Rezim Algoritma: Kekuasaan Tanpa Wajah dalam Demokrasi Digital
Poin Penting
|
Oleh: Bambang Intojo *)
INVESTORTRUST - Setiap hari, jutaan orang Indonesia membuka ponsel dan menerima aliran informasi yang tampak spontan. Video, berita, komentar, dan berbagai opini muncul dalam urutan tertentu, seolah-olah merupakan cerminan langsung dari realitas sosial. Namun urutan itu tidak pernah benar-benar netral. Ia dipilih, disusun, dan diprioritaskan oleh sistem algoritma - serangkaian instruksi matematis yang bekerja tanpa terlihat, tetapi menentukan apa yang muncul dan apa yang tenggelam.
Yang sering luput disadari adalah bahwa urutan informasi sama pentingnya dengan informasi itu sendiri. Sesuatu yang muncul di awal memiliki peluang jauh lebih besar untuk dilihat, dipercaya, dan diingat. Sebaliknya, sesuatu yang muncul jauh di bawah, atau tidak muncul sama sekali, secara efektif menghilang dari kesadaran publik. Dalam lingkungan digital, visibilitas bukan sekadar konsekuensi dari realitas, tetapi kondisi yang membentuk realitas itu sendiri.
Di sinilah terjadi transformasi mendasar dalam cara kekuasaan beroperasi. Kekuasaan tidak lagi hanya bekerja melalui larangan, sensor, atau perintah langsung, tetapi melalui pengelolaan visibilitas. Ia tidak harus mengatakan apa yang salah. Ia cukup menentukan apa yang lebih sering terlihat.
Platform digital seperti Google, Meta Platforms, ByteDance, dan X Corp, menjalankan fungsi ini secara terus-menerus. Setiap detik, sistem mereka menyaring, mengurutkan, dan mendistribusikan miliaran unit informasi. Proses ini bukan sekadar fungsi teknis, melainkan bentuk manajemen perhatian dalam skala massal. Dalam masyarakat digital, perhatian adalah sumber daya yang terbatas, dan algoritma bertindak sebagai pengelolanya.
Rezim algoritma, dengan demikian, dapat dipahami sebagai konfigurasi kekuasaan yang bekerja melalui manajemen visibilitas dan atensi. Tidak semua informasi dapat dilihat pada saat yang sama. Tidak semua suara memiliki peluang yang sama untuk muncul. Algoritma menjalankan fungsi seleksi yang menentukan probabilitas visibilitas - yakni kemungkinan sesuatu untuk terlihat.
Perbedaan probabilitas ini, meskipun tampak kecil pada tingkat teknis, memiliki dampak besar pada tingkat sosial. Konten yang memiliki probabilitas tinggi untuk muncul akan terus muncul kembali. Konten yang memiliki probabilitas rendah akan semakin jarang terlihat, hingga akhirnya menghilang dari perhatian kolektif. Dalam jangka panjang, proses ini menciptakan hierarki realitas: sebagian hal terasa dominan, sementara yang lain terasa tidak ada.
Dengan cara ini, algoritma tidak hanya mendistribusikan informasi. Ia mendistribusikan perhatian. Dan perhatian, pada gilirannya, menentukan apa yang dianggap penting.
Fondasi dari sistem ini adalah pengumpulan data perilaku dalam skala besar. Setiap klik, pencarian, jeda, dan respons emosional direkam sebagai sinyal. Data ini memungkinkan sistem untuk mempelajari kecenderungan pengguna dan memprediksi respons mereka terhadap berbagai jenis konten. Seperti dijelaskan oleh Shoshana Zuboff, pengumpulan data ini menciptakan kemampuan untuk tidak hanya memahami perilaku manusia, tetapi juga memengaruhinya secara sistematis.
Algoritma kemudian menggunakan prediksi ini untuk menyesuaikan distribusi visibilitas. Konten yang diperkirakan akan mempertahankan perhatian akan diprioritaskan. Konten yang diperkirakan akan diabaikan akan dipinggirkan. Secara bertahap, sistem membentuk lingkungan informasi yang selaras dengan logika keterlibatan, bukan selalu dengan logika kepentingan publik.
Yang membuat bentuk kekuasaan ini unik adalah sifatnya yang tidak langsung. Tidak ada larangan eksplisit. Tidak ada perintah yang terlihat. Namun hasil akhirnya tetap nyata: sebagian realitas diperbesar, sementara sebagian lain diperkecil.
Fenomena ini memiliki kemiripan dengan analisis Michel Foucault tentang bagaimana kekuasaan modern bekerja melalui pengaturan kondisi, bukan hanya melalui represi. Individu tetap merasa bebas, tetapi lingkungan di mana mereka beroperasi telah dibentuk sebelumnya. Mereka memilih, tetapi pilihan itu terjadi dalam medan visibilitas yang tidak netral.
Pemikir lain, Gilles Deleuze, menggambarkan munculnya masyarakat kontrol, di mana kekuasaan bekerja melalui modulasi berkelanjutan. Algoritma mewujudkan modulasi ini secara konkret. Ia tidak menetapkan batas yang tetap, tetapi terus menyesuaikan apa yang terlihat oleh setiap individu, setiap saat.
Akibatnya, kekuasaan menjadi semakin bersifat psikologis. Seperti dicatat oleh Byung-Chul Han, kontrol modern bekerja melalui pengelolaan perhatian dan motivasi, bukan semata melalui paksaan. Individu berpartisipasi secara sukarela, tetapi partisipasi itu sekaligus memperkuat sistem yang membentuk persepsi mereka.
Baca Juga
Implikasinya terhadap Demokrasi
Demokrasi bergantung pada asumsi bahwa warga negara memiliki akses terhadap informasi yang cukup untuk membentuk penilaian mereka. Namun ketika distribusi informasi semakin dimediasi oleh algoritma, kondisi ini berubah. Akses terhadap informasi tetap ada, tetapi visibilitasnya tidak lagi merata.
Apa yang sering terlihat akan terasa sebagai konsensus. Apa yang jarang terlihat akan terasa sebagai pengecualian.
Rezim algoritma tidak menggantikan demokrasi secara formal. Pemilu tetap berlangsung. Institusi tetap berfungsi. Namun infrastruktur perhatian yang membentuk opini publik semakin berada dalam sistem yang tidak transparan dan tidak sepenuhnya berada di bawah kendali publik.
Inilah bentuk kekuasaan baru yang tidak selalu tampak sebagai kekuasaan.
Ia tidak memerintah melalui perintah, tetapi melalui prioritas. Ia tidak mengontrol melalui larangan, tetapi melalui visibilitas. Ia tidak menentukan secara langsung apa yang harus dipikirkan, tetapi menentukan apa yang paling mungkin dipikirkan.
Dalam masyarakat digital, kemampuan untuk mengatur perhatian adalah kemampuan untuk mengatur realitas. Dan kekuasaan yang paling efektif sering kali adalah kekuasaan yang bekerja tanpa perlu menunjukkan dirinya sebagai kekuasaan. ***
Baca Juga
Membangun Fondasi Digital untuk Indonesia yang Lebih Manusiawi
*) Bambang Intojo (Mbin), penulis independen, komunikator sains untuk anak.

