James Riady: Kita Harus Berubah Terlebih Dahulu Sebelum Mengubah Anggota Keluarga
Poin Penting
|
KARAWACI, investortrust.id — Untuk bisa mengubah anggota keluarga, kita harus berubah terlebih dahulu. Agar bisa membawa anggota keluarga pada Tuhan, kita harus terlebih dahulu menunjukkan iman dan perbuatan yang sesuai dengan hukum Tuhan. Keteladanan adalah bentuk pendidikan terbaik terhadap anggota keluarga. Anak-anak yang sedang tumbuh umumnya lebih cepat menirukan perbuatan daripada kata-kata nasihat orangtuanya.
“Agar bisa membawa anggota keluarga kepada Tuhan, kita harus lebih dulu menunjukkan iman dan perbuatan yang sesuai dengan hukum Tuhan,” kata James Riady, pendiri dan ketua Yayasan Pelita Harapan dalam seminar nasional dengan tema "Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga" di Kampus Universitas Pelita Harapan (UPH), Lippo Karawaci, Banten, Selasa (3/2/2026). Ia menekankan bahwa keteladanan adalah bentuk pendidikan paling kuat, sebab anak-anak —terutama yang sedang bertumbuh— umumnya lebih cepat meniru perilaku dibandingkan kata-kata orang tuanya.
“Ini kesaksian hidup saya. Istri dan anak-anak saya kembali dekat dan mencintai saya setelah mereka melihat dengan kasat mata perubahan dalam hidup saya,” ujar James.Seminar itu dipandu Binsar J. Pakpahan, Ketua STFT Jakarta sekaligus Koordinator Seminar Natal Nasional. Selain James, pembicara lain adalah Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman RI yang juga Ketua Umum Panitia Natal Nasional dan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendikti Saintek), Prof. Dr. Brian Yuliarto. Seminar dengan tema yang sama disebut telah diadakan sembilan kali di sembilan kota.
James memulai dari premis yang mendasar: keluarga adalah fondasi. Bukan hanya fondasi spiritual bagi Gereja, tetapi juga fondasi sosial bagi masyarakat, dan fondasi moral bagi negara. Karena itu, bila sebuah bangsa ingin kuat, dan bila Gereja ingin kuat, keluarga harus terlebih dahulu kuat.
“Semuanya berawal dari keluarga,” kata James. “Keluarga adalah tempat pertama dan utama dalam pendidikan.” Dalam kerangka itu, ia mengingatkan pentingnya sinkronisasi tiga ruang pembentuk karakter: rumah, sekolah, dan tempat ibadat. Menurut James, ketika ketiganya tidak sejalan —misalnya rumah longgar terhadap disiplin, sekolah menuntut disiplin, tempat ibadat menekankan nilai moral— anak justru menerima pesan yang saling bertabrakan. Sebaliknya, ketika ketiganya sejalan, anak mendapat kesempatan terbaik untuk bertumbuh menjadi pribadi mandiri dan berintegritas.
Baca Juga
Natal Nasional Dorong Ketahanan Keluarga sebagai Pilar Persatuan Bangsa
Anak Milik Tuhan
James kemudian mengajak peserta merenungkan cara pandang berbagai peradaban tentang anak. Di negara komunis, kata James, anak dipandang sebagai milik Partai Komunis. Negara menentukan arah dan isi pendidikan, serta membentuk warga sesuai agenda ideologis.
Di banyak tradisi Timur yang dipengaruhi ajaran Konghucu, anak dipandang sebagai milik orang tua. Orang tualah yang menentukan arah pendidikan dan masa depan anak.
Namun dalam iman Kristen, James menegaskan satu pengakuan yang berbeda: Children are a gift from God. Anak adalah anugerah Tuhan. Karena itu, anak bukan milik negara, bukan milik orang tua secara absolut, melainkan milik Tuhan yang dipercayakan kepada orang tua.
“Kita membesarkan anak dengan otoritas yang Tuhan berikan. Otoritas itu harus digunakan sesuai tujuan yang Tuhan berikan kepada kita. Anak-anak harus kita bawa kepada Tuhan,” ujarnya.
Gereja Pertama Ada di Rumah
Dalam kerangka iman, James menyebut keluarga sebagai ecclesia domestica, Gereja dalam rumah tangga. Menurutnya, Gereja pertama yang sungguh-sungguh dialami anak bukanlah gedung gereja, melainkan rumah: tempat iman pertama kali dipelajari lewat ritme hidup sehari-hari.
Baca Juga
Maruarar: Natal Nasional Digelar Sederhana Disertai Penyaluran Bantuan ke Daerah Bencana
Di rumah, anak belajar doa pertama. Di rumah pula nilai Kristiani ditanamkan, bukan lewat ceramah, melainkan lewat kebiasaan: bagaimana orang tua bertengkar dan berdamai, bagaimana kata-kata diucapkan dan ditepati, bagaimana uang dikelola, bagaimana orang tua meminta maaf, dan bagaimana mereka menunjukkan kasih dalam hal-hal kecil.
James merinci wujud kasih yang paling konkret di rumah: kesabaran orang tua, pengampunan antaranggota keluarga, cinta timbal balik suami-istri, dan kesetiaan saat menghadapi keterbatasan hidup.
“Sebelum anak mengenal altar dan mimbar, ia lebih dulu mengenal Tuhan melalui teladan di rumah,” kata James. Karena itu, rumah tangga bukan sekadar ruang privat, melainkan “medan suci” tempat iman bertumbuh secara alami.
Ia menekankan konsekuensi sosialnya: ketika keluarga rapuh, Gereja dan masyarakat ikut melemah. Sebaliknya, ketika keluarga diteguhkan, iman dan kemanusiaan menemukan fondasinya. Keluarga yang hidup dalam kasih akan melahirkan pribadi yang matang dalam iman, warga yang berkarakter, dan bangsa yang beradab.
James juga menyinggung perubahan konteks sosial. Di masa kini, kata “istri harus tunduk pada suami” sering sulit diterima generasi muda. Ia tidak menutup mata terhadap resistensi itu. Namun ia menawarkan jalan bahasa yang lebih dapat dipahami generasi sekarang: suami-istri saling memberi diri, saling melayani, dan saling menguatkan. “Suami-istri saling memberi diri dengan sukacita. Inilah hakikat hidup berkeluarga,” ujarnya.
Dalam bagian yang lebih praktis, James mengingatkan: saat anak bermasalah di sekolah, orang tua jangan buru-buru menyalahkan sekolah. “Akar masalah sering kali ada di rumah,” kata dia.
Di rumah, anak belajar disiplin. Di rumah, anak belajar sopan santun. Di rumah pula anak belajar kejujuran, pola hidup sehat, dan bahkan pengelolaan keuangan. Artinya, keluarga bukan hanya institusi emosional, melainkan institusi pembentuk kebiasaan yang paling menentukan.
Kesaksian Pribadi
James kemudian membawa audiens masuk ke wilayah yang paling personal: kesaksian hidupnya sendiri. Sejak kecil, ia tumbuh dengan gambaran keluarga yang menurutnya “harum”, indah dan utuh. Ia melihat ayahnya sebagai pemimpin yang kuat, sementara ibunya memberi dukungan yang konsisten. Karena itu, sejak usia 16–17 tahun ia sudah membayangkan, jika bertemu pasangan yang cocok, ia ingin segera menikah.
Baca Juga
Hadiri Natal Nasional 2025, Menteri Agama: Indonesia Dibangun Atas Komitmen Hidup Bersama Perbedaan
Ibunya sering mengingatkan satu hal: untuk menjadi sukses, seorang pria harus memiliki istri yang baik. Maka sejak James berusia 18 tahun, sang ibu terus memperkenalkan calon pasangan satu demi satu.
“Dalam pikiran saya, ibu saya mengenal banyak keluarga, dan tahu anak siapa yang baik,” ujar James. Ibunya acap mengajaknya makan malam untuk bertemu dengan calon jodoh.
Pada suatu hari, ketika James berusia sekitar 25–26 tahun, ibunya berkata, “Besok malam makan, ya.” James mengiyakan, meskipun ia sudah menebak: pertemuan itu bukan sekadar makan malam. Dan benar, makan malam itu berlangsung di Sari Pan Pacific. Sang ibu kembali memperkenalkan calon.
James mengaku, selama perkenalan-perkenalan sebelumnya, tidak ada yang membuatnya merasa cocok. Namun, pada perkenalan malam itu, perkenalan ke-34, ia langsung spontan berkata dalam hati, “Nah, ini dia jodoh saya.”
Ia mengejar dan membangun relasi setiap hari selama 60 hari. Pada hari ke-60, mereka bertunangan. Tiga bulan kemudian, mereka menikah dalam pesta besar yang dihadiri sekitar lima ribu orang—karena ayahnya yang mengundang.
Namun, kisah romantis itu tidak otomatis melahirkan rumah tangga yang damai. James mengaku, bahkan pada malam pernikahan, pertengkaran sudah muncul hanya karena hal-hal kecil seperti AC tidak berjalan, dan masalah-masalah sepele lain. Mereka lalu berangkat bulan madu, tetapi konflik tetap terjadi.
Baca Juga
Prabowo Tegaskan Makna Kebersamaan dalam Natal Nasional 2025
“Nah, itu cerita seperti itu,” kata James, menggambarkan bahwa pertengkaran tidak berhenti di satu momen, melainkan menjadi pola.
Waktu berjalan, dan memasuki tahun kedelapan pernikahan, hubungan mereka memburuk. Ia mengaku istrinya membenci dirinya. Anak-anak menjauh, khususnya si sulung, John Riady. Mereka terpisah, bukan hanya secara perasaan, tetapi juga secara jarak: istri dan anak di Los Angeles, James di Jakarta.
Pengalaman pahit itu, menurut James, turut menjelaskan mengapa banyak orang zaman sekarang ragu menikah. Ia mengutip pandangan ibunya yang sering berkata, “Jangan ikut orang Barat,” yang dimaksudkan sebagai kritik terhadap kecenderungan menunda menikah sampai usia 35–37, enggan punya anak, atau hanya ingin satu anak. Menurut James, keraguan menikah sering dipicu oleh terlalu banyak contoh rumah tangga yang berantakan, bahkan dari keluarga sendiri.
Ia menyebut statistik: sekitar 50% pernikahan berakhir cerai dalam 10 tahun. Di kalangan Kristen, katanya, statistik itu tidak lebih baik. Dan karena budaya Timur, banyak yang tetap bertahan, tetapi hubungan mereka “tidak bagus.”
James menggambarkan situasi itu dengan satu kalimat yang keras: “Di mata Tuhan, kami sudah cerai.” Ia mengatakan, ketika suami-istri sudah tidak saling mengasihi—meskipun status pernikahan masih ada, yang tersisa hanyalah bentuk, bukan isi.
“Tuhan, Tolong Saya”
Di tahun 1990—tahun kedelapan pernikahannya—James mengaku bekerja keras dan sangat sibuk, tetapi tidak memiliki damai. Hatinya kosong. Pada akhirnya, ia jatuh dalam depresi.
Pada 8 September 1990, ia sampai pada titik “tidak tahan lagi.” Ia berdoa secara spontan: “Tuhan, tolong saya.” Dalam pikirannya, pertolongan yang ia minta hanyalah agar depresi hilang. Namun, yang terjadi justru jauh lebih dalam: ia merasa Tuhan menjamah dirinya.
Baca Juga
Jalankan Pesan Presiden Prabowo, Natal Nasional 2025 Salurkan Rp 62,8 Miliar Bantuan Sosial
Ia teringat seorang pengusaha pernah memberinya sebuah Alkitab. Ia membuka Alkitab itu, dan “pas” pada ayat ini:
“Nama TUHAN adalah menara yang kuat; ke sanalah orang benar berlari dan ia menjadi selamat.” (Amsal 18:10)
Di titik ini, James tidak hanya menceritakan ayat, tetapi menafsirkan maknanya dalam cara yang panjang dan reflektif: manusia selalu mencari tempat “berlari” ketika hidup tertekan. Ada yang berlari kepada harta, kekuasaan, pengaruh; ada yang berlari kepada relasi, jabatan, dan pengakuan sosial. Namun Amsal mengingatkan: tidak semua tempat tinggi adalah “menara yang kuat,” dan tidak semua kekuatan sanggup menyelamatkan.
Ia menekankan: Alkitab tidak berkata Tuhan membangun menara, melainkan Nama Tuhan itu sendiri adalah menara. Nama-Nya mewakili kehadiran, kesetiaan, dan kuasa yang menyelamatkan. Berlari kepada Tuhan bukan tanda kelemahan, melainkan pengakuan bahwa manusia terbatas, sementara Tuhan tidak.
James juga mengaitkan ayat itu dengan realitas sosial: dalam masyarakat penuh ketidakpastian —ketika sistem kadang gagal melindungi yang lemah, ketika ketimpangan dan ketidakadilan menimbulkan kecemasan— manusia cenderung membangun “menara-menara alternatif”: kekayaan sebagai benteng, status sebagai pelindung, pencitraan sebagai tameng. Namun menara buatan manusia rapuh. Krisis ekonomi, runtuhnya reputasi, atau hilangnya kekuasaan sering membongkar semu rasa aman itu.
Secara psikologis, manusia membutuhkan rasa aman agar tetap utuh. Tanpa rasa aman, jiwa mudah dikuasai kecemasan dan kelelahan emosional. Berlari kepada Tuhan, menurut James, berarti menemukan ruang teduh bagi jiwa: tempat di mana seseorang boleh lelah tapi tanpa kehilangan harapan.
Baca Juga
Serukan Persatuan di Natal Nasional 2025, Prabowo: Tidak Berarti Semua Masuk Pemerintah
Diselamatkan oleh Anugerah
Setelah berdoa, James mengatakan, ia diingatkan akan dosa-dosanya satu per satu begitu jelas, seolah terbaca di depan mata. Sebelumnya, ia tidak pernah merasa dirinya orang berdosa. Namun pada saat itu, ia menyadari sebaliknya. Ia menangis, tetapi bukan hanya karena takut; ia menangis karena sesuatu yang “menjadi nyata”: kabar tentang Yesus yang disalib.
Ia menggambarkan pengalaman spiritual itu dengan cara personal: ia merasa kematian Kristus adalah untuk dirinya, seolah namanya ada dalam hati Kristus saat Ia mati. Pada momen itu, katanya, ada sesuatu terjadi di dalam hatinya yang mengubahnya. Untuk pertama kalinya ia sadar: ia adalah anak Tuhan yang diselamatkan. Ia menangis, tetapi dengan sukacita.
Perubahan batin itu segera berbuah dalam tindakan. Ia menelepon istrinya di Los Angeles dan berkata, “Would you come back?” kalimat yang, menurutnya, belum pernah didengar istrinya. Dua minggu kemudian, istrinya kembali dan menemukan suami yang berbeda. Tiga bulan kemudian, anak-anaknya juga kembali bersama ibunya, termasuk John, yang saat itu masih membenci dirinya.
James mengakui, setelah itu ia harus “memenangkan kembali” hati istri dan anak-anaknya, bukan dengan paksaan, melainkan dengan ketekunan dan perhatian yang konsisten. Ia juga menyebut pemulihan dengan kakaknya yang paling membenci dirinya. Ia datang pertama kali meminta maaf—diabaikan. Ia datang kedua kali—ditolak dan dianggap aneh. Ia datang ketiga kali—kakaknya akhirnya merangkulnya.
“Itu titik paling penting dalam hidup saya,” ujar James, merujuk pada pekerjaan Tuhan memulihkan dirinya dan istrinya, Aileen, juga dengan putra sulungnya, John.
Sebagai wujud perubahan, James mengundurkan diri dari sekitar 50 perusahaan dari jabatan direktur utama. “Dulu semuanya saya dirut,” katanya. Ia menyerahkan pengelolaan kepada profesional. Ia menyimpulkan: hidupnya harus benar-benar berubah.
Ia bahkan memilih pergi ke tempat yang “orang tidak bisa pergi waktu itu.” Ia memilih Papua. Ia belajar ulang: apa itu keluarga. Saat itu, ia mendirikan Yayasan Pelita Harapan agar mendapat kesibukan yang lebih bersentuhan dengan kemanusiaan.
Pernikahan Adalah Ide Tuhan
James menegaskan, pelajaran terbesar yang ia pahami setelah pemulihan adalah ini: pernikahan bukan sekadar urusan pribadi, melainkan ide Tuhan. Tuhan menciptakan alam semesta, dan pada puncak penciptaan, Tuhan menciptakan manusia. Ketika Adam diciptakan, Tuhan berkata tidak baik manusia seorang diri. Lalu Tuhan menciptakan Hawa dan membawa Hawa kepada Adam. Di situlah, menurut James, Tuhan menyaksikan “pemberkatan pernikahan yang pertama.”
Baca Juga
Dubes Palestina Hadir di Perayaan Natal Nasional 2025, Maruarar: Kami Undang Spesial
Dari sana lahir institusi pertama dan paling penting dalam masyarakat mana pun: keluarga. “Bangsa kita harus kuat, dan itu dimulai dari keluarga. Gereja kita harus kuat, keluarga kita harus kuat. Keluarga kuat karena suami-istri harus kuat,” kata James.
Ia juga menegaskan ajaran yang ia sebut paling tegas dalam Kitab Suci: satu laki-laki dan satu perempuan dalam satu pernikahan, tidak bercerai. Ini bukan hanya basis keluarga, tetapi basis Gereja dan bangsa.
Di mana dua orang bersatu di dalam Tuhan, kata James, di situ Gereja hadir—ecclesia domestica. Karena itu ia menilai tema Natal Nasional yang mengangkat keluarga sebagai sesuatu yang tepat: “Karena memang di sana kuncinya.”
Jangan Kehilangan Harapan
James menutup dengan pesan penguatan: jangan kehilangan harapan ketika hubungan dengan anak memburuk. Justru pada saat itulah, orang tua harus berubah. Ketika anak mulai melihat perubahan nyata, —“Eh, papa saya berubah”—mereka perlahan mau mendengar lagi dan merapat kembali.
Ia memberi contoh proses pemulihan yang berjalan bertahap. Suatu kali, saat liburan jauh, ia meminta istrinya membawa anak-anak lain dan bertemu di lokasi. Ia sendiri hanya membawa John, putra pertamanya agar bisa berkomunikasi dengan lebih intensif. “Satu per satu, Tuhan pulihkan,” katanya. Hari ini, ia bersyukur ia dan John sudah bisa berangkulan.
Dari sana, ia menekankan pelajaran iman tentang peran suami: suami harus mengasihi istri dan berkorban untuk istri.
Siap Mati untuk Istri
Menurut James, formula suami-istri memang saling memberi diri. Tetapi bagi suami ada tambahan panggilan: mengasihi istri dengan standar Kristus, yakni bersedia mati untuk istri.
“Mengasihi istri dengan standar apa? Sampai bersedia mati untuk istri,” katanya. Ia lalu mengisahkan cerita yang pernah ia dengar dari ayahnya tentang seorang jenderal besar di RRT. Suatu hari, istri jenderal itu ditangkap dan akan dihukum mati karena terlibat kasus politik besar. Sang jenderal segera kembali dan memohon kepada kaisar agar istrinya diampuni. Bahkan ia menawarkan dirinya untuk dibunuh menggantikan istrinya.
Baca Juga
Hadiri Natal Nasional 2025, Hashim Djojohadikusumo: Selamat Natal dan Tahun Baru
“Saya saja yang dibunuh. Istri saya dilepaskan. Saya yang tanggung jawab,” kata sang jenderal dalam kisah itu.
Kaisar tersentuh oleh kasih dan keberanian jenderal itu, lalu membebaskan istrinya. Ketika istrinya keluar, sang jenderal berkata, kaisar begitu baik. Namun istrinya menjawab dengan kalimat yang menjadi inti cerita, “Saya tidak melihat kaisar sebagai orang hebat, melainkan engkau, suamiku.”
Kisah Hosea
James lalu membawa peserta kepada kisah yang ia sebut sebagai salah satu gambaran kasih terbesar dalam Kitab Suci selain Kristus di kayu salib: kisah Nabi Hosea. Hosea hidup pada abad ke-8 SM, pada masa Israel makmur secara ekonomi tetapi rusak secara moral dan spiritual. Dalam situasi itulah Tuhan memanggil Hosea dengan perintah yang mengejutkan: menikahi seorang perempuan bernama Gomer, yang digambarkan tidak setia dan hidup dalam perzinahan.
Baca Juga
Panitia Natal Nasional: Perubahan Bangsa Dimulai dari Tindakan Kecil di Keluarga
Pernikahan Hosea bukan kebetulan, melainkan tindakan simbolik. Rumah tangga Hosea dijadikan gambaran hidup relasi antara Tuhan dan Israel. Meski telah menikah dan memiliki anak, Gomer meninggalkan Hosea dan kembali hidup dalam ketidaksetiaan. Ia mengejar cinta palsu, bergantung kepada orang lain, lalu jatuh ke dalam kemiskinan dan perbudakan karena utang. Dalam kondisi paling hina, Gomer bahkan dilelang, bukan lagi sebagai istri, tetapi seperti barang.
Lalu Tuhan berfirman kepada Hosea untuk pergi menebus istrinya, bukan dengan amarah, bukan dengan paksaan, melainkan dengan harga tebusan. Hosea membayar mahal —dengan perak dan jelai— lalu membawa Gomer pulang, memulihkan martabatnya, dan mengikat kembali perjanjian hidup bersama.
James menekankan: kisah Hosea bukan pembenaran dosa, melainkan wahyu tentang kasih Allah. Gomer melambangkan umat yang tidak setia; Hosea melambangkan Tuhan yang tetap mengejar, mengasihi, dan menebus meski dikhianati. Kasih itu bukan kasih transaksional, melainkan kasih perjanjian—hesed—kasih yang tetap setia walau disakiti.
Kasih semacam itu, kata James, sering kali menjadi bagian tersulit dalam keluarga. “Sering kali orang yang harus kita cintai justru orang yang sulit kita kasihi,” ujarnya. Dalam situasi sulit, pasangan tetap dipanggil untuk mengasihi dengan segenap hati —meski kadang berat— sebab kasih sejati bukan hanya perasaan, tetapi komitmen yang diwujudkan dalam kesetiaan.

