Indonesia Sulit Jadi 'Global Logistic Hub', Ini Penjelasan Wamenlu
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Arif Havas Oegroseno mengungkapkan sejumlah faktor yang membuat Indonesia sulit menjadi global logistic hub. Ia menyoroti posisi geografis, fragmentasi permintaan domestik, keterbatasan hinterland, hingga biaya dan prosedur logistik sebagai kendala utama.
Havas menyebut, dalam peta pelayaran global, Indonesia tidak berada pada jalur utama perdagangan dunia. Menurutnya, sejumlah pelabuhan besar di Amerika, Eropa, dan Asia menjadi simpul utama rantai pasok global.
Baca Juga
AS Mulai Blokade Pelabuhan Iran di Hormuz, Paus Leo Kritik Keras Retorika Perang Trump
“Dari sisi arus, navigasi, perjalanan kapal, global supply chain kita terlalu jauh. Ya mungkin enggak terlalu jauh dari sisi kilometer, tetapi itu tambahnya 6 jam sampai 12 jam off dari Selat Malaka dan Selat Singapura,” kata Havas dalam Seminar Nasional Abupi: Memperkuat Sinergi, Mendorong Transformasi Pelabuhan Nasional di Jakarta, Rabu (22/4/2026).
Havas menambahkan, pelayaran global memiliki rute utama dan sekunder. Adapun Indonesia berada pada rute sekunder, seperti Selat Sunda dan Selat Lombok yang umumnya dilalui komoditas tertentu, bukan kargo barang umum.
“Kalau kita lihat globalroute, ya memang kita menguasai Selat Malaka dan Selat Singapura. Namun, ada namanya rute utama dan rute secondary. Ya rute secondary itu kita di Selat Sunda dan Selat Lombok,” papar dia.
Ia menyoroti pelabuhan di pantai timur Sumatra, seperti Belawan, Kuala Tanjung, dan Dumai yang dinilai belum mampu bersaing dengan pelabuhan utama kawasan. “Yang ada di main route sebenarnya di Malaka, di Sumatra, tapi itu semua kalah dengan Singapura dan Tanjung Pelepas (Malaysia),” ujar Havas.
Selain faktor geografis, Havas menuturkan, fragmentasi permintaan domestik akibat kondisi kepulauan menjadi kendala tersendiri. “Jadi kalau barangnya sana penuh, pulangnya kosong. Jadi enggak mau pergi ke sana (arah Indonesia timur). Inilah masalah yang kita hadapi,” terang dia.
Havas menyoroti keterbatasan hinterland, termasuk konektivitas rel kereta api dan jalan raya. Menurutnya, wilayah yang tidak dilalui jalur utama logistik cenderung tertinggal secara ekonomi.
“Daerah yang tidak dilewati major shipping route itu memang tidak maju secara ekonomi. Kita terlalu off dari mainline, ya memang sulit (Indonesia) untuk jadi bagian dari globalhub,” tutur Havas.
Selain itu, faktor biaya dan prosedur logistik turut memengaruhi daya saing pelabuhan Indonesia. Havas menilai Indonesia perlu menentukan arah kebijakan, apakah ingin memiliki banyak pelabuhan kecil atau fokus pada satu hingga dua pelabuhan hub berskala global.
Dia menegaskan, jika Indonesia ingin membangun hub global, maka pelabuhan harus dekat dengan Selat Malaka, memiliki kedalaman memadai, biaya transshipment kompetitif, serta didukung hinterland kuat dan kepastian volume industri.
“Kalau kita mau benar-benar ingin punya satu atau dua hub yang menjadi bagian dari globalhub, ya mau enggak mau harus dekat dengan Selat Malaka,” tegas Havas.
Baca Juga
Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dengan Kementerian Perdagangan (Kemendag) berencana untuk membuka pintu komoditas impor baru di Indonesia bagian timur.
Adapun sederet komoditas yang dibidik, seperti tekstil dan produk tekstil, pakaian jadi dan aksesori pakaian jadi, keramik, elektronik, alas kaki, kosmetik, dan barang tekstil sudah jadi lainnya. Pintu masuk tujuh komoditas impor ini akan dipindah ke luar Pulau Jawa, tepatnya di Pelabuhan Sorong, Papua Barat dan Pelabuhan Bitung, Sulawesi Utara.

