tersebut menjadi lintasan utama pengiriman minyak mentah dari kawasan Timur Tengah ke berbagai negara.

Dengan kondisi tersebut, menurut Yuliot, pemerintah memilih langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas pasokan energi nasional, sekaligus memastikan operasional kilang domestik tetap berjalan optimal dalam menghadapi potensi gejolak pasar energi internasional.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024