Perkuat Ketahanan Energi, 60% LPG RI Impor dari AS
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Pemerintah terus memperkuat pasokan energi nasional dengan meningkatkan impor minyak mentah (crude) dan LPG dari Amerika Serikat (AS), seiring komitmen kerja sama dalam kerangka Agreement on Reciprocal Trade (ART).
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengungkapkan saat ini porsi impor LPG Indonesia dari AS sudah mendominasi, yakni sekitar 60%. Dia tidak memungkiri bahwa kebutuhan LPG domestik masih banyak.
“Untuk LPG, dari total impor sekitar 7 juta ton, sekitar 60% itu sudah berasal dari Amerika,” kata Yuliot saat ditemui di Sekretariat Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (24/4/2026).
Dia menegaskan pemerintah berupaya meningkatkan porsi impor tersebut guna memenuhi komitmen kerja sama ekonomi sekaligus menjaga ketahanan energi nasional. Namun, penambahan volume impor masih dalam tahap pembahasan, termasuk penentuan sumber pasokan baru baik untuk LPG maupun minyak mentah (crude).
Baca Juga
LPG Non-Subsidi Naik, Pemprov DKI Perketat Pengawasan Gas 3 Kg di Hotel dan Restoran
“Kalau kita menambah, sumbernya dari mana lagi? Untuk crude juga sama, itu yang sedang didetailkan oleh Pertamina,” ujarnya.
Yuliot mengungkapkan bahwa saat ini tim dari PT Pertamina (Persero) tengah berada di Amerika Serikat untuk menjajaki kerja sama dengan sejumlah perusahaan energi yang mampu memasok kebutuhan Indonesia dalam waktu cepat.
“Kita lagi lihat perusahaan-perusahaan mana yang bisa mensuplai kita dengan cepat dan bagaimana pengirimannya,” kata dia.
Selain dari AS, pemerintah juga membuka opsi pasokan energi dari negara lain guna memastikan kebutuhan domestik tetap terpenuhi. Dia menyebut konsumsi minyak mentah Indonesia saat ini mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sementara produksi domestik baru sekitar 600.000 barel per hari, sehingga kebutuhan impor masih berada di kisaran 1 juta barel per hari.
Dalam konteks tersebut, rencana impor minyak mentag dari Rusia sebesar 150 juta barel dinilai belum cukup untuk menutup seluruh kebutuhan, sehingga pemerintah tetap mencari tambahan pasokan dari berbagai negara, termasuk AS.
Baca Juga
Polri Jerat 330 Tersangka Penyalahgunaan BBM dan LPG Subsidi, Kerugian Tembus Rp 243 Miliar
“150 juta barel itu belum cukup, jadi kita tetap mencari tambahan dari negara lain termasuk dari Amerika,” sebut Yuliot.
Sementara itu, untuk impor LPG dari Rusia, pemerintah mengaku masih belum menetapkan volume pasti karena masih dalam tahap penjajakan. Yuliot menambahkan, pasokan minyak mentah impor nantinya tidak hanya digunakan untuk konsumsi langsung, tetapi juga untuk kebutuhan industri seperti petrokimia dan sektor pertambangan.

