Tutup Apkasi Otonomi Expo, Zulhas: Presiden Prabowo Sedang Menata Ekonomi dan Politik Indonesia
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Menko Pangan, Zulkifli Hasan mengatakan, Presiden Prabowo sedang menata politik dan ekonomi nasional. Penataan ulang ekonomi dilakukan karena permodalan di bank-bank anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) hanya dikuasai 50 grup perusahaan.
“UMKM dapat apa? Sulit,” ujar Zulhas, sapaan akrabnya, saat menutup Apkasi Otonomi Expo 2025, di ICE BSD, Banten, Sabtu (30/8/2025).
Selain masalah permodalan yang hanya terkonsentrasi di konglomerasi, menurut Zulhas, saat ini terjadi distribusi aset yang tidak berimbang. Perbandingan penguasaan lahan oleh pemilik modal dan masyarakat mencapai 80:20.
Baca Juga
Presiden Prabowo Resmi Buka Apkasi Otonomi Expo 2025 di ICE BSD
Untuk itu, Zulhas menilai Prabowo sedang meluruskan cita-cita bangsa Indonesia dengan melawan pasar besar. Seharusnya pengusaha besar tidak boleh masuk sampai tingkat kecamatan dan desa.
“Sekarang, desa di kabupaten seluruhnya punya orang kota. Petaninya sudah berubah menjadi buruh tani,” kata dia.
Untuk mengembalikan dan meredistribusi modal kepada masyarakat, Prabowo menekankan pendirian Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara Indonesia). Danantara diharapkan mampu mengembalikan sektor industri yang dulu dikuasai Indonesia, misalnya industri baja, pupuk, dan industri pertahanan.
Saat ini, Zulhas menerangkan, Prabowo juga ingin menata politik. Salah satu pengungkitnya yaitu biaya politik yang semakin lama semakin mahal.
“Apakah biaya politik akan tinggi terus-menerus? Semua langsung, serba langsung. Biaya bertambah lama bertambah naik. Ini harus diperbaiki. Ini baru mau,” tutur dia.
Sementara itu, Ketua Umum Apkasi, Bursah Zamubi mengungkapkan, Apkasi Otonomi Expo 2025 menarik banyak pengunjung, pembeli, dan investor. Ke depan, perhelatan ini diharapkan menjadi etalase bagi produk-produk unggulan di tiap kabupaten se-Indonesia.
“Sehingga, seluruh produk yang ditampilkan di sini bisa ditransaksikan kemudian antarkabupaten,” ujar Bursah.
Bupati Lahat, Sumatera Selatan itu mengaku telah memesan tas jinjing berbahan sabut kelapa dari Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara. Dengan membeli satu produk itu selama setahun, dia memproyeksikan terjadi transaksi Rp 6 miliar selama setahun.
“Jadi, pulang dari sini, kabupaten perlu bikin outlet yang besar, berisi produk-produk unggulan kabupaten. Dengan begitu, perekonomian daerah benar-benar hidup untuk sentra pertumbuhan baru. Ini untuk merespons kebijakan nasional, yaitu pertumbuhan ekonomi 8%” tegas dia.
Di sisi lain, Ketua Pelaksana Apkasi Otonomi Expo 2025 sekaligus Direktur Eksekutif Apkasi, Sarman Simanjorang memaparkan, terdapat 185 peserta pameran, terdiri atas 115 peserta dari pemerintah kabupaten, dua kementerian dan lembaga (K/L), 20 peserta kalangan swasta, 28 dari pelaku UMKM, dan 10 dari media massa.
Menurut Sarman, hingga Sabtu (30/8/2025) pukul 14.00 WIB, terdapat 9.125 pengunjung yang melihat-lihat berbagai komoditas unggulan daerah yang dipamerkan.
“Transaksi yang langsung di stand (total) sebesar Rp 8 miliar. Apkasi Otonomi Expo sebetulnya bukan targetlangsung. Transaksi langsung itu bonus,” tutur dia.
Baca Juga
4 Orang Tewas dalam Unjuk Rasa di Jakarta dan Makassar, Menko Zulhas Ajak Anggota Apkasi Berempati
Sarman berharap Apkasi Otonomi Expo tetap menghasilkan transaksi investasi jangka panjang antarpembeli (buyer to buyer). Selama gelaran, terjadi beberapa penandatanganan nota kesepahaman. Pertama, PT Indah Maju Bersama terkait pengembangan nilam untuk minyak yang ditaksir senilai Rp 2 miliar.
Kedua, PT Klumbayan Gold Farm dan Kabupaten Pringsewu dengan nilai investasi sekitar Rp 3 miliar berupa kerja sama eksplorasi perdagangan dan kegiatan produksi gula aren untuk ekspor, pendataan dan pembinaan petani kakao, serta pembinaan pertanian dan perkebunan cerdas.
Ketiga, PT Klumbayan Gold Farm dan Kabupaten Fakfak Barat berupa pengembangan investasi sebesar Rp 300 juta, dengan target pembelian komoditas kemenyan.
“Ada pula penandatangan MoU pembelian kopi 20 ton per musim antara Kabupaten Muara Enim dan PT Kirana Tata Nagari,” kata dia.

