RI Masuk 7 Besar Cadangan Tembaga Dunia, 3 Sektor Ini Paling Membutuhkan
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Indonesia memiliki peluang besar memanfaatkan tembaga sebagai motor pertumbuhan ekonomi baru di tengah lonjakan permintaan global, didorong sektor energi bersih, kendaraan listrik (electrical vehicle/EV), dan infrastruktur. Namun, optimalisasi hilirisasi masih menjadi kunci untuk memaksimalkan nilai tambah komoditas ini. Potensi tersebut muncul karena Indonesia memiliki cadangan tembaga signifikan, tetapi belum sepenuhnya kuat di sisi produksi dan industri hilir dibandingkan negara pesaing.
Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat Indonesia menempati peringkat tujuh besar cadangan tembaga dunia dengan porsi sekitar 3% dari total global. Namun, dari sisi produksi tambang, posisi Indonesia masih berada di peringkat ke-11, sementara di sektor industri hilir berada di peringkat ke-18.
Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara potensi sumber daya dan kemampuan pengolahan dalam negeri, terutama jika dibandingkan dengan negara, seperti Jepang, India, Korea Selatan, dan Bulgaria yang tidak memiliki cadangan tembaga namun unggul di industri hilir.
Founder & Advisor ReforMiner Institute Pri Agung Rakhmanto mengatakan permintaan tembaga global ke depan akan ditopang tiga sektor utama, yaitu infrastruktur dan kelistrikan, energi baru terbarukan (EBT), seperti pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) atau angin, serta industri otomotif khususnya kendaraan listrik.
Ia menilai penguatan ekosistem industri menjadi faktor penting untuk memastikan penyerapan tembaga dalam negeri dapat optimal. “Itu yang nantinya akan menyerap produksi tembaga dan tembaga olahan (katoda) dari smelter tembaga yang beroperasi di Indonesia,” ujar Pri Agung dikutip Rabu (22/4/2026).
Baca Juga
Dorong Hilirisasi Timah dan Tembaga, Toyota Jajaki Bangun Pabrik 'Solder Paste' Rp 1,6 Triliun di RI
Pri Agung mengapresiasi langkah hilirisasi yang telah dilakukan pemerintah, terutama dalam mendorong pengolahan dari bahan mentah menjadi produk bernilai tambah, seperti katoda tembaga.
Ia menyebut peningkatan nilai tambah tersebut berpotensi memperkuat neraca perdagangan Indonesia di masa depan. Namun, tanpa dukungan industri turunan yang kuat, sebagian besar produksi masih akan bergantung pada ekspor. “Jika ekosistem industri itu belum berkembang, maka produksi yang ada akan lebih banyak terserap untuk ekspor,” ujarnya.
Saat ini, industri tembaga nasional didominasi oleh sejumlah perusahaan tambang besar, seperti PT Freeport Indonesia, anggota grup MIND ID, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA).
Freeport Indonesia melaporkan hasil eksplorasi terbaru menunjukkan cadangan tembaga yang dapat diekstraksi hingga 2041 meningkat menjadi 8 miliar pon dari sebelumnya sekitar 7 miliar pon. Sementara itu, PT Amman Mineral Nusa Tenggara mencatat total cadangan mineral mencapai sekitar 460 juta ton hingga 2030, seiring dimulainya fase baru penambangan di Tambang Batu Hijau.
PT Merdeka Copper Gold Tbk juga melaporkan peningkatan cadangan tembaga sepanjang 2025 menjadi 9,1 juta ton atau naik 6%. Dari sisi bijih, cadangan bahkan melonjak 60% menjadi 3,0 juta ton.
Peningkatan cadangan ini diperkuat oleh keberadaan fasilitas pengolahan atau smelter yang meningkatkan nilai tambah komoditas. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat nilai tambah dari smelter tembaga dapat mencapai sekitar 1,74 kali lipat dibandingkan bahan baku konsentrat.
Baca Juga
Harga Patokan Ekspor Tembaga dan Emas Februari Kompak Menguat, Ini Pemicunya
Indonesia saat ini telah memiliki sejumlah smelter aktif, termasuk di Gresik, Jawa Timur, serta proyek smelter baru di Nusa Tenggara Barat yang memperkuat kapasitas pengolahan domestik.
Dengan kombinasi cadangan yang besar, proyek hilirisasi yang terus berkembang, serta permintaan global yang meningkat, tembaga berpotensi menjadi salah satu pilar penting dalam transformasi ekonomi Indonesia.
Namun, keberhasilan tersebut akan sangat ditentukan oleh kemampuan pemerintah dan pelaku industri dalam membangun ekosistem terintegrasi dari hulu hingga hilir, sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan secara maksimal di dalam negeri.

