CSIS Tegaskan Hasil Quick Count Selalu Presisi dengan Penghitungan KPU
JAKARTA, investortrust.id - Centre for Strategic and International Studies (CSIS) menegaskan hitung cepat atau quick count hasil pemilu selalu presisi dengan penghitungan suara resmi yang dilakukan Komisi Pemilihan Umum (KPU). Hal itu terbukti sejak quick count mulai diterapkan di Indonesia pada Pilpres 2004 oleh Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi (LP3ES). Saat itu, hasil quick count LP3ES hanya mempunyai selisih terkecil 0,26% dan terbesar 1,15% dibandingkan rekapitulasi manual oleh KPU.
"Sejak tahun 2004 hingga 2019, hasil quick count dapat secara presisi mendekati hasil penghitungan resmi KPU meskipun hanya mengambil sedikit sampel, yakni 2.000 sampai 4.000 dari ratusan ribu jumlah TPS," kata Ketua Departemen Politik dan Perubahan Sosial CSIS, Arya Fernandes dalam keterangannya, Rabu (21/2/2024).
Baca Juga
CSIS Pastikan Prabowo-Gibran Menang Pilpres 2024 dalam Satu Putaran
Dikatakan Arya, quick count pertama kali dilakukan pada tahun 1986 oleh National Citizens Movement for Free Election (Namfrel) dalam pemilu di Filipina. Quick count tersebut bertujuan untuk mengawasi kualitas pelaksanaan pemilu dan mendeteksi kecurangan pemilu saat Ferdinand Marcos berhadapan dengan Corazon Aquino.
Dalam “Operation Quick Count” tersebut, Namfrel yang menerjunkan lebih dari 500.000 relawan berhasil menunjukkan kemenangan Aquino. Sebaliknya lembaga penyelenggara pemilu justru mengumumkan kemenangan Marcos.
Kondisi tersebut memicu protes massa yang luas hingga menumbangkan Marcos dalam People Power Revolution pada 1986. Pengalaman Filipina lalu diadopsi di beberapa negara, seperti Chile (1988), Panama (1989) dan secara terbatas di Indonesia (1999).
"Warisan berharga Namfrel dalam mendeteksi kecurangan pemilu menjadi sumber pengetahuan penting pemilu di sejumlah negara. Setelah pengalaman Filipina, metodologi pencuplikan sampel mengalami perkembangan pesat," paparnya.
Di Indonesia, pendekatan dan metodologi pelaksanaan quick count mengalami pembaruan yang cepat sejak diterapkan pada Pilpres 2004. Pengembangan metodologi dan sistem teknologi informasi membuat hasil quick count dapat dilaporkan secara cepat dan presisi.
"Sejak pemilu 2004, hingga saat ini Indonesia sudah mempunyai pengalaman 20 tahun dalam melaksanakan quick count. Dengan metode yang sudah teruji dalam lima kali pemilu sejak 2004, dan dilakukan pada ratusan pilkada di Indonesia, hasil quick count 2024 ini diperkirakan hanya berselisih kurang lebih 1% dari penghitungan resmi," katanya.
Quick count bukan hasil resmi pemilu. Namun, quick count dapat memberikan kepastian politik yang lebih terkait hasil pemilu dan memprediksi siapa pemenangnya dengan dibandingkan rekapitulasi berjenjang oleh KPU. Apalagi dengan situasi politik yang cepat berubah seperti Pemilu 2024 saat ini.
"Berdasarkan tahapan pemilu, rekapitulasi penghitungan suara secara nasional baru akan diketahui hasil resminya pada 20 Maret 2024 nanti, meskipun saat ini sudah terdapat hasil rekapitulasi online," katanya.
Baca Juga
Indikator Prediksi Kursi PDIP di DPR Berkurang, Golkar, Gerindra, dan PKB Bertambah
Arya mengatakan, hitung cepat sejumlah lembaga survei mengonfirmasi kemenangan capres-cawapres nomor urut 2, Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka di kisaran 57-58%. Dengan torehan tersebut hampir dipastikan Prabowo-Gibran menang di Pilpres dalam satu putaran.
"Hasil quick count (QC) atau hitung cepat sejumlah lembaga survei mengonfirmasi kemenangan Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming Raka di kisaran 57-58%," katanya.

