CSIS Beberkan Penyebab Suara Prabowo Melejit dan Ganjar Anjlok
JAKARTA, investortrust.id - Centre for Strategic and International Studies (CSIS) membeberkan penyebab suara capres-cawapres nomor urut 2, Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka melejit di Pilpres 2024. Di sisi lain, suara capres-cawapres nomor urut 3, Ganjar Pranowo dan Mahfud MD anjlok.
Berdasarkan hasil quick count CSIS bersama Cyrus Network, Prabowo-Gibran diperkirakan meraup sekitar 58,25%. Padahal, dalam beberapa survei sebelum pemilihan, suara Prabowo diestimasi sebesar 51-52%. Dengan menggunakan toleransi kesalahan survei atau margin of error, suara Prabowo-Gibran diestimasi hanya menyentuh sekitar 54-55%..
Di posisi kedua, terdapat capres-cawapres nomor urut 1, Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar (Cak Imin) dengan 24,91%, dan Ganjar-Mahfud berada di urutan ketiga dengan 16,84%.
"Kemenangan telak Prabowo-Gibran dapat dianalisis dari tiga kemungkinan," kata Ketua Departemen Politik dan Perubahan Sosial CSIS, Arya Fernandes dalam keterangan pers yang dikutip Kamis (22/2/2024).
Baca Juga
CSIS: Pemilih Prabowo-Gibran Didominasi Generasi Muda, Anies-Cak Imin 40 Tahun ke Atas
Arya Fernandes membeberkan, melejitnya suara Prabowo karena selerah pemilih kepada pemimpin kuat atau tegas dan berwibawa naik dari 16,4% pada 2019 menjadi 23% pada 2023. Citra pemimpin kuat itu masih tertanam kuat pada sosok Prabowo meski dalam perjalanan kampanye Pemilu 2024 muncul imej gemoy.
"Setelah dilantik Oktober 2024 nanti, Prabowo adalah presiden dengan latar belakang militer ke-2 setelah reformasi yang berhasil menjadi presiden, setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 2004-2014," kata Arya Fernandes.
Di sisi lain, ketertarikan pemilih terhadap pemimpin yang merakyat dan sederhana turun. Saat ini ketertarikan pemilih pada pemilih merakyat dan sederha berada pada kisaran 13%. Kondisi tersebut berbeda dengan temuan CSIS sebulan sebelum pemilu 2019. Saat itu lebih dari sepertiga pemilih atau sekitar 37,9% mengaku tertarik pada sosok pemimpin yang merakyat dan sederhana.
"Kondisi tersebut yang mungkin salah satunya membuat Ganjar yang memersepsikan diri sebagai capres wong cilik kesulitan mendapatkan dukungan pemilih," katanya.
Selain itu, melonjaknya suara Prabowo-Gibran karena split-ticket voting yang terjadi pada pemilih partai koalisi Anies-Cak Imin dan Ganjar-Mahfud. Dikatakan, dalam survei CSIS pada 13-18 Desember 2023 menemukan hanya 64,8% dari total pemilih PDIP yang mengaku memilih Ganjar-Mahfud.
"25,4% memilih Prabowo-Gibran dan 5,6% memilih Anies-Muhaimin. Berbeda dengan kondisi 2019, di mana 88,8% pemilih PDI Perjuangan memilih Joko Widodo – Ma’ruf Amin," katanya.
Menurut Arya, kondisi tersebut terjadi karena pemilih PDIP mengalami dilema saat Jokowi yang juga kader PDIP mendukung pasangan Prabowo-Gibran. Selain itu, split-ticket voting juga terjadi pada partai koalisi Anies-Muhaimin. Hampir sepertiga dari pemilih PKB dan Nasdem memilih Prabowo-Gibran.
"Dari sisi loyalitas, angka straight-ticket voting tertinggi berada pada pemilih Gerindra. Survei CSIS menemukan, sebesar 91,6 persen dari pemilih Gerindra memilih Prabowo dan sebesar 68,6% dari pemilih PKS memilih Anies Baswedan," katanya.
Kondisi tersebut juga terekam dalam survei CSIS pada 15-22 Maret 2019. Survei CSIS menemukan 83,5% pemilih Gerindra dan 71,4% dari pemilih PKS mengaku memilih Prabowo-Sandiaga Uno.
Baca Juga
CSIS Tegaskan Hasil Quick Count Selalu Presisi dengan Penghitungan KPU
Kemudian, kemenangan Prabowo juga ditopang persepsi masyarakat yang positif terhadap kinerja pemerintahan Jokowi dan situasi ekonomi yang dipersepsikan baik karena meningkatnya alokasi anggaran program bantuan sosial. Sebesar 74% responden dalam survei CSIS pada Desember 2023 mengaku puas dengan kinerja pemerintahan, 86,1% percaya kepada Jokowi, serta 31,6% rumah tangga mengaku pernah menerima bantuan sosial.
"Dalam kondisi di mana pemerintah mempunyai power yang kuat serta kecenderungan dukungan politik kepada Prabowo-Gibran tentu akan menyulitkan bagi
kandidat lainnya untuk bertarung secara kompetitif," paparnya.
Tak hanya itu, Arya menjelaskan, kemenangan Prabowo-Gibran juga tercapai karena perubahan strategi tim kampanye yang menyasar kampanye di platform Tik Tok serta keterlibatan influencer berpengaruh dalam tim kampanye nasional. Konten-konten Prabowo yang direproduksi di Tik Tok hampir selalu menjadi viral dan ditonton puluhan juta orang.
"Bila memasukkan keyword Prabowo Subianto pada fitur pencarian di TikTok lalu memilih fitur Top, akan ditemukan banyak video Prabowo yang telah ditonton jutaan hingga puluhan juta orang," ungkapnya.

