Maruarar Sirait: Bantuan ke Palestina Tak Kurangi Porsi Bantuan bagi Saudara Sebangsa
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Bantuan yang hendak diberikan kepada masyarakat Palestina tidak mengurangi bantuan kepada sesama saudara sebangsa. Perayaan Natal adalah momentum untuk berbagi kepada sesama, yang dekat maupun yang jauh yang sedang dirundung malang seperti masyarakat Palestina. Di dalam negeri, Panitia Natal Nasional sudah menunjukkan kerja nyata, yakni menyalurkan bantuan kepada para korban bencana, mulai dari korban erupsi Semeru di Jawa Timur hingga korban bencana banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
“Bagi saya, ini prinsip kemanusiaan dan sesuai dengan pesan utama Natal. Kita tidak boleh membenarkan kekerasan atas nama apa pun, termasuk atas nama negara dan agama. Apalagi jika korbannya adalah anak-anak dan warga sipil seperti yang terjadi di Palestina,” kata Ketua Umum Panitia Natal Nasional 2025 Maruarar Sirait dalam sebuah forum internal persiapan Natal Nasional di Jakarta, Jumat (12/12/2025).
Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan seluruh umat manusia. Sedangkan Natal membawa pesan damai sejahtera kepada semua manusia. Maruarar menekankan keyakinannya bahwa kasih Tuhan tidak pernah dibatasi oleh sekat agama, suku, atau bangsa. Karena itu, penderitaan rakyat Palestina harus dilihat sebagai tragedi kemanusiaan, bukan isu sektarian. “Kasih Tuhan tidak menyelamatkan satu agama, satu suku, dan satu bangsa saja. Itu keyakinan saya. Dan saya sadar, keyakinan itu mungkin tidak selalu diterima semua orang,” jelasnya.
Bantuan kemanusiaan Indonesia kepada rakyat Palestina, demikian Maruarar, bukanlah semata persoalan politik atau keberpihakan ideologis, melainkan panggilan nurani kemanusiaan yang sejalan dengan jati diri bangsa Indonesia dan politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif.
Baca Juga
Natal 2025 Menampilkan Semangat Gotong Royong Antarumat Beragama
Maruarar mengakui pendiriannya kerap menuai kritik, bahkan penolakan, termasuk dari sebagian kalangan seiman. Namun ia memilih berdiri pada keyakinan bahwa tindakan nyata jauh lebih bermakna daripada perdebatan verbal. “Saya tidak mau menjawab kegaduhan dengan kata-kata. Saya ingin menjawabnya dengan tindakan-tindakan nyata,” tegasnya.
Ia lalu mengaitkan sikap tersebut dengan perjalanan hidup dan pengalamannya sebagai politisi minoritas yang tumbuh dan dipilih oleh masyarakat lintas iman. Maruarar mengenang dirinya terpilih menjadi anggota DPR RI dari daerah dengan mayoritas penduduk Muslim — Subang, Majalengka, dan Sumedang — bahkan meraih suara terbanyak sebagai satu-satunya caleg non-Muslim. “Saya dibentuk oleh keberagaman itu. Tahun ini saja saya masih memberangkatkan umrah 50 orang. Itu bagian dari hidup saya,” ungkapnya.
Menurut Maruarar, membantu Palestina tidak berarti mengabaikan persoalan dalam negeri. Ia menolak dikotomi seolah kepedulian global harus mengorbankan kepedulian nasional. “Apakah dengan membantu Palestina kita lalu tidak membantu rakyat kita sendiri? Tidak,” katanya.
Aksi sosial Natal, kata Maruarar, dilakukan dengan memberikan beasiswa senilai Rp 10 miliar kepada 1.000 orang di sepuluh titik, masing-masing 100 siswa dengan nilai Rp 10 juta per orang. Penerima beasiswa adalah pelajar dan mahasiswa. Dana ini disediakan oleh Haji Boy Thohir lewat Yayasan Amanah Bangun Negeri (YABN). Maruarar meminta panitia untuk melaporkan nama penerima di sepuluh titik itu. Dana beasiswa akan langsung ditransfer YABN ke rekening penerima.
Panitia Natal juga memberikan 10.000 paket sembako di sepuluh titik, setiap titik 1.000 paket. Di sepuluh titik ini pula diberikan ambulans, setiap titik tiga ambulans. Sisanya, lima ambulans nanti diatur oleh panitia. “Jadi, di setiap titik ada 1.000 penerima paket sembako, 100 penerima beasiswa, dan tiga ambulans,” jelas Maruarar.
Aksi Natal juga memberikan dana bantuan renovasi 100 gereja sebesar Rp 10 miliar atau setiap gereja Rp 100 juta. Dana Rp 10 miliar adalah donasi James Riady, Chairman Yayasan Pendidikan Pelita Harapan. Enam provinsi di Papua masing-masing mendapatkan lima gereja. NTT kebagian 10 renovasi gereja. Sedangkan Maluku dan Maluku Utara masing-masing memperoleh lima gereja. Sisanya, biaya untuk 50 gereja, dibagi secara proporsional ke 29 provinsi lain, dengan prioritas khusus bagi wilayah terdampak bencana, yakni wilayah Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh, serta provinsi dengan populasi Kristen dan Katolik cukup besar seperti Sulawesi Utara, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah.
Maruarar menjelaskan, aksi Natal untuk membantu sesama saudara sebangsa yang terkena erupsi Semeru dan banjir-longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Selatan sudah disalurkan. Total dana yang disumbangkan mencapai Rp 2,75 miliar. Provinsi Aceh kebagian Rp 550 juta, Sumatera Utara Rp 1,1 miliar (Medan Rp 550 juta dan Tapanuli Utara Rp 550 juta), Sumatera Barat Rp 750 juta, dan Semeru Rp 350 juta. “Bantuan ini sudah disalurkan,” ujarnya.
Bantuan untuk Palestina berasal dari hasil kolekte pada ibadah puncak Natal Nasional, Senin, 5 Januari 2026. Dari sekitar 3.800 undangan yang hadir, sebanyak 3.000 justru diberikan dana bantuan dari aksi Natal Nasional, masing-masing Rp 1,5 juta. Berapa besar kolekte pada ibadah itu, kita serahkan pada penyelenggaraan Tuhan.
Maruarar mengibaratkan langkah kemanusiaan ini dengan keputusan Indonesia mengirim pasukan perdamaian ke luar negeri. “Apakah itu berarti kita sudah kaya dan tidak punya rakyat miskin? Tidak. Tapi kita tetap kirim, karena itu amanat kemanusiaan dan konstitusi,” katanya.
Di tengah kritik dan serangan di media sosial, Maruarar mengaku memilih jalan tenang. Ia menolak menjadikan kebaikan sebagai alat pembenaran diri di hadapan publik. “Bagi saya, yang penting Tuhan tahu apa yang saya kerjakan. Saya berurusan dengan Tuhan, bukan dengan pujian manusia,” ucapnya.
Dari para donatur Natal Nasional, hingga akhir pekan lalu, Sabtu (13/12/2025), panitia menerima sekitar Rp 52 miliar. Minimal 70% dana yang terkumpul digunakan untuk aksi sosial. Sesuai dengan semangat solidaritas dan gotong royong, para donatur berasal dari berbagai agama dan penerima bantuan aksi sosial Natal Nasional juga kalangan non-Kristen.
Maruarar menutup penjelasannya dengan sikap reflektif dan tegas bahwa membantu sesama adalah panggilan iman sekaligus tanggung jawab kewargaan. Sebagai orang Kristen, ia terpanggil untuk mengasihi. Sebagai warga negara Indonesia, ia berkewajiban memperjuangkan perdamaian dunia. “Biarlah tindakan nyata yang berbicara. Sejarah dan nurani akan menilai,” pungkas Ara, nama sapaan Maruarar Sirait.

