SBY Ramal Masa Depan Nasib Geopolitik Dunia Ada di Tangan Tiga Orang Kuat
JAKARTA, investortrust.id - Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memberikan pandangan terkait masa depan kondisi geopolitik dunia ke depan. Ia meramal ke depan nasib stabilitas geopolitik nantinya akan berada di tangan tiga orang pemimpin terkuat di dunia.
SBY menyebut ketiga orang tersebut tidak lain adalah Presiden China Xi Jinping, Presiden Russia Vladimir Putin dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Adapun SBY mengatakan ketiganya memiliki ambisi untuk membawa kejayaan kepada masing-masing negara yang dipimpin.
"Mereka punya hak, tidak ada yang bisa menyalahkan. Trump ingin Amerika great, Xi Jinping begitu juga, Putin juga begitu. Mereka saling berkompetisi untuk menjadi the real world leader, berkompetisi untuk menjadi the real pemimpin dunia," ungkapnya saat menyampaikan paparan dalam Paramadina Presidential Lecture di Jakarta, Rabu (26/2/2025).
Baca Juga
SBY Minta Indonesia Abaikan Sikap Trump soal Paris Agreement
Kemudian SBY menjelaskan ketiganya memiliki pengaruh besar bukan karena tanpa sebab. Ia menyebut baik China, Russia dan AS memiliki tiga elemen penting yang dapat membawa ketiga negara dapat bermain di percaturan geopolitik dunia.
Ketiga elemen tersebut diungkap oleh SBY antara lain adalah kekuatan ekonomi, kekuatan militer dan kekuatan teknologi.
"So, mari lihat ke depan. Skenario yang mungkin terjadi, ke depan," ujarnya.
Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat itu juga mengatakan, ke depan setidaknya akan ada tiga skenario yang kemungkinan bakal terjadi. Skenario-skenario ini, lanjutnya, akan sangat berpengaruh terhadap kondisi geopolitik dunia ke depan.
SBY menuturkan skenario pertama adalah di antara ketiga pemimpin dunia tersebut akan saling berkompetisi dan menjadi rival satu sama lain. Skenario kedua adalah bagaimana ketiga pemimpin dunia tersebut akan saling duduk bersama dan berkolaborasi.
"Nah, skenario yang ketiga, tolong disimak baik-baik. Sekarang ini, di antara Xi Jinping, Putin, sama Trump, Xi lebih dekat ke Putin. Siapa tahu nanti, Putin lebih dekat ke Trump, ini juga satu hal yang bisa mengubah jalannya sejarah. Tanda-tandanya ada," papar SBY.

