Menteri Ara Sebut Akan Relokasi 2.700 Rumah bagi Korban Erupsi Gunung Lewotobi
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait menyatakan, pihaknya akan memberikan 2.700 unit rumah untuk korban-korban terdampak erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki di Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Awalnya KEmenterian Perumahan hanya akan menyediakan 1.100 unit rumah.
''2.700 rumah kita siapin. Tapi kita mencari titik (lahan) yang tepat, kita harus dialog, tanya sama rakyatnya, ibu-bapaknya, anaknya, saya tanya satu-satu. Karena itu kan memindahkan kehidupan, bagaimana rumah tinggal, tempat bekerja, rumah ibadah, kegiatan ekonomi, sekolah, itu kehidupan yang berubah, jadi kita mesti hati-hati,'' ucap Ara, sapaan akrab Maruarar, saat ditemui di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Jakarta, Jumat (15/11/2024).
Sebelumnya, Menteri Ara mengungkapkan, pihaknya bakal merelokasi sebanyak 1.100 unit rumah bagi korban terdampak erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).
“Rumah yang kita siapkan 1.100 (unit) dalam keadaan baik dan ready. Nah, tentu ada tahapan verifikasi oleh Pak Nusron (Menteri ATR/BPN) karena tanahnya mesti clear and clean. Dari aspek lain, dari tempat bekerja karena kebanyakan (warga) petani, kita juga pertimbangkan titiknya tidak terlalu jauh dari tempat bekerja. Jadi, variable-variabel itu tidak jauh dari antara rumah dengan tempat bekerja dan dari titik lokasi yang aman. Itu pertimbangan kami,” papar Ara, sapaan akrab Maruarar, di Kantor Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta Timur, Selasa (12/11/2024).
Namun demikian, Menteri Ara tidak memperinci total anggaran yang akan dialokasikan untuk 1.100 rumah tersebut. Tetapi, dalam perhitungannya biaya yang dibutuhkan untuk merenovasi satu unit rumah yang rusak adalah sebesar Rp 60 juta.
“Kita nanti sumber dana itu dari APBN, APBD dan juga dari pihak-pihak swasta. Jadi semangat ‘gotong royong’ memang sudah makin kuat dalam negara kita. Kalau yang (rusak) berat kan pasti Rp 60 juta. Tapi kalaupun itu kurang ya mesti kita tambahkan,” ujar dia.
Direktur Jenderal Perumahan Kementerian PKP, Iwan Suprijanto menuturkan, pihaknya telah mencatat korban terdampak sebanyak 2.900 kepala keluarga (KK) di dua desa dengan luas masing-masing 50 hektare (ha).
“Tadi yang terdampak itu kurang lebih 2.900 KK, tapi rumah terdampak estimasinya baru 2.390 (unit). Kemudian, ada dua lokasi yang sudah ditentukan, di Desa Kobasoma dan Desa Konga tadi, masing-masing tanahnya sekitar 50 hektare,” imbuh Iwan.
Terkait relokasi 1.100 rumah, lanjut Iwan, pemerintah telah menyiapkan rumah tahan gempa yakni Rumah Instan Sederhana Sehat (RISHA) yang tersebar di Pulau Sumatera dan Jawa.
“Kami selama ini menganut manajemen stok untuk penanganan bencana. Penanganan bencana di Lumajang, Cianjur, Gunung Ruang, Agam, Tanah Datar, dan di Ternate, itu menggunakan stok yang dulu kami siapkan di beberapa titik lokasi. Ada di Medan, Padang, Palembang, Bandung, Surabaya, dan di beberapa tempat yang lain,” terang Iwan.
“Setelah digunakan (RISHA) yang di Agam, Tanah Datar, dan Gunung Ruang, ini kami punya stok terakhir sekitar 1.100 (unit). Posisinya tersebar, hari ini tadi sudah saya minta untuk dicek, diinspeksi kesiapannya untuk dikirim. Kurang lebih satu minggu, saya geser ke Surabaya. Dari Surabaya nanti diangkut kapal ke Larantuka,” sambung dia.
Kepala BNPB, Letjen Suharyanto juga memaparkan, hingga saat ini ada sekitar 11.553 warga yang sudah dievakuasi dan tersebar di dua titik pengungsian.
“Kemudian untuk pengungsian tercatat sampai hari ini ada 11.553 orang. Sekarang ada di delapan titik pengungsian terpusat, enam titik di Kabupaten Flores Timur dan dua titik di Kabupaten Sikka,” ungkap dia.
Ia menambahkan, korban yang berada di titik pengungsian Kabupaten Sikka akan segera dipindahkan dikarenakan sebaran abu vulkanik yang terbang ke arah Barat.
“Nah, (titik pengungsian) yang di Kabupaten Sikka ini pun secara lambat laun nanti akan dipindah ke Flores Timur. Sudah ada beberapa titik nanti ini dalam proses pemindahan. Kenapa dipindahkan? Karena abu itu mengarahnya ke barat dan barat daya sehingga tempat pengungsian di Kabupaten Sikka ini terdampak abu (vulkanik),” terang Suharyanto.

