SKK Migas Genjot Produksi Lewat Program Triple 100 dan Teknologi MSF
Poin Penting
|
RIAU, Investortrust.id - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mempercepat peningkatan produksi migas nasional melalui optimalisasi teknologi di lapangan, termasuk program Triple 100 yang menargetkan 100 sumur eksplorasi, 100 kegiatan multi-stage fracturing, dan 100 tambahan sumur pengembangan pada 2026.
Upaya ini dilakukan di berbagai wilayah kerja, termasuk Wilayah Kerja Rokan yang dikelola PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), bagian PT Pertamina Hulu Energi sebagai subholding upstream PT Pertamina (Persero).
Deputi Eksplorasi, Pengembangan, dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas Rikky Rahmat Firdaus melakukan kunjungan kerja ke proyek sumur Multi-Stage Fracturing BLSE-050 di lapangan Balam South East, Riau. Ia menilai penerapan teknologi tersebut menjadi langkah strategis untuk mengoptimalkan potensi lapangan migas, terutama yang telah berumur dan memiliki kualitas reservoir rendah.
Baca Juga
Kunjungi PHR, Dirjen Migas Sebut Blok Rokan Mulai Pulih Pascakebakaran Pipa
“Program MSF ini merupakan salah satu upaya nyata untuk meningkatkan produksi dari lapangan-lapangan low quality reservoir. Melalui teknologi ini, kita dapat membuka jalur aliran minyak yang sebelumnya sulit diproduksikan, sehingga potensi yang ada dapat dimanfaatkan secara lebih optimal,” ujar Rikky.
Ia menambahkan keberhasilan program sangat bergantung pada sinergi antara SKK Migas, kontraktor kontrak kerja sama (KKKS), penyedia jasa, serta dukungan operasional yang memadai. SKK Migas juga mendorong percepatan implementasi program dengan tetap menjaga aspek keselamatan, efisiensi biaya, dan keandalan operasi.
Rikky menegaskan pihaknya memastikan dukungan peralatan, percepatan pembebasan lahan, serta penguatan kapasitas operasional agar target 15 sumur MSF pada 2026 dapat tercapai dan memberi kontribusi signifikan terhadap produksi nasional.
General Manager PHR Zona Rokan Andre Wijanarko menjelaskan program MSF menjadi strategi utama untuk meningkatkan produksi pada lapangan dengan karakteristik reservoir berkualitas rendah, yaitu kondisi batuan yang membuat minyak sulit mengalir secara alami ke sumur.
Untuk mengatasi hal tersebut, digunakan teknologi fracturing atau perekahan batuan dengan tekanan tinggi guna membuka jalur aliran minyak. Metode ini dilakukan secara bertahap pada sumur horizontal sehingga aliran hidrokarbon menjadi lebih optimal dan produksi meningkat.
Andre mengungkapkan pada 2026 sebanyak 15 sumur MSF direncanakan akan dieksekusi di tiga lapangan utama, yakni Balam South East, Bangko, dan Kotabatak, masing-masing lima sumur.
Ia menuturkan sumur MSF termasuk kategori high profile karena diharapkan menghasilkan produksi tinggi meski menghadapi tantangan operasional dan biaya besar. PHR berupaya memastikan seluruh sumur diselesaikan secara optimal untuk mencapai hasil maksimal.
“Hingga saat ini, dua sumur pertama tahun ini telah menyelesaikan fracturing stage 1 dan tengah bersiap memasuki stage berikutnya, yang direncanakan hingga 8 stages dan onstream diharapkan pada akhir Mei. Selain itu, terdapat dua sumur yang masih dalam proses pengeboran serta empat sumur yang telah siap untuk dibor,” paparnya.
Baca Juga
Pertamina Hulu Rokan Terapkan CEOR di Minas, Bidik Kenaikan Minyak 16%
Kepala Perwakilan SKK Migas Sumbagut C.W. Wicaksono memastikan pihaknya terus melakukan pengawasan dan koordinasi dengan PT Pertamina Hulu Rokan. Ia menegaskan proyek strategis hulu migas akan dikawal agar berjalan optimal sekaligus mendukung pencapaian target produksi nasional, ketahanan energi, dan manfaat bagi masyarakat.
Kunjungan ini juga dihadiri sejumlah pejabat SKK Migas dan manajemen PHR Zona Rokan, termasuk Kepala Divisi Optimalisasi Cadangan Sri Andaryani, Kepala Departemen Operasi Sumbagut Sebastian Julius, serta Staf Ahli Deputi Eksploitasi Areiyando Makmun.

