IHSG Anjlok Dalam, OJK Buka Suara hingga Beberkan Strategi Pemulihan
JAKARTA, investortrust.id – Otoritas Jasa Keuangan membeberkan sejumlah strategi untuk mengatasi berlanjutnya tekanan terhadap indeks harga saham gabungan di Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam beberapa pekan terakhir.
Berdasarkan data month to date (mtd) Juni 2024 telah terjadi penurunan IHSG sebanyak 6,49% dari 7.234 menjadi 6.764. Bahkan, kini IHSG telah berada di level terendah baru terhitung sejak November 2023.
Baca Juga
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK (Otoritas Jasa Keuangan) Inarno Djajadi mengatakan, OJK akan berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, dan Lembaga Pinjaman Simpanan dalam payung KSSK untuk menjaga stabilitas sistem keuangan.
OJK juga menghimbau kepada para pelaku pasar untuk bersikap rasional dan mempertimbangkan faktor fundamental maupun sentimen dalam penentuan keputusan berinvestasi. Selain itu, OJK akan melakukan close monitoring bersama dengan SRO terhadap transaksi untuk memastikan pasar berjalan secara teratur, wajar, dan efisien.
“OJK juga akan melakukan brainstorming dengan SRO, asosiasi, pelaku pasar untuk mendapatkan insight, masukan, dalam pengembangan kebijakan dan peraturan ke depan,” ujar Inarno dalam keterangan resmi yang dikutip Jumat (14/6/2024).
Terkait faktor penekan indeks, Inarno mengatakan, pergerakan IHSG dipengaruhi oleh faktor fundamental dan sentimen baik di global maupun domestik. “Dari sisi fundamental emiten, berdasarkan rilis data keuangan triwulan I-2024, lebih dari 50% emiten berkinerja turun dan data agregat profit tercatat turun 10,6%, dibandingkan dengan triwulan I 2023,” jelasnya.
Baca Juga
Skema 'Full Call Auction' Dikecam Investor, Ini Kata Sekuritas dan Analis
Pergerakan indeks, terang dia, juga dipengaruhi atas sentiment dari Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dan Menteri Keuangan Ibu Sri Mulyani Indrawati yang mengungkap sinyal bahwa kondisi perekonomian global masih diliputi ketidakpastian yang berpotensi mempengaruhi tekanan terhadap ekonomi dalam negeri.
Di sisi lain, Indonesia juga akan menghadapi tantangan imbas dari pelemahan ekonomi negara maju, harga komoditas yang mempengaruhi inflasi, berlanjutnya era suku bunga tinggi serta volatilitas nilai tukar dan risiko konflik geopolitik. Adanya faktor suku bunga tinggi, yang terjadi di global maupun domestik, juga akan mempengaruhi akselerasi kinerja emiten di bursa.
Grafik IHSG

