Eks Direktur Pertamina Pastikan Proses Blending BBM Sudah Sesuai Prosedur
JAKARTA, Investortrust.id -- Mantan Direktur Rekayasa dan Infrastruktur Darat PT Pertamina Patra Niaga, Edward Adolof Kawi menegaskan seluruh proses pencampuran bahan bakar minyak (BBM) atau blending yang dilakukan PT Pertamina (Persero) telah sesuai dengan prosedur pengawasan mutu yang ketat. Pernyataan tersebut disampaikan Edward saat menjawab pertanyaan dari terdakwa sekaligus beneficial ownership PT Tangki Merak dan PT OTM, Muhammad Kerry Adrianto Riza di sidang perkara dugaan korupsi tata kelola minyak mentah dan produk kilang PT Pertamina di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (11/11/2025).
Dalam persidangan, Kerry bertanya kepada Edward terkait isu yang menyebut oplosan BBM yang disebut-sebut dapat merusak mobil.
"Mungkin Pak Edward bisa bikin masyarakat tenang, istilah oplosan dibilang BBM merusak mobil. Selama sepengetahuan Pak Edward, apakah ada oplosan yang tidak sesuai spek sehingga merusak mobil dan motor?" tanya Kerry di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin, (10/11/2025) malam.
Menjawab hal tersebut, Edward menjamin seluruh prosedur tersebut telah melalui proses quality control.
"Kalau yang dilakukan di terminal Patra Niaga, baik milik maupun sewa, kami sudah melakukan prosedur quality control tidak ada. Kami menjamin (tidak merusak mobil dan motor)," ucap Edward.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Majelis Hakim Fajar Kusuma Aji juga menanyakan perihal blending kepada Edward. Edward mengatakan blending merupakan pencampuran dari dua unsur yang berbeda.
Hakim Fajar lantas menanyakan sejak kapan Pertamina melakukan blending bahan bahan bakar minyak (BBM).
Edward mengungkapkan, Pertamina melakukan praktik blending BBM di Indonesia pertama kali pada tahun 2007, yakni mencampur solar dengan fatty acid methyl ester (FAME) yang berasal dari minyak kelapa sawit mentah (CPO). Pencampuran itu melahirkan produk biosolar.
"Dulu campurannya 2,5%, sekarang sudah 40%, dan tahun depan rencananya menjadi 50%," ujarnya.
Baca Juga
Dirut Pertamina Patra Niaga Tinjau SPBU Yogyakarta Pastikan Mutu BBM dan Pelayanan Sesuai Standar
Sementara untuk bahan bakar bensin, Edward menjelaskan bahwa kajian blending mulai dilakukan sejak 2015 dengan mencampur bensin beroktan rendah RON 88 dengan RON 92 hingga menghasilkan Pertalite dengan RON 90.
"Yang paling tinggi RON 98, yaitu Pertamax Turbo, itu murni. Yang ada blending saat ini hanya yang RON 95 karena ada ethanol-nya. Blending-nya itu Pertamax 92 ditambah Pertamax Turbo 98 dan ethanol," ungkapnya.

