Tunduk kepada PP Tunas, YouTube Siapkan AI Verifikasi Usia Anak
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - YouTube Indonesia memastikan akan tunduk kepada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak alias PP Tunas. YouTube menyiapkan teknologi verifikasi usia berbasis kecerdasan buatan (AI) di Indonesia.
Platform milik Google itu menegaskan, pendekatan yang diambil bukan pembatasan total, melainkan perlindungan berbasis risiko. YouTube juga menyatakan dukungannya terhadap arah kebijakan pemerintah Indonesia.
“Kami selaras dengan tujuan pemerintah Indonesia dalam PP Tunas, dan mengapresiasi pendekatan penilaian mandiri berbasis risiko (risk-based self-assessment),” jelas YouTube Indonesia dalam keterangan resmi, Jumat (27/3/2026).
Baca Juga
Patuhi PP Tunas, Roblox Tambah Kontrol untuk Pengguna di Bawah 16 Tahun
YouTube menilai pendekatan ini lebih efektif dibanding pelarangan menyeluruh. Sistem berbasis risiko akan mampu menghadirkan perlindungan yang terintegrasi sekaligus pengalaman digital sesuai usia.
YouTube Indonesia juga menegaskan komitmennya dalam perlindungan anak di ruang digital. “Kami percaya bahwa anak-anak layak mendapatkan ruang untuk belajar, tumbuh, dan bereksplorasi secara aman di dunia daring,” papar YouTube Indonesia.
Sebagai bukti konkret, menurut manajemen YouTube Indonesia, platform tersebut menyiapkan teknologi verifikasi usia berbasis AI di Indonesia. Teknologi ini akan diluncurkan sebelum tenggat implementasi penuh PP Tunas pada Maret 2027.
Selain itu, YouTube Indonesia akan memperkuat fitur kontrol orang tua melalui ekosistem Google. Fitur seperti Family Link, pengaturan waktu tayang, hingga pembatasan konten terus dikembangkan.
Baca Juga
YouTube juga menyoroti risiko jika pembatasan dilakukan secara menyeluruh. “Pembatasan akun secara menyeluruh bagi pengguna di bawah 16 tahun justru akan membuat kaum muda kehilangan berbagai perlindungan dan fitur keamanan,” tegas manajemen YouTube.
Di sisi lain, YouTube menekankan perannya sebagai platform edukasi digital. Platform ini turut membantu akses pembelajaran lintas wilayah, termasuk bagi siswa di daerah terpencil.
Ekosistem kreator edukasi atau “edukreator” juga berkontribusi terhadap ekonomi digital. Pembatasan akses dinilai berpotensi menghambat pertumbuhan ekosistem tersebut.
Ke depan, platform video terbesar di dunia itu pun menyatakan siap berkolaborasi dengan pemerintah dan pemangku kepentingan. Perusahaan mendorong kebijakan yang tetap menjaga keseimbangan antara perlindungan anak dan akses terhadap peluang digital.

