Menkes: 4.000 Relawan Kesehatan Dikerahkan di 1.000 Titik Pengungsian Bencana
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memobilisasi relawan kesehatan untuk melayani 1.000 titik pengungsian yang tersebar di wilayah yang terdampak bencana, yakni Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar).
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyebutkan, pihaknya telah mengirim sebanyak 4.000 relawan kesehatan berasal dari berbagai macam institusi dan lembaga, seperti pemerintah, TNI-Polri, Kemenkes, pemerintah daerah (Pemda), perguruan tinggi, serta sejumlah organisasi dari berbagai jenis.
"Kita kirim dan kita putar setiap dua minggu. Jadi setiap saat ada 700-900 relawan kesehatan, tugasnya memberikan layanan kesehatan terutama di posko-posko pengungsian tadi. Karena kita kekurangan tenaga kesehatan di sana," ucap Menkes Budi saat konferensi pers, Rabu (7/1/2026).
Baca Juga
Menkes: Sebanyak 87 RS dan 867 Puskesmas Terdampak Bencana, Mayoritas Sudah Pulih
Menkes Budi menjelaskan, relawan kesehatan yang dikirimkan tersebut akan diprioritaskan untuk ditempatkan sekaligus menjangkau titik-titik pengungsian dan juga kawasan atau desa yang terdampak bencana, serta terisolir.
"Dan mereka memang prioritasnya adalah untuk menjangkau daerah-daerah pengungsian atau desa-desa terisolir, maksudnya terisolir apa, puskesmasnya ada, karena banjir jadi jalannya enggak bisa, dan itu kita kirim relawan-relawannya," ungkapnya.
Lebih lanjut, Menkes memaparkan, untuk relawan Kemenkes yang dikirim pada tahap pertama adalah sebanyak 400 orang pada pekan ketiga dan keempat Desember 2025. Ia pun mengklarifikasi, relawan yang dikirimkan dipastikan berasal dari Indonesia, bukan dari Malaysia seperti yang sempat viral di media sosial.
"Sempat viral karena dibilang pakai baju biru datangnya dari Malaysia, bukan. Itu relawan Kemenkes dikirim lewat Malaysia. Kenapa? karena pesawat ke Jakarta-Medan penuh, harganya jadi mahal. Akhirnya kita belokin dulu relawan kami berangkatnya ke Kuala Lumpur karena lebih ada opsinya, dan lebih murah," beber Menkes Budi.

